Minggu, 05/01/2020, 15:12:55
Ayyub Baca Puisi Tegalan, Para Seniman Debat Soal Kur 267
Laporan Tim PanturaNews

Penyair Mohammad Ayyub saat membaca puisi Tegalan dan Kur 267, dilanjutkan oleh Rosi Ariyani kemudian diskusi dengan pembicara Muarif Esage dan Suriali Andi Kustomo. (Foto: Dok KST)

PanturaNews (Tegal) - Pembacaan puisi Tegalan dan “Kur 267” (baca: Loro-enem-pitu), Sabtu 04 Januari 2020 pukul 19.30 Wib di Waroeng Si Oz Kalibuntu di Jalan Sumbing 20 Kota Tegal. Acara ini bertajuk gelar “Sastra Tegalan Ngobong Tegal Nyuwek Layar”, diselenggarakan Komunitas Sastrawan Tegalan.

Perhelatan tunggal baca puisi Tegalan penyair Mohammad Ayyub malam itu, berlangsung gayeng dan cukup sengit dengan perdebatan adanya kelahiran genre Sastra Tegalan terbaru yang dinamai “Kur 267” dan “Wangsi” (Wangsalan Puisi).

Perdebatan terjadi ketika berlangsung acara diskusi, seusai pembacaan puisi tegalan oleh Muhammad Ayyub dan bintang tamu Rosi Ariyani, salah satu warga setempat.

Menurut Ketua Penyelenggara, Dwi Ery Santoso, ada lima puisi bernapaskan Tegalan karya penyair Mohammad Ayyub yang dia bawakan, yakni Umah 1, Umah 2, dan Umah 3 yang terhimpun dalam buku “Republik Tegalan Antologi Puisi” yang diterbitkan Balai Bahasa Jawa Tengah.

Kecuali itu membacakan dua beberapa puisi Tegalan yang terhimpun dalam buku “Wulan Ndadari” terbitan Banyumas. Selain puisi Tegalan, Ayyub pun membacakan beberapa puisi pendek berbahasa Tegalan bertajuk “Kur 267”, yakni yang berjudul Nem Likur, Pegat, dan Moncér (Lanang Setiawan), Apes, Gowéng (Dwi Ery Santoso), Nikmat, dan Adem karya Moh. Abduh Syukur, TKI yang mukim di Kota Dubai, Uni Emirat Arab. Sementara Ayyub sendiri membawakan tiga karya “Kur 267” berjudul Pepestén, Masakha, dan Diwayuh.

“Sedang untuk mba Rosi Ariyani, bintang tamu dari daerah setempat, membawakan puisi Tegalan berjudul Sebayu karya Lanang Setiawan,” ujar Dwi Ery Santoso yang kondang dengan sebutan Presiden Penyair Tegalan.

Ditambahkan Ery, giliran sesi diskusi tampil dua pembicara Muarif Esage, penulis buku dan kritikus, dan seniman Suriali Andi Kustomo. Baik Muarif maupun Suriali, adanya digelar acara tersebut amat baik senyampang gerakan Sastra Tegalan semakin menggejalan di tengahtengah masyarakat Tegal.

Sementara menurut Muarif, munculnya puisi pendek “Kur 267”, karena kegelisahan Lanang Setiawan selama ia menulis Haiku berbahasa Tegalan. Dari kegelisanan tersebut, lantas pada malam 2 Januari 2020, berlima kawannya berdiskusi kenceng. Mereka adalah Dwi Ery Santoso, Muarif  Esage, Lanang Setiawan, Mohammad Ayyub, dan Roso Benan si pemilik Waroeng Si Oz.

“Dari diskusi cukup sengit itu, akhirnya lahir puisi pendek yang dinamai Kur 267. Istilah Kur 267 lebih terasa ekspresif bila diucapkan dalam bahasa Tegal: Kur Loro-Nem-Pitu,” jelasnya.

Lebih jauh Muarif memaparkan, istilah Kur 267 dalam struktur penulisannya berjumlah tiga baris. Baris pertama 2 suku kata, berupa kata sifat/keadaan, baris kedua 6 suku kata berupa kalimat yang menggambarkan peristiwa, dan baris ketiga 7 suku kata berupa kalimat yang menunjukkan sebuah penutup yang mengandung “akibat” sebagai konsekuensi dari hubungan kausalitas dengan baris kedua.

“Hal yang sama juga pada genre baru puisi Tegalan yang dinamai “Wangsi” (baca: Wangsalan – Puisi). Kelahiran Wangsi ini digagas oleh Lanang Setiawan dan Dwi Ery Santoso. Struktur penulisannya dibuka dengan wangsalan, selanjutnya puisi bebas, kemudian wangsalan lagi dan ditutup dengan teks puisi. Di antara keduanya harus kait-mengait. Menulis Wangsi ini paling sedikit ada dua wangsalan.”

Sementara itu pembicara kedua, Suriali Andi Kustomo merasa lahirnya aliran baru puisi pendek Tegalan tersebut, dirasa sangat elite.

“Selama ini, bikin puisi Tegalan saja sulit. Sekarang muncul aliran baru yang menggunakan aturan. Saya kawatir barang kali nantinya hanya diikuti oleh seniman Tegalan saja,” papar Andi.

Hal demikian dijawab kemudian Dwi Ery Santoso, bahwa kekawatiran Suriali Andi Kurtomo sudah mampu diatasi, sehubungan pada saat ini sudah menerbitkan dua buku kumpulan Wangsi berjudul “Ngopéni Tradisi Nganyap Puisi” dan “Pada Baé Asuné”.

“Untuk bulan Februari, Insya Allah, segera terbit kumpulan Kur 267 dan Wangsi,” ujar Ery menutup bincang.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita