Selasa, 30/06/2020, 21:01:29
Berjuang Meski Sama-Sama Dalam Kesulitan
Resensi Buku Oleh: Meti Fitrotunnisa Karina

Ilustrasi

Judul: Orang-orang Biasa. Pengarang: Andrea Hirata. Penerbit: Bentang Pustaka. Halaman: 300 halaman. Tahun terbit dan cetakan: Februari 2019, Cetakan Pertama. ISBN: 978-602-291-524-9

NOVEL adalah karangan prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang yang berada di sekelilingnya, dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku dalam kisah yang diceritakan.

Bagi pencinta novel karya Andrea Hirarta pasti sudah pada tahu bahwa tahun 2019 lalu, ia menerbitkan novel fiksi terbarunya yang berjudul Orang-orang Biasa. Novel ini menjadi novel terbitan ke-10 bagi Andrea Hirata.

Pada novel ini mengangkat tema criminal dan pendidikan, dengan novel ini juga kita disuguhkan dengan berbagai cerita yang sedikit berbeda dengan novel-novel Andrea Hirarta sebelumnya. Seperti yang terdapat dalam judulnya, buku ini terdapat tokoh orang-orang biasa, mereka tidak istimewa, mereka juga hanya bagian kecil dari kampung belantik.

Dalam novel ini diceritakan tentang 10 kolompok orang-orang biasa yang berkawan sejak kecil dan memliki nasib kurang baik sejak kecilnya. Mereka merupakan penghuni bangku belakang sekolah selama bertahun-tahun. Mereka sejak duduk dibangku SD tidak mempunyai cita-cita di masa depannya kelak, karena ia tahu cita-cita tidak akan ada hasilnya buat orang miskin seperti mereka.

Sejak kecil hidup mereka tidak mengalami perubahan selalu merasakan kekurangan atau hidup miskin bahkan sampai mereka dewasa. Setelah dewasa mereka hidup dengan berjalannya waktu yang membuatnya tetap hidup menyedihkan selayaknya orang-orang biasa tanpa ada target.

Mereka memiliki pekerjaan masing-masing dan juga urusan masing-masing untuk bertahan hidup. Suatu ketika salah satu dari 10 kelompok orang-orang biasa ini memiliki seorang anak yang yang diterima dan masuk keperguruan tinggi fakultas kedokteran yang mahal.

Dinah begitu nama teman mereka, anak Dinah yaitu Aini merupakan anak yang cerdas dan sudah berhasil masuk ke fakultas kedokteran namun tidak dapat melanjutkan langkahnya menjadi dokter karena terkendala biaya yang besar sedangkan dia berasal dari keluarga yang tidak berada.

Cerita ini berada di kota Bengkulu yang naif. Penduduknya telah lupa akan berbuat jahat. Ibunya hanya seorang pedagang mainan anak dan ayahnya sudah sakit semenjak Aini duduk di bangku, sehingga Dania menjadi janda dengan 4 anak.

Awalnya anak-anaknya tidak berani mempunyai cita-cita karena untuk belajar saja sudah kesulitan. Aini adalah anak sulung Dania yang memiliki sosok seperti dirinya semasa sekolah. Tetapi Aini berubah ketika ayahnya sakit, dan inilah yang membuat Aini ingin sekali menjadi dokter.

Karena tidak dapat biaya untuk masuk Universitas dan sudah tidak tahu akan dapat bantuan dari manapun, lalu ia mengadu masalah ini pada Debut. Mengumpulkan kawan-kawan pecundangnya, mereka semua merencanakan sesuatu yang luar biasa yang akan menjadi tranding topik di kotanya yaitu kota Belantik.

Akhirnya teman-teman dari ibunya mencoba membantu untuk mencari biaya. Namun cara mereka tergolong aneh karena mereka berniat mencuri salah satu bank di kota tersebut. Namun ternyata pimpinan perampokan tersebut memiliki rencana lain.

Dalam pelaksanaan perampokan itu mereka memang melakukan perampokan di bank namun tidak mengambil sepeserpun uang dari bank tersebut. Mereka kemudian menuju salah satu toko emas yang terkenal disitu, dan menggasak uang yang ada di gudangnya. Uangnya berjumlah sekitar 20miliar dan ternyata uang tersebut merupakan uang selundupan para koruptor yang dititipkan kepada pemilik toko.

Setelah berhasil mendapatkan uang di toko tersebut, Dinah tidak ingin menerima uang tersebut karena uang haram. Akhirnya uang tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian daerah setempat dan pemilik toko pun di tangkap.

Kelebihan dalam novel ini meenggunaan bahasa lokalnya tidak banyak, benar-benar minim sajak-sajak yang berbunyi dan kalimatnya sedikit mendayu-dayu. Lalu pada bagian akhir bab menjelang tamat, ceritanya dibuat semakin cepat walaupun begitu banyak kejutan yang didapatkan yaitu inti dari novel ini yang tidak dapat saya ceritakan.

Kekurangan dalam novel ini yaitu terlalu banyak tokoh dalma ceritanya sehingga sulit membedakan karakter tokoh dan tiap tokoh yang dominan dijabarkan secara berkala. Terlalu terburu-buru pada bab akhir cerita yang tepatnya pada bagian kejahatan.

Nilai-nilai yang dapat diambil dalam novel orang-orang biasa ini adalah:

“Jika merek miskin, mereka bersahaja. Jika mereka tidak miskin, tetapi juga tidak kaya, mereka tidak ada” (Halaman 5)

“Kalau kita tertangkap, masa lalu tertangkap. Kalau seorang anak tidak sekolah, masa depan jadi musibah aku ikut” (Halaman 85)

“Maaf kawan, uang korupsi uang haram, sesen pun aku tak mau menyekolahkan anakku dengan uang ini” (Halaman 224)

Dalam pemaparan resensi ini tentu diharapkan dapat meningkatkan pembaca, agar dapat meningkatkan menggali kesadaran dalam membacanya mulai dari hobi membaca sebuah novel yang disenanginya dan menari bagi dirinya.

Dalam hal ini juga kita dapat meningkatkan kosa kata serta pengetahuan baru dalam isi novel yang telah kita baca, dan juga meingkatkan keterampilan berbahasa kita lebih baik. Karena pada dasarnya jika dengan membaca menjadikan kita dapat menambah ilmu, serta wawasan baru dari apa yang telah kit abaca.

(Meti Fitrotunnisa Karina adalah mahasiswa aktif program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes. Lahir di Pemalang 13 November. Tinggal di Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Hobi memasak dan menulis)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita