Senin, 18/05/2020, 05:38:18
Mantan Anggota DPRD Meninggal, Tinggalkan Wasiat untuk Bupati
LAPORAN TAKWO HERIYANTO

Almarhum Trisno semasa hidup (Foto: Dok/Takwo Heriyanto) 

PanturaNews (Brebes) - Innalillahi Wa'inna Ilaihi Rojiun. Trisno, mantan anggota DPRD Brebes, Jawa Tengah periode 2014-2019, mendadak meninggal dunia, Minggu 17 Mei 2020.

Mantan wakil rakyat dan politisi PDI Perjuangan ini meninggal dunia saat tengah berkumpul dengan warganya di Balai Desa Bulakaren Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, sekitar pukul 10.30 WIB.

Tentu saja, kabar kepergiannya yang mendadak itu membuat sejumlah keluarga, kerabat dan ratusan warga desanya tidak percaya.

Pasalnya, pria yang berusia 48 ini, tidak pernah mengeluh sakit atau bahkan memiliki riwayat penyakit. Almarhum di duga meninggal akibat serangan jantung.

Almarhum yang merupakan lulusan sarjana Jurnalistik itu juga dikenal aktivis politik yang kritis melalui tulisan-tulisan atau pernyataannya baik di media sosial atau secara langsung di masyarakat menyikapi kebijakan pemerintah daerah hingga pusat.

Bahkan, beberapa menit sebelum meninggal dunia, Trisno sedang berada di balai desa membuat tulisan berkaitan dengan masa depan pemilik lahan di Kawasan Industri Brebes (KIB).

Ia mengetik menggunakan komputer. Sebuah surat yang sudah diprint out yang ditujukan kepada Bupati Brebes Idza Priyanti. Meskipun surat itu belum selesai dibuat, namun sudah bisa dimengerti point yang disampaikannya.

Sahabat almarhum, Ghofar Mughni mengatakan, jika almarhum merupakan seorang sosok yang kritis, baik dan sangat peduli dengan warga miskin.

“Kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat bawah selalu almarhum kritisi. Ada surat wasiat yang dibuat almarhum untuk ibu Bupati Brebes, sesaat sebelum meninggal dunia. Bahkan surat itu belum selesai dibuatnya,” ujar Ghofar Mughni, yang merupakan anggota DPRD Brebes ini.

Sahabat almarhum lainnya, Wamadiharjo Susanto, awalnya tidak percaya mendengar kabar meninggalnya Almarhum.

"Awalnya saya tidak percaya. Tapi ternyata benar, mas Trisno meninggal dunia. Tentu saja, banyak kenangan dengan almarhum sebagai teman seperjuangan menyampaikan aspirasi masyarakat. Selamat jalan kawanku,” ucap sahabat almarhum, Wamadiharjo Susanto yang juga anggota DPRD Brebes itu.

Sementara, menurut keterangan salah satu pamong desa, yang bersama almarhum sesaat sebelum meninggal dunia, surat itu akan dikirimkan ke Bupati Brebes.

“Ini surat wasiatnya. Silahkan dibaca saja, pesannya jelas ditulis di surat yang ditujukan ke Bupati Brebes itu,” jelasnya. 

Berikut isi surat yang dibuat almarhum Trisno W Demah:

Brebes, 18 Mei 2020, Kepada Yth. Bupati Brebes Ibu Idza Privanti, S.E. M.M di tempat. Assalamualakum wr.wb. Salam sejahtera.

Perkenankan kami ucapkan terima kasih setulusnya atas kasungguhan dan kerja keras Ibu Bupati beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Brebes sehingga rencana pembangunan Kawasan Industri Brebes kian mendekati kenyataan.

Seturut berita media massa, Pemerintah Pusat sudah positif menetapkan KIB sebagai salah satu proyek strategis nasional, dan sebagai warga Brebes kini kami boleh berharap kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan rakyat secara signifikan tidak lagi sebatas angan-angan.

Namun Ibu Bupati Yth., ada satu hal, tepatnya satu pertanyaan, yarg ingin kami sampaikan dan berharap mendapat perhatian Ibu Bupati. Ini terkait dengan kedudukan/status kami sebagai pemilik sebagian lahan partambakan di mana lokasi KIB akan didirikan.

Pertanyaannya adalah: bagaimana skema penguasaan lahan KIB itu? Apakah tetap konvensional seperti berlaku di daerah-daerah lain? Pengembang, dalam hal ini konon FT (Persero) Kawasan Industri Wijaya Kusuma (KIW) datang dengan membawa uang, bernegosiasi dengan kami para pemilik lahan, terjadi kesepakatan harga, lalu terjadi transaksi jual beli. Selesai. Atau bagaimana?

Jika ini yang akan diberlakukan, maka terjadilah pengalihan hak kepemilikan, dari kami para petani tambak, ke tangan PT KIW (Persero) selaku pengembang.

Sampai di situ tentu tidak ada masalah. Bahkan, kami kini menjadi orang kaya baru. Di tangan kami ada ratusan juta, atau mungkin milyaran rupiah tunai dari hasil perjualan tambak kami. Kami bisa membangun rumah mewah, beli mobil baru, naik haji, sekaligus kawin lagi.

Tapi dua tiga tahun setelah itu, setelah uang hasil penjualan tambak telah habis, habis pula masa lalu dan masa depan kami. Tanah itu sudah tidak kami miliki. Sudah tidak akan lagi bisa memberi penghidupan kepada kami. Kami tiba-tiba menjadi tamu di beranda halaman rumah kami sendiri.  Kami akan menjadi sekadar penonton di tengah geliat kemajuan Brebes, tanpa bisa ikut lagi menjadi bagiannya.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita