Senin, 29/06/2020, 08:36:57
Guru Aini: Idealisme Matematika Dibalik Sumpah Sepatu
Resensi Buku Oleh: Tisatun Asri

Ilustrasi Novel Guru Aini. (Foto: Dokumen)

Judul Buku: Guru Aini, Penulis: Andrea Hirata, Jumlah Halaman: 336, Tahun Terbit: Februari 2020, Penerbit: Penerbit Bentang, ISBN: 978-602-291-686-4

 “Pendidikan memerlukan pengorbanan, Bu. Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, dan tidak berubah.” (halaman 7)

Begitu pemikiran Desi seorang gadis yang baru saja lulus sekolah menengah akhir. Desi memiliki mimpi yang begitu mulia yang tidak bisa digadaikan dengan kesenangan hidup apapun, ingin menjadi guru matematika yang mengajar di daerah-daerah pelosok Pulau Sumatera.

Namun dalam perjalanan meraih mimpinya tentu tidak mudah bagi Desi, dari tentangan ibunya sampai saat perjalanan menuju tempat mengajarnya yang begitu jauh dan tidak dikenal. Tetapi hal tersebut tidak mematahkan semangat Desi sedikit pun, Desi tetap teguh dengan mimpinya untuk menjadi guru matematika. Hal ini tentu juga didorong oleh dukungan penuh ayahnya, yang bahkan satu hari sebelum Desi berangkat menghadiahi sepasang sepatu olahraga putih dengan garis merah muda untuknya.

Sepatu pemberian ayahnya inilah yang akan menjadi bagian cerita Desi sebagai guru matematika yang eksentrik dan idealis. Sifat idealis seorang guru yang penuh mimpi untuk menemukan anak genius matematika di kampung pelosok yang bisa dijadikan contoh orang-orang disekitarnya, bahwa matematika bukanlah pelajaran yang menakutkan, bukanlah pelajaran yang hanya bisa dikuasai anak-anak kota. Tetapi juga bisa diraih anak-anak kampung pelosok yang banyak memiliki kekurangan dalam hidup mereka. Maka untuk mimpinya itu Desi mengambil sumpah, yang dia namakan sumpah sepatu.

“Maka ini bukan melulu soal matematika, ini soal keberanian bermimpi. Untuk itu Desi berjanji pada dirinya sendiri, dia mengangkat semacam sumpah sepatu, bahwa dia akan terus memakai sepatu olahraga pemberian ayahnya, sampai anak genius matematika itu ditemukannya.” (halaman 50)

Mimpi dan keteguhan Guru Desi akhirnya mengantarkan dirinya menemukan seorang anak yang dia cari-cari. Seorang anak yang awalnya dia ragu bahkan bisa matematika lahir menjadi anak yang begitu genius matematika berkat keinginan yang kuat dan didikan Guru Desi. Anak itu bernama Aini.

Melalui novel ini penulis menyajikan kisah yang menyegarkan yang banyak memberi pelajaran untuk pembaca. Dalam novel ini diajarkan tentang nilai kerja keras dan keteguhan hati dalam meraih mimpi seperti yang dilakukan oleh Desi dan Aini. Desi yang teguh pendirian dengan mimpinya dan Aini yang bekerja keras demi mimpinya bisa tercapai. Kerja keras Aini dibuktikan saat dia ingin belajar dengan Bu Desi, walau dimarahi atau ditolak sekalipun Aini tidak gentar.

“Bu, anak yang kemarin ke sini, datang lagi.” Bu Desi merasa heran. Diintipnya ke luar melalui jendela. Anak perempuan itu berdiri di bawah pohon nangka di pekarangan. Tangan kirinya membekap buku-buku di dada, tangan kanan memegangi perut.” (halaman 165)

Lewat novel ini penulis juga mengemas permasalahan sosial terkait pendidikan dengan kisah yang menarik tanpa kesan membosankan. Semuanya terbungkus dengan alur cerita dan tokoh dengan karakter yang khas. Kisah yang relevan dengan kehidupan masyarakat berikut gaya pengisahan yang menarik membuat novel ini bisa dinikmati berbagai kalangan baik remaja maupun dewasa. Novel ini cocok dijadikan sebagai bacaan ringan namun sarat dengan pesan bagi pembacanya.

(Tisatun Asri, Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes. Tinggal di Desa Kalijurang, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Contac Person WA: 085229344099 -085640846188)


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita