Kamis, 05/12/2019, 17:10:45
Saatnya Desa Memberdayakan Masyarakat Kreatif
Oleh: Wahyu Syaefulloh

Masyarakat telah mengakui dan berlomba-lomba untuk menciptakan citra daerah yang lebih baik, tidak lain dalam kreatifitas dan inovasi yang berbasis ekonomi maupun budaya. Citra daerah merupakan sebuah identitas, simbol yang menjadi daya tarik menjadikan manusia terbawa kedalam fikiran untuk menggambarkan (imajinasi) sebuah daerah yang memiliki kelebihan dari daerah lain baik yang berkaitan dengan wisata, produk kerajinan ataupun kretifitas yang lainya.

Disadari atau tidak masyarakat kreatif ini sering kita jumpai dalam semua lapisan masyarakat entah itu seniman, mahasiswa, sastrawan, wirausahawan atau konspetor-konseptor di bidang pariwisata dan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang memiliki daya lebih dalam membuat ide-ide dan gagasan untuk membangun daerah, dunia mengakui pada hakikatnya masyarakat Indonesia memiliki kelebihan yaitu gotong royong dan semangatnya dalam inovasi dan kreatifitas. Seperti yang dikemukakan oleh Trompenaar dan Hamden-Turner (1998) dimana orang Indonesia cenderung menempatkan kepentingan kelompok daripada kepentingan individu, bisa diartikan bahwasanya masyarakat Indonesia menjunjung tinggi kepentingan bersama.

Mengenal masyarakat kreatif, sebelum membahas lebih jauh alangkah baiknya mari kita definisikan apa itu kreatif? Menurut Zimmerer dkk. (2009) kreatif adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam melihat masalah dan peluang, masyarakat kreatif ini orang-orang yang memiliki ide dan gagasan untuk menemukan cara untuk menjawab sebuah masalah dengan keahlian di bidang masing-masing, baik dalam konteks budaya, ekonomi dan sosial.

Seperti contoh Bapak Heriwanto S.Pdi, MP.i dengan komunitas craft nya yang merubah limbah plastik menjadi bahan yang berguna bahkan bernilai jual tinggi, atau para pegiat wisata yang merubah tempat biasa menjadi luar biasa, dan satrawan-sastrawan Tegalan yang diinisiasi oleh Lanang Setiawan, Drs. Atmo tan Sidik, dan Dr. Maufur yang menjadikan kota Tegal memiliki khas tersendiri dalam dunia sastra. Ini merupakan bagian kecil dari masyarakat-masyarakat kreatif yang telah muncul dari permukaan, masih banyak lagi masyarakat-masyarakat kreatif yang perlu di gali dan di dukung oleh pemerintah daerah, bahkan pejabat desa yang menjadi ujung tombak peradaban.

Permasalahanya dalam sebuah sistem kemasyarakatan dibatasi dan didukung oleh sebuah peraturan, memang bahwa di era pemerintahan sekarang kreatifitas memiliki dukungan dari pemerintahan pusat sebagai contoh di bidang ekonomi yang kita kenal dengan ekonomi kreatif. Hadirnya Perpres No 142 Tahun 2018 Tentang Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional Tahun 2018-2025 dalam pasal 8 menjelaskan dari jajaran menteri hingga Bupati ikut berperan dalam mengembangkan ekonomi kreatif, agar bisa menyentuh dan mengembangkan kreatifitas di tingkat masyarakat desa. Sebenarnya ini sangat memudahkan untuk pelaku-pelaku kreatif di bidang ekonomi.

Kemudian bagaimana kira-kira praktek pembangunan kreativitas di tingkat lingkup terkecil (desa) bisa melalui Bumdes atau swadaya lain, nampaknya belum seluruhnya berjalan sesuai dengan idealnya, banyak masyarakat kreatif ditinggalkan bahkan tidak terakomodir. Bumdes yang seharusnya menjadi tempat masyarakat kreatif ini untuk berkarya demi daerahnya, dijadikan pos-pos penting untuk kolega atau kawan politiknya saja. Ruang kreatifitas ini menjadi sempit dan mungkin tidak berkembang.

(Penulis Wahyu Syaefulloh adalah mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu (UPB)  Jurusan Manajemen)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita