Rabu, 12/02/2020, 14:43:16
Rois Abdullah Menapaki Puisi Pendek Tegalan KUR 267
LAPORAN SL. GAHARU

Rois Abdullah membacakan puisi tegalan dalam pementasan Jed-Jedan Maca Kur 267 di Warung Si OZ Kalibuntu Kota Tegal. (Foto: Dok/KST)

PanturaNews (Tegal) - Buku kumpulan Puisi Pendek Tegalan Kur 267-nya Rois Abdullah, “Jejak Langkah Menapaki Kur 267”, menjadi karya penting bagi penulis yang baru terjun dalam kancah sastra.

Kehadiran buku berbasis Tegalan ini, selain menjadi penanda memulai langkah seorang Rois, sekaligus sebagai pembelajaran bagi seseorang yang ingin berkiprah di dalam dunia sastra. Khususnya tentang puisi pendek Tegalan yang dinamai Kur 267.

Hal tersebut diungkap Lanang Setiawan yang bertindak sebagai editor dalam buku Kur 267 Rois Abdullah, Rabu 12 Februari 2020.

Menurutnya, kendati Rois baru melangkah menapaki dunia sastra teristimewa saat memulai mempelajari puisi pendek Tegalan yang baru diproklamirkan pada tanggal 2 Januari 2020 ini, namun teknik penulisannya telah memperlihatkan kebisaannya dalam menuangkan karya Kur 267.

Dijelaskan, teknik baru dalam penulisan Kur 267 ini terdiri dari 3 baris atau larik. Baris Pertama, terdiri atas 2 suku kata, Baris Kedua, terdiri atas 6 suku kata, dan Baris Ketiga, terdiri atas 7 suku kata, telah ia kuasai.

Hal yang sama, selain jumlah suku kata untuk setiap barisnya, Rois telah menguasai teknik penjabaran pada tiap-tiap baris atau liriknya. Pertama, kata yang membentuk kata keadaan atau sifat, dan Kedua, berupa kalimat yang menerangkan atau menjabarkan atas baris pertama, sedang baris ketiga, kalimat yang menunjukkan sebuah “akibat” dari baris pertama dan kedua.       

“Teknik penulisan Kur 267, Rois telah memperlihatkan kemampuannya dari aturan-aturan yang digariskan pada ketentuan penulisan karya Kur 267,” terang Lanang.

Sementara itu, penulis kritik sastra Tegalan, Muarif Esage, dalam sebuah pengantarnya menuturkan, keseluruhan baris pertama Kur 267 karya Rois berhasil menghadirkan imaji visual, imaji auditif, dan imaji kinestetik dari banyak diksi yang berasal dari bentuk kata sifat, beberapa kata kerja, dan sedikit kata benda.

“Keseluruhan baris kedua dan ketiga yang ditulis oleh Rois Abdullah memperlihatkan bagaimana dia dengan sangat rapi mengikuti ketentuan penulisan Kur 267. Hubungan antara baris kedua dan ketiga yang ditunjukan Rois dalam relasi sebab-akibat dan penutup yang berupa penegasan menunjukkan, bahwa dia menguasai teknik penulisan Kur 267 dengan baik,” katanya.

Menurutnya, setiap karya sastra harus mampu memberikan semacam katarsis bagi pembacanya. Sebuah istilah yang untuk pertama kalinya diungkapkan oleh tokoh psikologi Sigmud Freud. Dalam konteks puisi, istilah katarsis ini merujuk pada kemampuan penyair untuk memberikan daya “pembersihan” atau “penyucian” pada diri pembaca dari baris-baris puisi yang diciptakannya.

“Kur 267 karya Rois Abdullah ternyata mampu menjangkau dimensi katarsis untuk “membersihkan” atau “menyucikan” diri pembaca. Untuk mengambil beberapa contoh saja, kita bisa menemukan aspek katarsis dalam Kur 267 seperti yang ada dalam buku ini,” tuturnya.

Lebih jauh Muarif mencontohkan beberapa Kur 267 karya Rois, seperti yang tertuang di bawah ini:

BOJO

Ikhlas

Ora néka-néko

Setia karo bojo

 

TOBAT

Laknat

Anak bojo minggat

Tobat dunya akhéra

 

CANGKEM

Dobol

Dunya pating enggon

Cangkem umbrus ngedebus

 

BPJS

Laknat

Garong BPJS

Rakyat klenger ngadeg

 

DIEMBAT

Nyogok

Dosa ora katon

Halal haram diembat.

Lanjut Muarif Esage, diharapkan di dalam penguasaan teknik penulisan Kur 267 sangat penting. Hal tersebut, katanya, agar bentuk karya puisi pendek ini tetap berada dalam kerangka estetikanya.

“Hanya sayangnya, pada pemilihan kata lokén dalam karya Kur 267 milik Pak Rois ini belum berhasil membentuk daya imajinatif pembacanya,” pungkas Muarif yang sehari-harinya sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Slawi, Kabupaten Tegal, telah menulis beberapa buku tentang puisi Tegalan. Diantaranya buku biografi sastrawan Tegal berjudul: “Lanang Setiawan Penjaga Bahasa dan Pelopor Sastra Tegal”, “Dwi Ery Santoso Presiden Penyair Tegalan”, dan masih banyak lagi termasuk buku yang mengupas tentang sajak-sajak dan esai penyair Afrizal Malna berjudul: “Puisi, Idelogi, dan Pembaca yang Terkalahkan”.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita