Sabtu, 11/04/2020, 14:03:18
Lanang Terbitkan Deutschland Genießen, Puisi Tegalan-Jerman
LAPORAN SL. GAHARU

Lanang Setiawan (kanan) dan tiga siswi SMA Negeri 1 Slawi, Kabupaten Tegal; Fajrina Citra Asokawati, Adinda Nurfitriani Maulida, dan Intan Mauli Diana. (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Penyair Tegalan Lanang Setiawan, kembali menggebrak dunia kepenyairam berbasis Tegalan. Menyusul belum lama ini ia telah menerbitakan buku antologi KUR 267 tiga bahasa: Jerman, Tegalan dan Indonesia berjudul "Layang-layang Trern"-Lintang Layang-layang.

Kini Lanang kembali menerbitkan buku kumpulan puisi dua bahasa, Jerman dan Tegalan bertajuk "Deutschland Genießen" - Njlajah Jerman yang diterbikan oleh Komunitas Sastrawan Tegalan.

Buku bertajuk "Deutschland Genießen" - Njlajah Jerman diterjemahkan tiga siswi SMA Negeri 1 Slawi, Kabupaten Tegal yakni; Adinda Nurfitriani Maulida, Fajrina Citra Asokawati, dan Intan Mauli Diana.

Menurut Lanang, pilihannya pada tiga nama itu, karena mereka mencintai bahasa ibu seperti mereka mencintai bahasa Jerman.

"Alasan saya, kendati mereka mahir berbahasa Jerman, namun kecintaan mereka pada bahasa ibu, perlu diacungi jempol. Dan sudah pasti, saya pun perlu juga menyampaikan rasa salut kepada pak Bambang Sulistio, sebagai guru dan pembina ekstrakurikuler bahasa Jerman yang telah aktif membina dan membimbing mereka, dalam upaya menerjemahkan puisi-puisi saya ke dalam bahasa Jerman," kata Lanang.

Dr. Ahmad Saufi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, tak kalah pula menimpali bahwa eksistensi bahasa Tegal sebagai bahasa ibu, sama penting dan sama kedudukannya dengan bahasa asing. Dalam hal ini adalah bahasa Jerman.

“Orang yang tidak tahu apa-apa tentang bahasa asing, maka dia tidak tahu apa-apa tentang bahasanya sendiri,” ujar Saufi, mengutip pernyataan penyair besar dunia berkebangsaan Jerman, Johann Wolfgang von Goethe.

Mengapa harus bahasa Tegal yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman? Alasannya adalah karena bahasa Tegal memiliki bahasa lokal yang unik dan khas, dibanding bahasa lokal lainnya di Jawa Tengah. Kekhasan dan keunikan itu terlihat dari kelugasan pengucapannya yang dibaca apa adanya.

"Tidak seperti bahasa Jawa gaya "wetanan" yang pada umumnya dibaca dengan bunyi o untuk vokal a. Dan anggapan bahasa Tegal sebagai bahasa kasar, tentu anggapan keliru para penutur bahasa lain yang secara stereotif menempatkan bahasa Tegal dalam ukuran bahasa halus dan kasar," tutur Saufi.

Sesungguhnya, kata Saufi lebih lanjut, tidak satu pun bahasa di dunia manapun dianggap kasar.

"Termasuk bahasa ibu yang menandai lokalitas penuturnya. Maka dari itu, ketiga penterjemah puisi Tegalan dalam buku ini cukup paham, sadar, dan peduli dengan bahasa ibu mereka sama penting dan kedudukannya dengan bahasa Jerman yang mereka kuasai," pungkasnya dalam kata sambutan tertanggal 24 Februari 2020.

Saat ini Atologi Puisi Deutschland Genießen - Njlajah Jerman yang memuat puluhan puisi Lanang Setiawan dalam proses cetak. Tunggu saja kehadiranya dalam waktu dekat ini.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita