Selasa, 03/03/2020, 13:06:41
Wabah Baru Indonesia: Politik Identitas
Oleh: Khafatul Mukarromah

KADAR politik dalam negara sangatlah berbeda jumlahnya. Namun kadar politik mampu memberikan nutrisi semua orang ingin menikmatinya. Politik mampu diartikan apa saja dan oleh siapa saja, bagimana ia menamai politik tersebut.

Tidak sedikit orang yang tengah berpolitik lantas tidak melanjutkannya, pasti politik itu berjalan terus menerus seperti arus. Seringnya telinga kaum awam sensitif saat mendengar kata politik, bahkan ada yang mengatakan bahwa politik itu hanya untuk orang-orang yang jahat.

Di tahun politik. Isi politik identitas diangkat secara masif oleh sejumlah kalangan. Mereka merasa bahwa tahun politik pada waktu pilkada DKI yang menurutnya memicu konflik horizontal di masyarakat. Model politik ini lebih hebat lagi di tuding mencederai ruh demokrasi yang susah payah dibangun pasca reformasi bergulir. Namun benarkah politik identitas mematik pertikaian?

Penmaan politik identitas tidak secara resmi. Politik identitas tumbuh secara alami dalam diri manusia. Sehingga tidak sedikit yang mengimplementasikan politik identitas. Isitilah politik identitas pernah diperkenalkan oleh L.A Kauffman dalam tulisannya berjudul “ The Anti-Politics Of Identity”. Ia menelusuri awal mula politik model ini berasal dari gerakan mahasiswa anti kekerasan yang dikenal dengan sebutan SNCC (the student nonviolent coordinating commite), sebuah organisasi gerakan hak sipil amerika serikat di awal 1960-an.

Membaca politiik idnetitas pertama diperkenalkan, sebenarnya tidak ada yang salah dalam gerakan politik identitas. Dari politik identitas tersebut akan ada dua sudut pandang. Sudut pandang negatif dan sudut pandang positif. Sebagai manusia kita tidak bisa langsung menyimpulkan begitu saja, tentang politik identitas. Semua masalah punya wajah untuk dianalisis, bukan hanya satu wajah saja.

Sisi Negatif Politik Identitas

Melihat dari kekuarangannya politik identitas yaitu membatasi hak asasi manusia. Diibaratkan seperti zonasi saja. Penyakit yang sering ada dalam diri kita ialah penyakit tidak enakan. Hingga ketika ada pemilihan serentak baik itu kepala desa, camat, bupati dll. Calon berasal dari daerah yang ita tempati tentu kita akan lebih memilih yang sedaerah dengan kita sendiri, bahkan beberapa tidak menengok tawaran apa yang calon berikan untuk kemaslahatan umat.

Dari hal tersebut tentu sangat memberikan batasan-batasan untuk kita melihat segi lain dari calon yang lain juga.  Paling penting diwaspadai dalam perpolitikan ialah kekerasan atau pemaksaan sehingga menimbulkan ketidak etisan nama politik itu sendiri. Dari situlah kadang muncul mindste atau pemikiran orang bahwa politik itu tidak baik.

Sisi Positif Politik Identitas

Hal posisitf dari politik identitas ialah bahwa kekeluargaan semakin merekat. Rasa mencintai daerah sendiri tumbuh. Selain itu juuga, perpolitikan tidak saling berebutan dalam mengambil massa. Karena politik identitas tidak jauh berbeda dengan sistem zonasi. Akan lebih mudah warga setempat dalam mengenal calonnya, karena masih satu daerah dengannya.

Dalam berpolitik manusia tidak ada yang salah. Politik hanya sebuah cara untuk mengetahui ilmu ketatanegaraan. Setiap manusia mempunyai cara masing-masing untuk mendapat pengetahuannya. Paling penting adalah diri kita selalu mawas diri agar jabatan apapun yang didaptkan dalam pesta politik akan bermanfaat untuk manusia lainnya.

(Khafatul Mukarromah adalah Mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita