Selasa, 03/03/2020, 12:51:09
Antara Cantrang, Natuna dan Corona
OLEH: H. TAMBARI GUSTAM

BEBERAPA bulan yang lalu, tepatnya tanggal 3 Januari 2020, nelayan dari negeri Tiongkok menjaring ikan di seputar Laut Natuna. Padahal wilayah tersebut di seputar Natuna adalah bagian dari perairan negara Indonesia.

Maka ramailah reaksi seperti yang populer di youtube bahkan video yang ditonton sampai 1,8 juta orang. Apakah ketahanan Maritim kita lemah, sehingga nelayan asing begitu gampang menjaring ikan di laut Natuna.

Sebenarnya kemelut di seputar Natuna bukan semata tugas nelayan, namun karena sebagai warga negara,  sehingga nelayan Cantrang timbul rasa kecintaan untuk bela negara, lewat beberapa diskusi dan pembahasan yang sangat alot dan melelahkan.

Namun akhirnya larangan cantrang di era menteri Susi Puji Astuti, sampai sekarang secara legal formal masih dilarang, tapi karena adanya desakan demo nelayan Cantrang secara nasional, akhirnya Presiden secara lisan membolehkan, dengan kalimat silakan cantrang melaut kembali. Atas perintah lisan Presiden,  maka sampai sekarang nafas Cantrang bisa hidup kembali.

Baru beberapa bulan menikmati nafas lega, tiba-tiba isu Natuna diserobot nelayan dari China, bahkan nelayan China dikawal oleh pasukan pengaman laut China. Tayangan di salah satu tv swasta menunjukan, kapal perang kita sempat mengusir kapal-kapal China.

Begitul tragis Natuna diperebutkan antara nelayan China dengan Negara Kita,  apakah nelayan cantrang pernah menjaring ikan di lautan Natuna? Beberapa nelayan asal Tegal yang sempat penulis temui, rata-rata menjawab belum pernah melaut sampai ke Natuna Utara. Padahal jika dilihat kenyataannya, bahwa nelayan China justru bisa menjaring ikan berton-ton di laut Natuna.

Akhirnya setelah media ramai memberitakan tentang banyaknya kapal-kapal nelayan China memasuki laut Natuna, nelayan Cantrang asal Tegal pun tergerak untuk mencoba melaut sampai ke Natuna, sekaligus sebagai tameng penjagaan perbatasan laut Natuna Utara.

Meskipun nelayan Cantrang belum pernah dilatih perang, namun dengan tekat yang bulat, semangat tinggi, nelayan Cantrang asal Tegal di jadwalkan melaut sampai ke Natuna.

Menurut salah satu pemilik kapal cantrang yang tidak mau disebutkan namanya,  sebenarnya sangat mendukung program pemerintah tentang penjagaan demi ketahanan maritim Indonesia. Apalagi kapal Cantrang juga siap ke Natuna, namun sayangnya, disuruh beli BBM dengan harga yang tinggi yaitu Rp 9.150 (Sembilan ribu seratus lima puluh ribu rupiah), padahal nelayan sudah biasa membeli BBM dengan harga di bawahnya.

Atas keluhan nelayan Cantrang terkait mahalnya harga BBM, menurut Ketua DPC HNSI Kota Tegal, H. Riswanto sementara biar 30 kapal berjalan dulu, nanti di evaluasi lebih lanjut.

Begitulah dilema nelayan Cantrang. Disisi lain harus ikut aktif dalam bela negara,  meskipun sebenarnya menolak dengan Harga BBM yang tinggi, namun karena demi mendukung program ketahanan Maritim, maka dengan rela hati melaut sampai ke Natuna. Oh Cantrangku sayang, Natuna ku malang, mengapa persoalan Natuna seolah tak kunjung selesai, lalu apakah pertahanan Maritim kita rapuh?

Padahal semua media mengabarkan China sedang dilanda wabah virus Corona,  penyebaran yang melanda negeri China,  bahkan sempat menggemparkan dunia,  termasuk memperhentikan sementara jamaah Umroh dari Indonesia. Yah, perbincangan antara Cantrang, Natuna dan Corona sangat seksi, sampai hampir tiap hari tayangan tv selalu memberitakannya.

Lalu mengapa persoalan Natuna seolah tak kunjung selesai,  dan Virus Corona menjadi hantu yang sangat menakutkan, padahal beberapa hari yang lalu Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia tidak terjangkit adanya virus corona.

Namun kenyataannya justru ada dua orang warga Depok positif kena virus Corona,  kabar yang sangat mengejutkan. Imbasnya, masyarakat Jakarta beramai-ramai membeli sembako, bahan pokok untuk persediaan, hal tersebut berdasarkan pemberitaan detik com tanggal 2 Maret 2020, saat Jokowi menyampaikan, dua WNI positif kena virus corona.

Yah... Di tengah merebaknya isu virus corona, dan Rabu tanggal 4 Maret 2020  nelayan Cantrang Tegal justru melaut ke Natuna, semoga hasil tangkapan ikannya bisa terjual dengan harga tinggi.

(H. Tambari Gustam adalah tokoh masyarakat nelayan, seniman dan budayawan. Tinggal di Muarareja, Kota Tegal, Jawa Tengah)


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita