Rabu, 01/07/2020, 10:01:04
Orang Cepu Borong Buku-Buku Sastra Berbasis Tegalan
Laporan Tim PanturaNews

Ali Nursalim berpose dengan buku sastra Tegalan di kota tempatnya merantau. (Foto: Dok)

PanturaNews (Blora) - Seorang warga Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, memborong buku puisi berbasis Tegalan karya Lanang Setiawan dan beberapa seniman Tegal lainnya.

Karyawan bank swasta bernama Ali Nursalim, asli penduduk Kelurahan Debong Kidul, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal itu, mengaku memborong buku sastra Tegalan, karena 16 tahun bermukim di tanah rantau membuat dirinya rindu terhadap bahasa Tegal, namun kesulitan mendapatkan buku-buku berbahasa ibunya.

Menurutnya, untuk menghapus kerinduannya itu, Ali Nursalim mendapatkan kontak nomer hape Lanang Setiawan dari temannya yang ada di Tegal.

"Dari nomer hape mas Faiz saya mendapatkan nomor hape Lanang Setiawan," tutur Ali menceritakan awal kenal nama Lanang dan membeli beberapa buku karyanya secara bertahap.

Dikatakan, ia memborong buku-buku sastra produk Komunitas Sastrawan Tegalan (KST), diakuinya karena ingin menghapus rasa rindu terhadap bahasa Tegal.

"Sebagai orang yang dilairkan di Tegal, embelas tahun hidup di tanah rantau, kangen berat saya dengan bahasa ibu sebegitu rupa. Alhamdulillah lewat teman Faiz yang ada di Tegal saya mendapatkan nomor hape mas Lanang Setiawan dan langsung memborong buku-buku sastra Tegalannya," terangnya.

Ditambahkan, ia memilih buku-buku karya Lanang karena dia cukup getol menerbitkan buku-buku sastra Tegalan, baik berupa puisi, Kur 267, WangsiKur, dan beberapa buku karya seniman Tegal lainnya.

"Pendeknya yang berbasis Tegalan saya beli," ujar Nur Nursalim menceritakan mendapatkan buku-buku sastra Tegalan.

Menjawab pertanyaan, Ali mengaku, tertarik pada buku-buku Tegalan selain karena rasa rindu pada bahasa ibu, kecuali itu ingin nguri-nguri budaya Tegal dan meningkatkan kemampuan toefl terhadap bahasa Tegal. Maklum nyonge saiki ora nang Tegal maning tapine nang Cepu, Blora.

"Buku-buku Tegalan baik berupa puisi atau Wangsi (Wangsalan Puisi) Tegal itu bahasanya khas. Menikmati karya-karya mas Lanang dan lainnya seperti halnya saya sedang menonton stand up komedi. Wangsalan maupun ungkapan puisi mereka full punch betul.  Ibarat tinju, karya sastra Tegalan mereka laiknya strategi bras bres mengalahkan lawan. Tidak perlu kebanyakan foreplay, langsung jlab jleb. Musuh pun tiarap!" pungkasnya.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita