Selasa, 26/11/2019, 13:28:44
Dina: ROA Tanda Awal Lahirnya Sastra Tegalan
LAPORAN SL. GAHARU

Dina Nurmalisa saat berbicara pada Kongres Sastra Tegalan (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Pergerakan sastra di Tegal pada tahun 1994, melahirkan satu gagasan baru yaitu sastra tegalan. Pada awal kehadirannya, sastra tegalan dimulai dari pengalihbahasaan puisi berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa dialek Tegal.

Puisi yang dialihbahasakan oleh Lanang Setiawan tersebut, berjudul “Tembangan Banyak” yang semula ditulis oleh penyair WS Rendra dengan judul “Nyanyian Angsa”. Peristiwa ini disemangati oleh keinginan memartabatkan bahasa Jawa dialek Tegal yang sering dianggap sebagai bahasa kelas bawah, menjadi bahasa lawakan, sehingga timbul rasa malu ketika menggunakannya.

Pernyataan itu disampaikan Dina Nurmalisa Sabrawi saat menjadi narasumber pada Kongres Sastra Tegalan Ke-1 di Auditorium Universitas Pancasakti (UPS) Tegal Jalan Halmahera Kota Tegal, Jawa Tengah, Selasa 26 November 2019.

“Usaha Lanang Setiawan ini kemudian diikuti oleh beberapa penyair lainnya, sehingga terkumpulah teks puisi alih bahasa Indonesia ke bahasa dialek Tegal dalam antologi ROA. Dapat dikatakan, kehadiran antologi ROA menjadi penanda awal lahirnya sastra tegalan genre puisi,” ujar Dina.

Menurut sebagimana makalah yang disampaikan, istilah sastra tegalan seringkali diperdebatkan dan bahkan dipertanyakan. Ada yang menyebut sastra tegalan, ada pula sastra Tegal, dan sastra Jawa dialek Tegal. Kiranya perlu disepakati bersama, bahwa teks-teks sastra yang menggunakan bahasa Jawa dialek Tegal tersebut, disebut dengan sastra tegalan.

“Setelah adanya kongres Bahasa Tegal I pada tahun 2006, kiranya kedudukan bahasa Tegal sudah bukan lagi sebagai subbahasa Jawa. Pengakuan ini menjadi hal yang penting karena berkaitan dengan identitas yang sejak awal ingin dibangun, yaitu identitas budaya Tegal, salah satunya melalui bahasa tegalan,” tuturnya.

Akan tetapi, lanjut Dina, proses mendapatkan pengakuan ini tidaklah mudah. Hingga kini, bahasa tegalan masih sering dianggap sebagai bahasa yang marginal ketika hanya digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Lebih lanjut dipaparkan, puisi tegalan merupakan genre yang paling banyak diminati oleh pegiat sastra tegalan. Telah terbit puluhan judul antologi puisi tegalan yang ditulis oleh beragam kalangan, mulai dari penyair, pegiat sastra, pejabat, hingga masyarakat Tegal yang bahkan tidak berkecimpung di bidang sastra.

Sekali lagi, bahwa penulisan sastra tegalan ini dilandasi semangat memartabatkan bahasa tegalan, sehingga keikutsertaan seluruh elemen masyarakat dalam mensukseskan misi tersebut menjadi hal yang penting dan utama. Salah satu cara yang dipilih adalah dengan menggunakan bahasa tegalan sebagai medium karya sastra.

“Kehadiran puisi tegalan yang menggunakan bahasa tegalan sebagai mediumnya, rupanya mampu menguatkan posisi bahasa tegalan yang bermartabat. Pergerakan yang terus dilakukan hingga seperempat abad ini, bukanlah kerja mudah,” katanya.

Menurutnya, beberapa puisi tegalan yang hadir dalam bentuk antologi, belum semuanya berhasil mengusung estetika bahasa puisi. Hal ini dapat dilihat melalui teks-teks puisi yang cenderung menggunakan bahasa lugas tanpa banyak kreativitas untuk menciptakan diksi padat makna. Alhasil, estetika puisi yang diharapkan tidak hadir dalam puisinya.

Ditegaskan dia, perlu diperhatikan bahwasanya puisi memiliki karakter pemadatan kata. Kata yang digunakan oleh penyair untuk menulis sebuah puisi, harus telah dipertimbangkan sedemikian rupa sehingga yang hadir dalam teks adalah kata yang padat makna.

“Selain itu, penggunaan simbol-simbol juga penting agar tercipta pemaknaan teks yang tidak biasa, yang berbeda dengan bahasa sehari-hari, sebagaimana ciri bahasa sastra yang membedakannya dengan bahasa yang lain. Dengan demikian, estetika bahasa puisi juga dapat dihadirkan dalam teks puisi tegalan, melalui diksi yang padat makna dan kaya akan simbol,” ujarnya.

Menutup ceramahnya, Dina mengatakan bahwa tugas penting yang harus diusung bersama saat ini, adalah memosisikan sastra tegalan sebagai identitas budaya Tegal. Hal ini perlu dilakukan mengingat banyak sekali peradaban yang dikenal oleh seluruh masyarakat dunia melalui teks-teks sastranya.

Para pegiat sastra, kata Dina, tidak berhenti menciptakan karya kreatifnya dan setia pada jalur sastra tegalan, para pemilik kewenangan mendukung melalui kebijakan yang berpihak dan memfasilitasi kebutuhan literasi, para akademisi terus melakukan aktivitas ilmiah dalam rangka menemukan konsep-konsep baru sastra tegalan, para pendidik mengajarkan konsep dan memotivasi anak didiknya untuk menjadi generasi pegiat sastra tegalan, dan masyarakat terus berupaya mendukung dengan menguatkan rasa bangga memiliki bahasa dan sastra tegalan sebagai penanda identitasnya.

“Tentu saja hal ini bukan kerja yang mudah, tetapi bukan berarti sulit untuk dikerjakan. Kita dapat memulainya dari diri sendiri, melalui rasa bangga memiliki penanda identitas budaya Tegal, yaitu sastra tegalan,” tandasnya.

Diketahui, Dina Nurmalisa Sabrawi lahir di Pekalongan, 21 Oktober 1986. Menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Pekalongan, lalu melanjutkan studi jenjang pendidikan tinggi di Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro, dan kini tercatat sebagai mahasiswa program Doktor Ilmu Susastra Universitas Indonesia (UI).

Dina sedang meneliti puisi tegalan sebagai bahan kajian disertasinya dengan aspek kajian struktur teks puisi tegalan dan konstruksi identitas Tegal dalam tiga antologi puisi tegalan. Ia mengajar di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pekalongan.

Beberapa penelitian mengenai puisi tegalan telah dipublikasikannya dalam forum ilmiah tingkat nasional dan internasional. Beberapa tulisannya tergabung dalam antologi yang diterbitkan oleh Komunitas Sastrawan Tegalan, baik dalam bentuk puisi maupun esai. Cita-citanya kini adalah mengawal sastra tegalan go international.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita