Rabu, 01/07/2020, 19:30:12
Mengenali Diri dengan Cara yang Mudah
Resensi Oleh: Siti Vitandari Yudmianti

Judul Buku: Memahami Diri Sendiri. Penulis: Sofia Alvirzhie. Halaman: IV + 204. Tahun Terbit: 2020. Penerbit: Checklist, Yogyakarta. ISBN: 978-623-7661-01-6.

DI manapun, kapanpun, dan siapapun kita, kita adalah kita yang berbeda dengan orang lain, yang memiliki ciri dan karakter sendiri. Tidak ada yang bisa memahami kita lebih dari diri kita sendiri. Namun, banyak orang mengeluh tidak tahu siapa diri mereka, tidak tahu apa yang mereka butuhkan dan inginkan.

Banyak orang yang acuh pada diri sendiri. Juga banyak di antara kita yang belum menemukan jati diri, banyak dari kita yang belum mengenal diri sendiri. Apakah itu masalah? Tentu. Kita adalah satu-satunya yang paling bertanggung jawab akan diri kita sendiri. Jika tidak mengenal diri sendiri, lantas bagaimana Anda bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan, juga memberikan kebagaiaan terhadap diri sendiri?

Meski begitu, tidak semua orang bisa belajar memahami diri, hanya dari pengalaman tentang bagaimana cara mengenali diri sendiri. Banyak orang membutuhkan orang lain atau hal lain sebagai faktor pendukung kita mengenal diri kita sendiri. Jika orang lain hanya bisa memberikan nasihat kepada kita, salah satu hal yang dapat membantu kita mengenali diri kita sendiri adalah buku. Di sinilah buku Memahami Diri Sendiri terbit untuk menjawab keresahan kita semua.

Buku ini menyampaikan pemahaman tentang bagaimana menerima diri sendiri dengan memahami dan mentoleransi semua yang dimiliki diri, baik kekurangan maupun kelebihan. Bahasa yang digunakan sangat santai namun berbobot dan mendalam mengenai pembahasan tentang diri. Bukan pembicaraan santai yang kosong tanpa isi dan tak meninggalkan bekas apapun. P

enulis berhasil menggunakan kemampuan merangkai katanya sehingga dapat menyajikan bacaan yang menarik melalui kalimat yang menggelitik. Ketika membaca buku ini, pembaca bisa menelusuri dirinya sendiri melalui diri si penulis yang diceritakan di dalam buku.

Sofia membawa pembaca pada pemahamannya yang didapatkan sebagian besar dari pengalaman pribadi. Ia mengemas dalam bentuk cerita yang mampu membuat pembaca paham akan maksud yang ingin disampaikannya. Di mana dia ingin memberitakan bahwa kita sebagai manusia yang berpribadi, harus bisa mengaktualisasi diri tanpa membebani diri.

Buku ini dilengkapi gambar-gambar sketsa kartun yang menarik disetiap pokok-pokok bahasan yang dinilai penting. Dengan gambar tersebut pembaca menjadi lebih imajinatif dalam memahami maksud dari si penulis, sehingga pengertian yang ingin disampaikan dapat dengan mudah diterima oleh pembaca.

Tidak seperti buku-buku motivasi lainnya yang pernah peresensi baca, di mana kalimat yang digunakan rata-rata terlalu ilmiah dengan bahasa yang benar-benar mengajari pembacanya. Namun, terkesan terlalu baku dan formal. Buku ini mampu mengulas berbagai teori psikologi terkait aktualisasi diri dengan bahasa bercerita yang membuat pembaca tidak mudah bosan dan cenderung tertarik untuk terus membacanya.

Berbagai pengalaman menarik yang dimiliki penulis, diceritakan dengan gaya penyampaian yang cukup aktif dan tidak menghakimi. Juga berbagai pengalaman tokoh-tokoh dunia ternama yang begitu inspiratif, diceritakan dengan kemasan berbeda, yang langsung dikaitkan dengan hal positif yang dapat diambil dari pengalaman mereka, terkait pentingnya memahami diri sendiri untuk menggapai cita-cita yang kita inginkan. Baik itu kesuksesan maupun kebahagiaan.

Sofia mengatakan bahwa manusia memiliki the power of fear, yakni bagian dari bentuk perlawanan atas perasaan tidak nyaman. Individu yang melawan rasa tidak nyaman yang dibencinya dengan memberikan perhatian dan mempertanyakan segala hal (curiosity), sembari tetap melawan dan berharap bahwa permasalahan yang membuatnya tidak nyaman itu menghilang sehingga ia dapat menoleransi rasa sakit emosional yang dialaminya (hlm 83-84).

Sofia menyatakan pentingnya toleransi terhadap diri sendiri yang ia sadari menjadikannya mampu menerima dirinya, bahwa menoleransi atau menerima rasa sakit emosional yang kita miliki akan menjadi kekuatan bagi kita untuk melawan rasa takut atau emosi negatif yang selalu muncul beriringan dengan datangnya rasa sakit emosional yang tentunya kurang menguntungkan bagi diri kita.

Dengan menoleransi diri sendiri, kita dapat menerima kekurangan diri, dengan begitu kita juga bisa menerima setiap keputusan yang kita ambil untuk diri kita, tanpa keraguan dan penyesalan dikemudian hari. Apabila Anda tidak bisa menghargai keputusan yang hendak Anda lakukan, itu berarti kemungkinan besar Anda tidak bisa menghargai diri Anda sendiri (hlm 93).

Mentoleransi diri sendiri untuk bisa memahami dan menerima diri sendiri juga artinya bahwa kita harus menerima diri kita apa adanya, bahkan meski berbeda dengan orang lain. Sofia mengatakan bahwa kita tidaklah bijaksana bila kita menggantungkan unconditional positive regard atau penghargaan tanpa syarat kepada orang lain, seperti pada masa kanak-kanak. Bahwa itu hanya akan membuat kita merasa dikhianti ketika apa yang kita harapkan seperti orang lain tidak kita dapatkan, sehingga perasaan semacam insecure dengan mudah membunuh pribadi kita (hlm 132).

Sofia mengajarkan kepada kita bahwa kita harus menerima perbedaan yang kita miliki, seperti yang dikatakannya bahwa tidak masalah Anda tidak sama dengan orang lain. Konsep adalah gambaran umum yang seharusnya terjadi, fan menjadi khusus bukan kesalahan atau penyakit yang perlu membuat Anda malu (hlm 109).

Jadi, bagi Anda yang masih belum bisa memahami diri sendiri dan ingin tau cara mudahnya, buku ini cocok untuk Anda baca dan resapi karena Anda tidak akan merasa dihakimi di sini. Dengan memahami diri sendiri kita akan mampu mengambil keputusan dengan tepat.

(Siti Vitandari Yudmianti adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tinggal di Dusun Sawangan, Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. CP: 0813-2909-3154)


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita