Kamis, 23/01/2020, 23:58:31
Mindayani, 40 Tahun Membuat Kue Dodol Kranjang Khas Imlek
LAPORAN NINO MOEBI

Menjelang perayaan Imlek, dodol kranjang buatan Mindayani Wirdjono atau Oey Tong Gwat di Jalan Blimbing 84 Kota Tegal, kebanjiran pesanan. (Foto: Nino)

PanturaNews (Tegal) - Tahun Baru Imlek identik dengan kue dodol keranjang. Di Kota Tegal, Jawa Tengah, seorang warga Tionghoa yang masih konsisten selama 40 tahun membuat penganan dodol keranjang.

Mindayani Wirdjono atau Oey Tong Gwat (79), perajin dodol keranjang warga Jalan Blimbing 84 Kota Tegal, dengan merek usaha ‘Prima Rasa dan Sido Makmur ini, menekuni membuat dodol keranjang sebagai usaha musiman saat Imlek tiba.

Dengan dibantu dua asisten dan 40 pekerja, memproduksi kue dodol keranjang sebanyak 300 kilogram per hari. Menurut tradisi warga Tionghoa, jajanan khas dodol keranjang akan disajikan saat Imlek, dan merupakan persembahan bagi para Sinbeng (dewa).

Dinamai dengan dodol keranjang, karena memiliki sebuah filosofi. Dimana pada masanya, dodol disajikan kepada dewa dengan menggunakan anyaman bambu yang menyerupai keranjang, sehingga kini familiar dikenal dengan nama dodol keranjang.

"Dodol keranjang identik dengan Imlek. Memproduksi dodol agar hasilnya bagus, semua yang terlibat, baik karyawan maupun pemilik harus bahagia dan ceria, dilarang bersedih atau marah. Pasalnya, sesuai kepercayaan, jika saat pembuatan diliputi perasaan sedih, maka hasil kue dodol keranjang tidak akan bagus," kata Mindayani saat ditemui di kediamannya, Kamis 23 Januari 2020.

Untuk resep kue kranjang itu dibuat dari campuran beras ketan dan gula merah yang diaduk hingga merata. Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berupa keranjang-keranjang kecil, dan dikukus dalam panci berukuran besar selama kurang lebih 12 jam.

Dalam satu hari, Mindayani bisa memproduksi kue kranjang hingga tiga kwintal. Pelangganya tidak hanya dari Tegal saja, melainkan juga datang dari kota-kota besar, seperti Semarang, Pekalongan, Bandung, Solo dan Jakarta.

Untuk harga per satu kue kranjang dijual Rp 5.000. Sedangkan untuk satu dus (10 kg) dijual dengan harga Rp 100.000. Adapun varian rasanya terdiri dari rasa original, pandan dan cokelat.

Dodol kranjang buatan Mindayani mampu bertahan hingga dua bulan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kue tersebut bisa bertahan sampai satu tahun. Karena berdasarkan cikal bakalnya, dodol kranjang merupakan kue yang dijadikan bekal orang China saat melakukan perjalanan jauh.

“Saya mulai memproduksi sejak awal Januari. Sama seperti perayaan umat Islam, usai diproduksi saya juga membagikan kue dodol kranjang kepada kerabat dan tetangga dekat. Jika umat Islam memberikan ketupat sayur, saya memberikan dodol kranjang,” pungkas Mindayani.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita