Sabtu, 27/06/2020, 21:06:27
Untuk Kamu yang Memilih Menjadi Perempuan Berpendidikan
Oleh: Triska Amanda Putri Lestari

PENDIDIKAN dan perempuan, kedua elemen yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. Sistem pendidikan jika tidak menyertakan perempuan maka itu bukan esensi pendidikan, karena pendidikan adalah bagaimana menciptakan keadilan yang humanis.

Lalu bagaimana peran perempuan indonesia terhadap dunia pendidikan? Tentu di masa ini banyak sekali kendala tentang perempuan berpendidikan, karena adanya faktor-faktor yang membuat hambatan di dalam pendidikan perempuan haruslah dihapuskan.

Pendidikan merupakan sebuah proses yang membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membuat yang tidak tertata atau liar menjadi semakin tertata, semacam proses penciptaan sebuah kultur dan tata keteraturan dalam diri maupun dalam diri orang lain.

Selain merupakan semacam proses domestifikasi, pendidikan juga berarti proses pengembangan berbagai macam potensi yang ada dalam diri manusia, seperti kemampuan akademis, relasional, bakat-bakat, talenta, kemampuan fisik, atau daya-daya seni dalam diri sendiri maupun dalam diri orang lain.

Niccolo Machiavelli memahami pendidikan dalam kerangka proses penyempurnaan diri manusia secara terus-menerus. Ini terjadi karena secara kodrati manusia memiliki kekurangan dan ketidaklengkapan. Baginya, interverensi manusiawi melalui pendidikan merupakan salah satu cara bagi manusia untuk melengkapi apa yang kurang dari kodratnya. Pendidikan dapat melengkapi ketidaksempurnaan dalam kodrat alamiah kita, tulis Machiavelli.

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting kehidupan yang ikut mempergunakan paradigma gender sebagai pisau analisis dalam mengkaji eksistensi (keberadaan) kaum perempuan, terkait dengan nilai-nilai kesetaraan dan persamaan perlakuan. Penggunaan paradigma gender dalam dunia pendidikan lebih diarahkan pada upaya pemberian kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki.

Upaya ini diawali dengan proses pembongkaran atas sebab-sebab bagi telah terjadinya pembedaan perlakuan terhadap perempuan, dimana ‘kelemahan’ senantiasa diidentikkan sebagai karakteristik kudrati baginya. Identifikasi ini terlahir dari pembiasaan yang dijadikan perlakuan keseharian dalam rumah tangga. Pekerjaan keseharian yang diklarifikasi dengan tanpa dasar logis yang jelas, sebagai aktivitas feminisme, seperti mencuci, memasak, menata rumah, merupakan pekerjaan yang dilekatkan pada peran perempuan.

Sementara, pekerjaan yang dipahamkan sebagai aktivitas maskulin, seperti: bertukang, memperbaiki peralatan elektronik, dan menimba air, diidentikkan sebagai pekerjaan laki-laki.

Feminisme adalah serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender di lingkup politik, ekonomi, pribadi, dan sosial.

Feminisme menggabungkan posisi bahwa masyarakat memprioritaskan sudut pandang laki-laki, dan bahwa perempuan diperlakukan secara tidak adil di dalam masyarakat tersebut. Upaya mengubahnya termasuk dalam memerangi stereotip gender serta berusaha membangun peluang pendidikan dan profesional yang setara dengan laki-laki.

Perempuan memiliki peranan yang sangat penting dalam hal pendidikan, bahkan pendidikan pertama yang diberikan kepada anak ialah dari seorang ibu. Ibu memiliki andil yang besar dalam melakukan pengembangan potensi anak. Bukan berarti tugas mendidik hanya diberikan kepada ibu semata, ayah juga berpengaruh terhadap proses pendidikan anak, namun tidak seotentik seorang ibu. Karena ibu memiliki keterikatan batin yang kuat dengan anak.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan jika perempuan cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa pendidikan akan berpengaruh dalam pola pikir dalam berkeluarga, cara mendidik anak dan menerapkan prinsip-prinsip keadilan di keluarga.

Pemikiran akan pentingnya pendidikan untuk perempuan tak hanya dilayangkan oleh para pemikir Barat saja, namun dalam konteks Indonesia, ada pemikir serta pegiat perempuan lokal yang memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan secara layak, dia adalah R.A. Kartini. Kartini menuangkan pemikirannya dalam surat-surat yang dikirimkan kepada J.H. Abendanon. Kumpulan surat pribadi Kartini tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1912 dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Kumpulan surat Kartini tersebut menjadi sebuah alternatif pemikiran tentang pendidikan perempuan. Sebagai sebuah kritik sosial pada realitas, bahwasanya perempuan juga perlu pedidikan. Salah satu pokok substansi pemikiran Kartini adalah Emansipasi atau upaya mewujudkan kesetaraan perempuan dalam mendapatkan pendidikan.

Kartini dapat dikatakan sebagai tokoh pembaru di bidang pendidikan perempuan, yang memiliki terobosan dalam mengajarkan pentingnya arti pendidikan bagi perempuan. Perjuangannya tersebut berhasil memberikan perubahan bagi perempuan menuju pemikiran yang lebih maju. Bahwa semestinya perempuan juga harus memiliki peranan dalam lingkungan sosial mereka.

Soekarno kemudian menafsirkan perempuan dalam sepenggal kalimat “Perempuan itu tiang negeri,” dalam konteks kalimat dari Soekarno tersebut, maka seharusnya perempuan sadar akan posisinya untuk mencetak peradaban bangsa yang berkemajuan. Sedangkan alat untuk menjalankannya ialah pendidikan, jika perempuan mendapatkan pendidikan yang baik, maka jangan heran jika sebuah negara atau institusi di mana perempuan itu berpijak akan mengangkat martabat bangsa.

Pendidikan juga bukan hanya dalam lembaga formal saja, namun juga diperlukan bimbingan pendidikan non formal. Pendidikan formal tidak sepenuhnya berjalan baik jika tidak diiringi oleh pendidikan non formal yang berupa peranan keluarga dan lingkungan dalam penerapan pendidikan.

Keluarga adalah elemen terpenting dalam pembentukan dan pengembangan karakter seorang anak. Itulah sebabnya penekanan pendidikan kerap kali diberikan pada pendidikan non formal atau keluarga. Karena keluarga berperan sebagai pendidik. Hal ini berkaitan pula pada penjelasan tentang peran perempuan untuk memberikan pendidikan pada generasi selanjutnya.

Kesadaran terhadap pentingnya pendidikan terhadap perempuan masih tergolong rendah, tak jarang hal tersebut terjadi pada perempuan itu sendiri. Terkadang perempuan masih terjebak pada zona nyaman yang tak jauh dari dunia gemerlap, terdapat faktor internal dan eksternal sehingga menyebabkan pemikiran yang rabun akan dunia pendidikan. Salah satunya ialah faktor ekonomi yang mengharuskan perempuan tak dapat merasakan senangnya hidup dalam dunia pendidikan.

Alasan lain menyebutkan bahwa adanya intervensi atau campur tangan antara urusan rumah tangga dan pendidikan, ketika perempuan ingin melanjutkan studi yang lebih tinggi. Maka akan ada hambatan yang menjelaskan bahwa pernikahan menjadi urusan utama daripada studi.

Padahal jika diteliti, semangat untuk berpendidikan makin lama makin pudar seiring dengan hambatan-hambatan yang terjadi. Jikalau menikah dibarengi dengan studi, maka perempuan akan mengalami peran ganda dan mengharuskan perempuan bekerja keras untuk melakukan penyeimbangan, dalam konteks sosial yang masih berlutut pada pemikiran gender konvensional. Seperti pemikiran yang mengungkapkan bahwa suatu hal yang wajar jika laki-laki bekerja atau memperoleh segala impiannya, baik melakukan pengembangan diri ataupun melanjutkan studi, bukan mengurusi perkara domestik.

Perempuan yang berpendidikan itu memang perlu, karena dengan bekal pendidikan yang cukup tentu akan membuat perempuan lebih mampu untuk menghadapi berbagai tantangan, yang akan membawa kehidupan menjadi lebih baik bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.

(Triska Amanda Putri Lestari adalah Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita