Selasa, 26/11/2019, 11:31:33
Wijanarto: Ruh Sastra Tegalan Harus Dikuatkan
LAPORAN SL. GAHARU

Wijanarto saat berbicara di Kongres Sastra Tegalan (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Pengakuan atas eksistensi sastra Tegalan diberikan lembaga kuncen bahasa sekelas Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, saat menggelar perhelatan sarasehan sastra Tegalan pada pertengahan Agustus lalu. Tentu dalam perbincangan sastra, sastra Tegalan sebanding dengan pembicaraan kajian sastra kedaerahan di Indonesia, meski secara morfologi kewilayahan, Tegal tetap dianggap sebagai kawasan yang berbahasa.

Apa yang menarik di balik revivalisme sastra Tegalan jika dilihat dari narasi sejarah, bermula dari proses alih bahasa karya-karya penyair seperti Rendra, Taufik Ismail dan lain-lain dalam bahasa Tegalan dengan tajuk Roa, dinyatakan Wijanarto saat menjadi pembicara pada Kongres Sastra Tegalan Ke-1 di Auditorium Universitas Pancasakti (UPS) Tegal Jalan Halmahera Kota Tegal, Jawa Tengah, Selasa 26 November 2019.

Menurut Wijanarto dalam makalahnya, momentum tersebut kemudian ditabalkan dengan muncul publikasi media dengan bahasa Tegalan. Setidaknya ranah sastra Tegalan beroleh tempat. Ia didokumentasikan, diperbincangkan dan menjadi mahzab sastra kedaerahan selain sastra Jawa yang selama ini dikenal.

“Lalu sebelumnya adakah dinamika kesusastraan di Tegal dalam konteks mengelaborasi konteks kelokalan? Misalkan teks pada kesenian balo-balo, wangsalan dan tembang pada permainan tradisional dikategorikan sebagai produk sastra Tegalan. Ataukah suluk dalang glétak macam mendiang Ki Suéb dan Ki Bagja tergolong sastra Tegalan,” katanya.

Wijanarto memaparkan, Balo-balo sebagai diniscayai sebagai seni tradisional Kota Tegal memiliki lirik puitis penuh dengan maknawi. Berbeda dengan hadroh atau sakral, yang teksnya berbahasa Arab atau naskah Barzanji, balo-balo teksnya berbahasa Tegalan. Diiringi terbang kencér, kempling, kempyang dan gong beberapa teks balo-balo, menunjukkan kekocakan.

Menurutnya, sebagai bahasa lokal, bahasa Tegal menumbuhkan ruang ekspresif yang membedakan dengan bahasa Jawa pada umumnya. Ini dibuktikan dengan beberapa momen dimana bahasa Tegal menunjukkan pengaruh yang luar biasa sebagai alat perlawanan.

Tahun 1998, KotaTegal akan dikenang sebagai salah satu kota di pesisir utara Jawa yang pertama kali melengserkan seorang Walikota dari kalangan. Collapse politik lokal tersebut mendorong ide bagi pelaksanaan desentralisasi politik dan formulasi pemilihan Kepala Daerah secara langsung.

Setidaknya dari peristiwa collapse politik 1998 itu, para pemimpin di Kota Tegal belajar bagaimana melakukan proses komunikasi politik dan menghayati sikap kenegarawanan. Dari ontran-ontran politik tersebut, yang menarik ialah peran bahasa Tegal dalam menjebol kekuasaan melalui gelaran seni perlawanan yang digerakkan mahasiswa dan seniman.

“Perlawanan kembali digerakkan saat kepemimpinan Siti Masitha Soeparno. Bahasa menjadi perekat sekali simbol ekspresif perlawanan. Sajak-sajak pamflet ala Tegalan bersliweran. Grememetnya sang penyair dilampiaskan pada lirik Kesumat-nya Lanang Setiawan,” tutur Wijanarto.

Pernyataan yang menunjukkan keinginan sastra Tegalan mendobrak pembatasan terminologi morfologi kewilayahan dan kebahasaan yang selama ini melingkupi pengertian apa itu sastra Tegalan. Mempromosikan melalui penerjemahan karya-karya puisi Tegalan (baru sebatas karya puisi) melalui bahasa lisan, tentunya membutuhkan ketelitian, bagaimana ruh dan substansi yang diinginkan penulisnya tidak hilang. Banyak karya sastra yang diterjemahkan hilang substansi. Oleh karenanya tentu ini menjadi keseriusan.

Lebih lanjut dipaparkannya, persoalan berikutnya adalah cukupkah sastra Tegalan berpuas diri sebatas pada gerakan sastra? Sementara ada gagasan tidak hanya gerakan sastra, mengingat dibutuhkan laboratorium budaya yang mengeksplorasi Tegal bukan hanya dari sisi kebahasaan. Bukankah seorang Lanang Setiawan, Tambari Gustam, Dwi Ery Santoso, S.L Gaharu, Nurngudiono, Dyah Setyawati, Maufur, Ipuck NM. Nur, Apas Khafasi, Apito Lahire, Moch. Hadi Utomo, Atmo Tan Sidik, Muhammad Ayyub, Denok Harti, Yono Daryono, pada mulanya mereka terpesona dari eksplorasi budaya Tegal dan tradisi Tegal.

“Terhadap problem ke depan tersebut, sudah semestinya ruh sastra Tegalan yang dikuatkan dari sisi kebahasaan, mesti menjaga suasana batiniah ketegalannya agar tidak menguap,” tandasnya.

Diketahui, Wijanarto terlahir di Tegal 27 Agustus 1971. Reriungan sastra dimulai sejak bergabung dengan Teater Puber saat bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Tegal. Beberapa artikelnya dimuat di mingguan Simphoni, Kedaulatan Rakyat (KR), Suara Merdeka, Republika, Bernas dan Harian Kompas.

Selepas dari SPG melanjutkan nyantri di kampus Dukuhwaluh tepatnya Universitas Muhammadiyah Purwokerto selama 6 tahun. Tahun 2014 memilih mengkhatamkan di jalur magister Ilmu Sejarah Undip Semarang.

Baginya menulis adalah proses aktualisasi di tengah menjalani pekerjaan sebagai binnelands bestuur di Bidang Kebudayaan Dinbudpar Kabupaten Brebes. Wijarno banyak menilis beberapa kajian penelitiaannya dan artikel popular. Sekarang berdomisili di Desa Kertasinduyasa, Jatibarang, Brebes.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita