Senin, 30/03/2020, 18:28:43
Catatan Santri Untuk Indonesia Saat Ini
Oleh: Muhamad Khoeruman

DUNIA sedang mengalami ketakutan yang luar biasa. Hadirnya virus covid- 19 atau corona menjadikan semua negara memiliki sistem baru untuk mencegahnya, termasuk Indonesia. Indonesia terkenal dengan kekayaan alam yang sangat mumpuni, sehingga banyaknya wisatawan berdatangan hadir untuk menikmatinya. Bentuk-bentuk kekayaan alam saat ini mulai tidak beroperasi lagi. Wisata-wisata yang terkenal seperti bali, papua dan lainnya sudah menutup diri untuk tidak dikunjungi lagi.

Sampai saat ini tercatat jumlah warga penduduk Indonesia yang sudah positif terkena virus covid- 19 sudah mencapai angka seribu lebih, belum lagi ditambah jumlah meninggal yang awalnya puluhan sudah mencapai ratusan namun, paling memprihatinkan ialah jumlah sembuh hanya 10 % dari jumlah positif yang terkena virus. Hal demikian menjadi kepanikan bagi semua warga Indonesia, karena media setiap hari menayangkan laporan jumah positif yang selalu meningkat tidak pernah menurun.

Pemerintah sudah memberikan himbauan kepada masyarakat untuk tetap berdiam diri di rumah kecuali orang-orang yang mempunyai kepentingan di luar. Selain itu pemerintah provinsi sudah menerapkan karantina wilayah pada setiap jalur jalan yang dilalui banyak pejalan lainnya.  Bahkan kementrian pendidikan dan kebudayaan sudah melayangkan surat edaran  untuk anak sekolah belajar di rumah dengan menggunakan sistem online dengan waktu yang  tidak  menentu.

Penulis menganalogikan dalam menyikapi kondisi saat ini seakan-akan kita memilih diantara dua pilihan, menjadi setetes Mata Air atau meneteskan Air Mata, mengapa demikian?

Umar bin ‘Ash ketika tertimpa wabah Tha’un :

الوباء كالنار وأنتم وقودها تفرقوا حتى لا تجد النار ما يشعلها فتنطفئ

“wabah itu seperti api dan kalian adalah kayunya, berpencarlah sehingga api tidak menemukan bahan untuk menyala kemudian menjadi padam”

Dari pernyataan diatas bahwasannya setiap individu saat ini adalah mata air yang setiap tetesnya memberikan jutaan kehidupan yang akan datang. Maksud dari memberikan jutaan adalah bahwa aturan yang dianjurkan pemerintah seperti stay in home, social distanting, mencuci tangan selepas mengerjakan pekerjaan dan lain sebagainya harus kita ikuti, meskipun kelihatannya sepele, namun dengan demikian berarti kita ikut membantu  memutus rantai penyebaran virus dan kita telah menjadi setetes mata air untuk orang lain yang sedang berjuang di luar rumah.

Pada setiap kejadian yang sudah digariskan oleh Allah tentu ada hikmahnya seperti orang yang jarang di rumah akan semakin akrab bersama keluarga, orang yang merasa capek dengan pekerjaannya akan lebih leluasa istirahat di rumah. Hal-hal positif demikian yang akan menjadikan kita tidak terlalu panik.

Dalam kaidah fikih disebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

”mencegah mafsadat (kerusakan) itu lebih didahulukan daripada mencari kemaslahatan”

Jangan sampai karena keegoisan kita merasa yakin imannya paling kuat, benar, aman dan lain sebagainya justru akan meneteskan Air Mata penyesalan. Memang benar semua Allah Swt yang menghendaki apapun di dunia ini tapi kewajiban seorang hamba adalah berikhtiar atau berusaha baik dhohir maupun bathin, dhohir ikuti anjuran atau arahan yang ada baik dari pemerintah pusat maupun daerah karena mentaati perintah pemimpin adalah wajib selagi tidak bertentangan hukum syariat.

Air mata penyesalan selalu datang diakhir waktu bukan diawal waktu. Saat ini yang sedang terjadi ialah banyak orang yang mengalami tingkat kepercayaan diri paling benar masalah virus yang sedang terjadi, apalagi di pedesaan yang masyarakatnya hanya menerima berita lewat media televisi. Banyak orang tiba-tiba menjadi sok pintar, menjadi sok tahu dan sebagainya. Namun senantiasa kita harus selalu berikhtiar bathin, perbanyak doa’ dan ibadah lainnya dan serahkan sepenuhnya kepada Allah Swt.

Diakhir catatan penulis ingin menyampaikan bahwa kepanikan adalah sumber dari segala penyakit. Seharusnya kita harus tetap tenang menghadapi keadaan Indonesia saat ini. Yakinlah bahwa elemen pemerintah sedang bekerja dengan baik untuk menangani keadaan saat ini. Paling penting adalah tetap jaga kebersihan karena islam juga menganjurkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Meskipun iman kita sedang diuji dengan banyaknya larangan atau himbauan untuk menjalankan aktifitas keagamaan yang sifatnya berjamaah seperti sholat jum’at, berjamaah dan lain sebagainya namun yakinlah itu semua untuk kebaikan kita bersama.

Seperti yang dikatakan oleh ilmuwan kita bahwa:

الوهم نصف الداء والإطمئنان نصف الدواء والصبر بداية الشفاء

“Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan” (Ibnu Sina).

Mari bersama melawan kepanikan serta menjaga kesehatan. Segala penyakit pasti ada obatnya.

(Muhamad Khoeruman adalah Santri Pondok Pesantren El-Bayan Bendasari Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita