Selasa, 26/11/2019, 14:03:00
Muarif: Sastra Tegalan Sebagai Puncak Kehormatan
LAPORAN SL. GAHARU

Muarif Esage saat berbicara pada Kongres Sastra Tegalan di UPS Tegal (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) – Sastra Tegalan, khususnya puisi Tegalan terlalu naif bila hanya diposisikan sebagai teks yang menggunakan bahasa Tegal, dengan konteks linguistik para penuturnya. Puisi Tegalan ke depan, adalah puisi yang telah melampaui batas teks dan konteks itu.

Jangan lagi membaca puisi Tegalan sebagai produk teks bahasa lokal dengan konteks budaya yang sempit. Akan tetapi harus berani membaca puisi Tegalan dalam pertumbuhannya dengan sastra Indonesia dan sastra dunia.

Pernyataan itu disampaikan Muarif Esage saat menjadi pembicara pada Kongres Sastra Tegalan Ke-1 di Auditorium Universitas Pancasakti (UPS) Tegal Jalan Halmahera Kota Tegal, Jawa Tengah, Selasa 26 November 2019.

“Sastra Tegalan adalah puncak kehormatan tertinggi bahasa Tegalan, sastra adiluhung yang mengucap bahasa ibu untuk mengubah streotif bahasa menjadi ‘parole’ estetik,” katanya.

Menurut Muarif pada makalahnya, tidak ada yang berubah dari perjalanan panjang puisi Tegalan yang kini memasuki tahun ke-25, sejak kemunculannya dalam peta perpuisian di tahun 1994. Tidak adanya perubahan itu, sebagai bentuk konsistensi para pelaku puisi (juga prosa) Tegalan, untuk berpegang pada “ideologi-keibuan” mereka yang tidak beralih atau meninggalkan ekspresi puitik dan prosais dari dunia familiernya.

“Puisi Tegalan yang saya lihat tetap mempunyai akarnya, meski pada fase tertentu, kini mengalami semacam bentuk akan berubah, namun inti sarinya tetaplah sama,” katanya.

Membaca dan memperlakukan puisi Tegalan, lanjut Muarif, menjadi pilihan di tengah-tengah rutinitasnya mengajar di sekolah. Kerja membaca dan menuliskannya menjadi sebuah kritik sastra, baginya merupakan kerja apresiatif dengan memperlakukan puisi Tegalan dalam bentuk kajian tertulis.

“Saya merasakan telah menjadi pembaca yang lebih beradab, untuk menempatkan karya puisi Tegalan di tingkat akademis. Bukan puisi Tegalan yang hanya menjadi bahan perbincangan sekilas, apalagi sekadar basa-basi budaya,” papar Muarif.

Diketahui, Muarif Esage adalah guru SMA Negeri 1 Slawi. Karya-karya bukunya yang telah terbit berjudul; Puisi, Ideologi, dan Pembaca yang Terkalahkan, Analisis Esai dan Puisi Afrizal Malna (Penerbit Kekata Publisher, 2017), Bahasa Aku Rajam dengan Doa (Penerbit ASN, 2017), dan Lanang Setiawan, Penjaga Bahasa dan Pelopor Sastra Tegalan (2019), serta kumpulan kritik sastra Rezim Cerita, Politik Literasi, dan Refleksi Atas Kelamin (2018).

Analisisnya atas kumpulan puisi Tegalan Brug Abang karya Dwi Ery Santoso membawanya masuk 10 besar penulis terbaik tingkat nasional oleh Balai Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional pada tahun 2016.

Pada tahun 2017, dinobatkan sebagai juara ke-3 oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam Sayembera Penulisan Kritik Sastra, dengan menganalisis puisi-puisi Afrizal Malna. Kini, Muarif Esage sedang menyiapkan dua naskah bukunya berjudul Dwi Ery Santoso, Presiden Penyair Tegalan dan Apitologi (Apito Lahire Jenderal Monolog Tegal).


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita