Sabtu, 21/03/2020, 13:25:37
Anggap Saja Hoax Itu Benar
Oleh: Nikmah Yuliyanti SKM

Salam sehat.... Berita tentang Corona saat ini memenuhi semua media. Lebih-lebih di media sosial yang kita punya. Banyak sekali pesan masuk menanyakan/klarifiksi tentang penderita positif Corona, pesan berantai yang menyebar bahkan lebih cepat dari pada virus Corona itu sendiri. Bikin resah dan ujungnya stigma negatif kepada orang dalam pemantauan (ODP).

Sebenarnya keresahan itu lebih disebabkan karena ketidaktahuan tentang istilah dalam penanganan Corona virus. Oke, kita bahas dulu istilah istilah dalam Covid-19 atau virus corona:

1. ODP (Orang Dalam Pemantauan)

ODP adalah orang dalam pemantauan, biasanya memiliki gejala ringan seperti batuk, sakit tenggorokan, demam, tetapi tidak ada kontak erat dengan penderita positif serta ada riwayat kunjungan ke daerah yang positif (luar negeri/daerah lokal). Orang dengan status ODP biasanya tidak perlu rawat inap di rumah sakit tetapi akan diminta untuk melakukan isolasi secara mandiri di rumah setidaknya selama 14 hari hingga kondisi membaik. Namun jika selama melakukan karantina mandiri kondisi tak kunjung membaik dan justru memburuk maka sebaiknya segera menghubungi rumah sakit terdekat.

2. PDP (Pasien Dalam Pengawasan)

Orang yang dinyatakan PDP akan menjalani proses observasi melalui proses cek laboratorium yang hasilnya akan dilaporkan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI. PDP dikriteriakan sesuai gejalanya, seperti demam, batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan. Atau dari hasil observasi ada saluran nafas bawah yang terganggu serta terjadi kontak erat dengan penderita positif atau dari daerah yang terjangkit. Untuk PDP akan dilakukan rujukan ke Rumah Sakit yang telah ditunjuk. Hal ini untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium dan rontgen. Pasien akan dirawat di kamar isolasi bertekanan negatif

3. Suspect

"Suspect" ialah orang atau pasien dengan pengawasan yang menunjukkan gelaja infeksi Corona, pernah melakukan perjalanan ke daerah yang menjadi lokasi pesebaran Corona, melakukan kontak atau bertemu dengan orang yang positif COVID-19. Secara singkat sebetulnya istilah suspect Corona ini sama pemahamannya dengan pasien dalam pengawasan atau PDP yang diharuskan untuk menjalasi isolasi di rumah sakit dan melakukan pemeriksaaan swab.

4. Positif

Pasien yang dinyatakan positif terinfeksi Corona virus harus menjalani perawatan di rumah sakit atau di lokasi yang ditentukan oleh pemerintah, hingga dinyatakan pulih dan bebas dari virus tersebut. Pasien akan dinyatakan positif COVID-19 setelah melakukan serangkaian pemeriksaan seperti cek darah, rontgen paru-paru hingga Swab.

5. Lockdown

Istilah lockdown akhir-akhir ini ramai menjadi perbincangan setelah beberapa negara seperti Italia melakukan lockdown untuk menghindari semakin menyebarnya virus Corona. Lockdown artinya sebuah negara seperti Italia melakukan pengawasan ketat di semua wilayah negara, mengunci masuk atau keluar dari suatu wilayah/daerah/negara untuk mencegah penularan virus corona COVID-19. Pengawasan ketat ini dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu yang dilakukan Italia ini adalah menutup semua toko kecuali toko makanan dan apotek.

6. Social Distancing

Social distance atau social distancing adalah cara atau imbuan yang dilakukan kepada masyarakat untuk menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak antar manusia, menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang. Jika Anda harus berada di sekitar orang, jaga jarak dengan orang lain sekitar 6 kaki (2 meter). Konsep social distancing saat ini juga telah dilakukan di Bandara Ngurah Rai Bali dengan harapan dapat meminimalisir pesebaran virus Corona.

7. Isolasi

Bagi orang-orang yang dipastikan memiliki COVID-19, isolasi adalah langkah tepat. Isolasi adalah istilah perawatan kesehatan yang berarti menjauhkan orang-orang yang terinfeksi penyakit menular dari mereka yang tidak terinfeksi.

Setelah mengetahui istilah-istilah tersebut penulis berharap bahwa pemahaman pembaca semua lebih baik dan tidak mudah membuat kesimpulan atas berita yang beredar. Kenapa penulis membuat judul artikel ini dengan judul “Anggap Saja Hoax Itu Benar”?

Begini, rata-rata setelah mendapat berita tentang orang di sekitarnya menderita corona virus orang akan merasa resah, was-was dengan resiko penularan. Kalau kita berada dalam situasi ini maka pasti akan lebih berhati-hati agar tidak tertular dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, mencuci tangan lebih sering dan melakukan hal-hal positif lainnya. Termasuk lebih mendekatkan diri kepada yang Maha Pencipta (karena takut sewaktu-waktu dipanggil).

Nah…. bukankah hal itu baik? Kalau pun berita itu tidak benar maka secara tidak langsung sudah melakukan hal-hal baik bukan? Jadi tak apalah menganggap hoax tentang adanya penderita Corona sekitar kita, tapi jangan juga disebarkan.

Cukup berhenti di kita saja, cukup membuat kita lebih berhati-hati. Di saat seperti ini lebih baik menyebarkan kebaikan, bukan keresahan.

Penulis Nikmah Yuliyanti SKM adalah petugas promosi kesehatan masyarakat (Promkes) di Puskesmas Bumiayu.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita