Selasa, 26/11/2019, 11:18:05
Dalam Karya Sastra Tegalan Terkandung Pemikiran
LAPORAN SL. GAHARU

Dr. Tri Mulyono saat berbicara di Kongres Sastra Tegalan (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Melalui makalahnya yang disampaikan pada Kongres Sastra Tegalan Ke-1 di Auditorium Universitas Pancasakti (UPS) Tegal Jalan Halmahera Kota Tegal, Jawa Tengah, Selasa 26 November 2019, Dr. Tri Mulyono mengatakan bahwa sastra tegalan adalah sastra daerah, karena ditulis dalam bahasa daerah.

Dalam makalahnya dia mengatakan, sastra tegalah ditulis dalam bahasa Jawa dialek Tegal. Bahkan sastra tegalan ditulis oleh sastrawan Tegal yang tinggal di daerah Tegal, misalnya Lanang Setiawan, Dwi Ery Santoso, Tambari Gustam, Atmo Tan Sidik, Yono Daryono, dan Maufur.

“Oleh karena itu, sastra tegalan ada karena untuk melanjutkan tradisi bersastra yang telah ada sejak dahulu kala, yaitu tradisi bersastra era Jawa Kuna. Tradisi bersastra era Jawa Kuna aktivitasnya berada di lingkungan istana. Sastra tegalan ditulis oleh sastrawan biasa,” tutur Tri Mulyono.

Jika sastra Jawa Kuna ditulis oleh pujangga di dalam istana, sastra tegalan ditulis oleh sastrawan yang berada di luar pemerintahan. Namun tetap menyuarakan persoalan yang terjadi di dalam pemerintahan.

Dia mencontohkan, Kumpulan Puisi Tegal Sumbu Péndék karya Lanang Setiwan (2015) misalnya, menyuarakan peristiwa yang terjadi pada Pemerintahan Kota Tegal pada era Siti Masitha Suparno. Hal yang sama juga ditemukan pada kumpulan puisi Nawu dan Ndoro Binyak.

Tradisi bersastra yang menyuarakan situasi dan kondisi yang terjadi di dalam pemerintahan perlu diteruskan, akan menjadi dokumentasi peristiwa dan kritik yang membangun bagi penguasa. Seandainya Siti Masitha mau membaca kritik-kritik yang ditulis pada ketiga kumpulan puisi itu, peristiwa malam Selasa naas yang menimpa dirinya, kemungkinan tidak akan terjadi.

“Tradisi bersastra juga menjadi sarana pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi yang akan datang. Oleh karena itu, tradisi bersastra juga merupakan sarana pendidikan,” ujarnya.

Menurut Tri Mulyono, dalam Ruwat Désa dikatakan global itu lokal, Indonesia itu desa, sastra itu puisi. Globalisasi harus disambut dengan lokalisasi. Berbagai produk kearifan lokal harus bisa dijunjung tinggi untuk tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat Tegal.

Bukan sebaliknya. Karya sastra tegalan misalnya, harus diekspos sedemikian rupa sehingga meningkatkan citra masyarakat Tegal itu sendiri. Hal itu disebabkan sastra tegalan berisi ide, konsep, pemikiran serta impian-impian masyarakat Tegal itu sendiri. Sastra tegalan berisi pelajaran-pelajaran hidup bagi masyarakat Tegal. Bukan sebaliknya, dengan alasan globalisasi masyarakat lebih suka menggunakan produk asing daripada produk sendiri.

“Harus ada hubungan kerjasama yang baik antara masyarakat dengan pemerintah. Tugas masyarakat adalah menghasilkan produk lokal, sedangkan tugas pemerintah adalah menyediakan peragkat hukum yang dapat memasarkan produk lokal itu untuk menyejahterakan masyarakat Tegal itu sendiri,” ulasnya.

Jadi menurut Tri Mulyono, disimpulkan sejumlah hal, pertama yaitu para sastrawan Tegal menulis sastra tegalan karena untuk meneruskan tradisi, yaitu tradisi bersastra yang sudah dimulai di Jawa sejak zaman Jawa Kuna.

Kedua, para sastrawan Tegal memilih menulis karya sastra tegalan karena sebagai sarana pendidikan, yaitu menyampaikan nilai-nilai pendidikan kepada masyarakat Tegal pada khususnya dan masyarakat Indonesia.

Ketiga, sastrawan Tegal memilih berekspresi dalam sastra tegalan karena untuk menciptakan dunia baru. Yang dimaksud dengan menciptakan dunia baru adalan menjawab tantangan globalisasi dengan cara kembali kepada nilai-nilai lokal yang sudah ada.

“Maka diharapkan pemerintah Kota Tegal meresponnya dengan positif, yaitu dengan cara memperhatikan suara sastra yang telah ditulis oleh para sastrawan Tegal, baik yang ditulis dalam bentuk puisi tegalan, cerpen tegalan, maupun novel tegalan. Hal itu disebabkan dalam setiap karya sastra tegalan terkandung di dalamnya ide, pemikiran, impian-impian masyarakat Tegal itu sendiri,” tandasnya. 

Diketahui, Dr. Tri Mulyono lahir di Desa Botekan, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Setelah lulus SMA Negeri Pemalang melanjutkan ke Fakultas Sastra Undip (lulus 1990), ke S.2  Ilmu Pendidikan Bahasa UNNES (lulus 2007), ke S.3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNNES (lulus 2018).

Sejak 1992, Tri Mulyono menjadi dosen tetap Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidika (FKIP), Universitas Pancasakti (UPS) Tegal untuk matakuliah Puisi Indonesia, Kritik Sastra, dan Sastra Tegalan.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita