Selasa, 21/04/2020, 12:16:16
Ramadhan di Tengah Pandemi: Tegaskan Signifikansi Makna Puasa
Oleh: Makhsun Bustomi, S.S.T, M.S.i

PANDEMI COVID-19 adalah kegagalan manusia mengendalikan ambisi dan hawa nafsu. Ini dikonfirmasi para saintis bahwa datangnya berjenis penyakit baru, kuman, bakteri maupun virus adalah efek perubahan alam yang kian tak terkendali.

Syahwat manusia untuk mengeksploitasi alam bersekongkol mesra dengan kapitalisme. Tidak salah, jika Mahatma Gandhi berkata bahwa bumi cukup menyediakan kebutuhan, tapi tak akan sanggup memenuhi keserakahan. Manusia telah menginvasi rumah-rumah berbagai jenis makhluk tak kasat mata ini, sehingga setelah berabad virus ini nyaman dalam habitatnya, berganti menginvasi tempat tinggal manusia.

Yuval Noah Harari dalam Sapiens: A Brief History of Humankind (2014) dan kemudian Homo Deus : A Brief History of Tomorrow (2015) mencatat bahwa sejarah manusia sebagai homo sapiens yang mempunyai kemampuan kognitif sehingga terus meng-upgrade dirinya hingga menguasai kecerdasan buatan dan rekayasa genetika.

Manusia diramalkan, meskipun dia menyebutkan sebagai probabilitas, akan menjadi homo deus, makhluk yang menyerupai tuhan, manusia mempunyai kemampuan hidup kembali, dengan menanamkan memory chip kepada manusia biotik. Ambisi dan kekuatan mengantarkan manusia diambang menjadi tuhan, menjadikan dirinya berhala yang disembah yang mampu menciptakan dan menghancurkan.

Ambisi dan keserakahan manusia modern, menyebabkan manusia semakin mengalami kelaparan. Sementara kelaparan biologis di berbagai wilayah masih terjadi secara massif  akibat konflik dan kemiskinan, di sebagian besar wilayah bumi, manusia menderita kelaparan jenis yang lain. Kelaparan zaman now yang kronis sehingga manusia tak kuasa membedakan kebutuhan, keinginan dan keserakahan. Tidak mengenal jeda untuk berhenti memenuhinya.

Beruntunglah, Islam menghadirkan metodologi istimewa bagi pengikut Muhammad SAW.  Menyediakan jeda, momentum suci setiap tahun, berupa bulan Ramadhan, untuk melatih dan mengevaluasi seberapa kemampuannya dalam menahan diri melalui puasa, sebagaimana secara definitif asshiyam yang berarti menunda kesenangan.

Mungkin kita nyaris berhasil menahan lapar dan haus secara biologis, tetapi sayangnya, mengalami kegagalan kolektof membendung kuasa perilaku konsumtif. Surat al-Baqarah: 183, menjadi ritual reinforcement tekstual, yang tak mampu diterapkan secara kontekstual.

Setiap Ramadhan, kita seperti menemukan aplikasi praktis, cara cepat mendekati takwa. Dengan intensitas ritual ibadah yang meningkat, kalkulasi 8 atau 20 rakaat tarawih dan juz-juz Al Qur’an yang dibaca, kuliah 7 menit, 2,5 kg beras zakat fitrah dan acara buka bersama anak yatim serta banyak ritual dan amalan lainnya. Masjid dan musholla menjadi semarak, TV penuh dengan acara religius, sebagian besar hanya bungkus, dari pagi sampai kembali lagi imsak. Sementara kita alpa, bahwa ketidakmampuan menahan lapar, haus dan syahwat masa kini, juga sukses mendiskon pahala kita. Lalu, kita berharap auto-takwa dan mendadak fitri ketika Ramadhan pergi.

Lihat saja, daftar menu menunggu maghrib tersaji penuh dendam kesumat. Kita terbelenggu oleh jeratan lapar dengan trend fashion dan kosmetik. Lemah oleh lapar akan pujian dan insentif psikologis, mempertontonkan simbol-simbol kesuksesan. Tersihir oleh trick diskon–diskon berbagai produk. Bukankah, setiap waktu, manusia modern sudah terinfeksi oleh kelaparan akan follower dan likes di dunia nyata sampai dunia maya. Mulut bertahmid, pada saat yang sama, lebih memuji diri sendiri.

Berpuasa pada waktu bersamaan juga berbuka. Berkali ramadhan kita lewati, justru menjadi bulan perayaan konsumtif. Keinginan (wants) selalu sukses menikung, overlap, dan meninggalkan jauh kebutuhan (needs). Kehausan kita adalah kehausan akan pengakuan manusia-manusia. Bertakbir, mengagungkan asma Allah, pada saat yang sama, lebih sibuk agar tampak agung dihadapan manusia lain.

Ramadhan tahun ini datang di tengah musibah dan darurat global. Dunia dalam kepungan COVID-19. Tetapi  terbuka kesempatan, bahkan bahkan peluang yang lebih besar dibanding Ramdahan sebelumnya. Tersedia kesempatan istimewa bagi shoimin (pelaku puasa) menemukan, setidaknya, tiga makna.

Pertama, kesempatan lebih besar untuk meneguhkan intimitas dan keimanan kepada Tuhan. Ancaman kemanusiaan yang paling dasar, infeksi, rasa sakit dan kematian tragis akibat COVID-19, menuntun kita lebih dekat Sang Khaliq. Mendesak kita untuk merasakan bahwa setiap saat momentum kematian bisa datang. Sepanjang hari ada rasa tidak aman.

Bukankah iman dan aman secara etimologis berasal dari kata yang sama. Dalam rasa tidak aman, hanya Allah sebagai tempat Al-Muin, Pemberi Rasa Aman. Hal ini mengantarkan positive thinking kepada Allah. Secara psikologis, setelah melakukan ikhtiar maksimal berdasar prinsip sains dan kesehatan, optimisme dan intimitas kepada Allah akan membantu meningkatkan imunitas.

Kedua, puasa tahun ini, jelas lebih menegaskan kesederhanaan. Kesederhanaan ini tidak akan mengurangi, bahkan justru berpeluang meningkatkan kehusukan. Toh, kita masih dapat berpuasa, menjalankan yang wajib dan mengerjakan sunah seperti tarawih dengan keluarga inti. Sambil stay at home, masih dapat bukber bersama keluarga. Menyatakan kerinduan dan silaturahim dengan online.

Bahkan boleh jadi, lebih leluasa, mengkhatamkan Al Quran dengan frekuensi yang lebih dari puasa sebelumnya. Ramadhan kali ini, kita lebih mudah berpuasa tidak sekedar menunda makan dan minum, tetapi menghindari perilaku overkonsumsif sesuai sepirit makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Ketiga, Ramadhan pada masa pandemi, banyak masyarakat paling terdampak, mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan mendasar. Bagi muslim masih surplus rizki, selalu ada cara, untuk membantu sesama, terutama yang terdekat, agar terhindar dari kelaparan biologis yang tragis, agar tidak terpuruk dalam zona underkonsumtif.

Dalam krisis dan pandemi, sedekah dan donasi lebih maknawi dibanding amplop warna warni bergambar ketupat untuk anak, cucu dan keponakan yang kerap kita bagi. Adanya kegetiran psikologis, dan kecemasan dan kerinduan berkumpul dan silaturahim karena social distancing serta pemahaman akan banyaknya sesama yang tengah lapar, akan makin mempromosikan makna solidaritas dan kebersamaan.

Apakah kita mampu belajar ataukah makna-makna itu kembali ambyar? Ramadhan ini akan mengukur, sampai level mana puasa kita berfungsi secara pedagogis untuk  meneguhkan makna dan spirit keimanan, menegaskan kesederhanaan dan mempromosikan kebersamaan. Ibadah puasa yang dilakukan  dengan imaanan wa ihtisaaban, sepenuh hati dan jiwa, harus berangkat dari kesadaran untuk membakar dan merobohkan berhala-berhala atau tuhan-tuhan palsu dalam diri kita.

Sebagaimana dalam Lentera Hati karya Quraish Shihab (1994) bahwa Ramadhan berakar dari kata yang berarti “membakar”, bermakna dosa-dosa manusia akan pupus terbakar oleh kesadaran dan amal saleh. Kita harus menyingkirkan berhala-berhala berupa kedengkian, keserakahan, ujub, riya, takabur dan sampah-sampah lainnya dari hati.

Begitulah tutur Gus Mus, yang puisinya diakhiri dengan kata-kata : inilah bulan baik, saat baik untuk merobohkan berhala dirimu, yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, kau puja selama ini. Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti Ramadlan-ramadlan yang lalu.

(Makhsun Bustomi adalah ASN Pemerintah Kota Tegal, Social Worker anggota Ikatan Pekerja Sosial Profesional dan sedang memulai aktif dalam Litbang LDNU Kota Tegal)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita