Minggu, 08/12/2019, 14:27:17
Nilai Strategis Perempuan Dalam Masyarakat
Oleh: Siti Zulaeka

Budaya patriarki dalam sebuah masyarakat masih sangat mengakar hingga saat ini. Problematika yang sekarang sedang dialami perempuan ialah bahwa dirinya belum merasa merdeka semuanya karena masih terikat dengan budaya. Namun energi positif yang dimiliki oleh seorang perempuan bahwa dalam diri perempuan terdapat sebuah magnet. Jika magnet tersebut digunakan dengan baik tentu akan bertimbal balik baik pula, namun jika tidak sudah pasti yang akan didapat hanya energi negatif saja.

Perempuan dalam kehidupan memiliki empat peran. Pertama sebagai putri, sebagai putri dsini bahwa seorang perempuan harus merasa dirinya menjadi seorang putri. Kedua perempuan sebagai isteri, setelah perempuan melakukan peranannanya sebagai seorang putri tentu akan bermetafosa menjadi seorang isteri dari suaminya, tugas dari seorang isteri tentu sudah harus diketahui oleh sang perempuan tersebut sehingga dalam hal ini perempuan mampu menjadi teman dalam suasana apapun untuk suaminya.

Ketiga, perempuan sebagai ibu hal ini sudah pasti akan dialami oleh seorang perempuan jika sudah dikaruniani seorang anak. Perempuan sudah dinibatkan dirinya sebagai madrasatul ula bagi anaknya, kenapa harus seorang perempuan? Karena perempuan sudah memiliki rasa kasih dan sayang dalam merawat anaknya dari benih hingga menjadi dewasa tentunya, namun bukan berarti sebagai lelaki diberi kebebasan dalam hal ini peran ayah juga sama sudah tentu sinergitas sangat diperlukan dalam hubungan rumah tangga.

Keempat, perempuan sebagai tokoh masyarakat. Daya tarik perempuan tentu sangatlah besar. Sering dijumpai da;am kehidupan era sekarang bahwa banyaknya kegiatan perempuan seperti arisan, ngerumpi, kumpul-kumpul, jalan-jalan dan hal tersebut didominasi oleh perempuan.

Sebenarnya jika perena keempat kita perkankan dalam sebuah kenegatifan tentu perempuan sangat berperan sekali dalam masyarakat. Perempuan bisa melakukakn kegiatan pendidikan masyarakat, pendidikan khusus perempuan seperti membina rumah tangga bahagia, tentang kesehatan, dan tentang keagamaan. Sekarang yang masih berjalan dengan baik yaitu kegiatan pengajian, muslimatan dan sebagainya.

Realita yang sudah nampak adalah perempuan satu dan lainnya saling menjatuhkan atau saking bersaing, sehingga tidak adanya kekuatan bagi kaum perempuan. Perempuan lebih suka andil dalam hal kesenangan daripada perjuangan, sehingga perempuan terlihat lemah. Bahkan nilai strategis perempuan dalam masyarat ialah mengaktifkan kembali kegiatan masyarakat yang agamis dan kreatif sehingga mengurangi banyaknya ibu-ibu yang sering kumupul-kumpul tanpa memberi kemnfaatan.

Jadilah perempuan yang suka menebar kemanfaatan bukan kecantikan. Perempuan yang profesional dalam hal apapun. Perempuan yang bermetaforsa dalam bahagia. Tetaplah menjadi perempuan yang berkontribusi untuk agama dan bangsa.

(Siti Zulaeka adalah Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Univeristas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita