Kamis, 13/02/2020, 19:03:40
Budaya Perayaan Hari Valentine?
Oleh: Amelia Yuliyanti

BAGI para remaja tentunya sudah tak asing lagi dengan hari valentine, hari valentine tersebut biasanya diperingati pada tanggal 14 Februari.

Hari valentine disebut juga dengan hari kasih sayang, mengutip dari wikipedia bahwa Hari Valentine atau Valentine's Day atau disebut juga Hari Kasih Sayang, adalah sebuah hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat.

Hari raya ini sekarang, terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines".

Di Indonesia hari valentine ini juga kerap diperingati oleh para remaja, biasanya mereka akan memberikan kado, cokelat, atau pun bunga untuk diberikan kepada kekasihnya. Kerap kali pada bulan februari telah banyak produk-produk yang dihias untuk perayaan valentine.

Bahkan cokelat-cokelat pun dihias dan biasanya harga cokelat di bulan februari akan lebih mahal dibanding bulan-bulan lainnya hal ini tentu saja karena adanya perayaan hari valentine.

Tak hanya bingkisan kado dan cokelat saja, terkadang ada outlet-outlet yang menjual makanan, jika dihari valentine tiba mereka akan memberi keistimewaan bagi pelangganannya khusunya bagi mereka yang datang dengan pasangannya. Keistimewaan tersebut biasanya berupa makan gratis salah satu menu di outlet makanan tersebut syaratnya pun cukup mudah untuk diikuti.

Namun, sangat disayangkan banyak dari mereka yang merayakan hari valentine tetapi hanya ikut-ikutan saja tanpa tahu bagaimana sejarah hari valentine tersebut. Sebenarnya bagaiamana hari valentine bisa terbentuk dan bagaimana serajahnya?

Sejarah ini merupakan sejarah yang cukup dipercayai oleh masyarkat. Legenda ini menceritakan bawah Valentine dipukuli dan berakhir dipancung pada tanggal 14 Februari 278 Masehi. Bentuk eksekusi ini merupakan sebuah hukuman karena pendeta Valentine dianggap menentang kebijakan seorang Kaisar bernama Claudius II.

Dalam Telegraph melalui tirto.id, menulis detail sejarah hidup orang kudus tersebut memiliki banyak versi, namun Santa Valentine diyakini adalah seorang martir dan meninggal lalu dikuburkan pada 14 Februari di pemakaman orang Roma di Via Flaminia, sebuah jalan pada zaman Roma Kuno.

Legenda paling populer mengenai Valentine adalah bahwa ia adalah seorang pendeta Roma, yang ditahan karena melayani pasangan Kristen yang menikah, yang sebenarnya dilarang oleh Kaisar Claudius II pada abad ketiga Masehi, karena pria harus fokus pada militer, bukan keluarga.

 Membantu orang Kristen adalah sebuah pelanggaran bagi Kaisar (pada masa itu Kristen dianggap agama sesat di Roma). Valentine kemudian ditangkap dan dipenjara. Saat Kaisar memanggilnya, dengan berani ia justru bersaksi dan menyuruh Kaisar bertobat.

Valentine dihukum mati karenanya. Dia dirajam batu sebelum kepalanya dipenggal di luar gerbang Flaminia. Hukuman ini menjadikan sebuah tanda sebagai peringatan atau perayaan yang dilakukan setiap tanggal 14 Februari.

Sebenarnya banyak versi dari asal-usul adanya perayaan hari valentine, namun sejarah yang paling populer adalah sejarah tersebut. Kini hari valentine diperingati diseluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Namun, sangat disayangkan perayaan hari valentine justru identik dengan hal-hal yang berbau seks bebas.

Tentu saja hal ini sangat dilarang keras, bahkan tak lazim lagi setiap bulan februari tepatnya hari-hari mendekati hari perayaan valentine kerap kali terjadi demo oleh masyarakat yang menentang adanya perayaan hari valentine. Bahkan di media sosial twitter trending dengan #IndonesiaTanpaPacaran, hastag tersebut menempati trending topik urutan pertama warganet Indonesia.

Tak hanya itu di beberapa kota di Indonesia juga melarang warganya untuk merayakan hari valentine contohnya seperti kota Bandung dan Banda Aceh. Kita ketahui bahwa sudah diterangkan pacaran itu dilarang karena dalam pacaran akan mendekati perbuatan zina. Terkait dengan hal itu pada hari valentine kerap disalah gunakan oleh orang-orang untuk melakukan perbuatan seks bebas, tentu saja hal ini sudah salah dan sangat bertentangan dengan agama.

Mengambil sisi positif dari adanya hari valentine, hari valentine bisa dimaknai sebagai hari kasih sayang kepada orang-orang tersayang yang tak harus dilakukan dengan kekasih bisa saja dengan keluarga, hari itu juga bisa menjadikan kita mempererat tali silaturrahmi dengan orang-orang yang kita sayang.

Dan dalam menyayangi sesama umat manusia jangan terlalu berpatokan dengan hari valentine saja, tentu dalam kehidupan sehari-hari dilain hari valentine pun kita bisa menunjukan kasih sayang kita kepada mereka adapun kasih sayang tersebut bisa berupa saling menolong dan saling berbagi.

Adanya perayaan hari valentine biasanya akan berdampak negatif dan sudah sangat jelas jika hari valentine bukanlah budaya kita karena budaya perayaan hari valentine adalah budaya barat.

(Amelia Yuliyanti adalah Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita