Sabtu, 09/11/2019, 18:50:47
Pendidikan Sebagai Ladang Bisnis
Oleh: Astri

Salah satu permasalahan yang ditemui hampir di setiap sekolah adalah pembayaran SPP atau uang bulanan siswa yang disangkutkan dengan pelaksanaan ujian. Contoh yang terjadi adalah persyaratan untuk mengikuti ujian adalah jika siswa telah selesai melunasi biaya tunggakan SPP.

Biasanya cara ini di salah gunakan oleh tenaga kependidikan yangmenggarap tentang administrasi sekolah. Dengan tujuan memenuhi segala kekurangan dalam pekerjaannya menyangkut dengan bagian administrasi.

Padahal sebuah pendidikan itu memiliki tujuan untuk menciptakan pribadi berkualitas dan memiliki karakter sehingga mempunya visi yang luas kedepan untuk menggapai cita-cita yang diharapkan serta mampu beradaptasi secara efisien dalam berbagai lingkungan.

Jadi salah satu konsep pendidikan itu sendiri adalah untuk sarana motivasi diri supaya menjadi lebih baik. Jika kegiatan siswa saja dapat dengan sengaja dihambat, bagaimana siswa dapat memiliki motivasi diri? Apalagi untuk siswa yang kurang mampu.

Pendidikan seharusnya tidak menjadi sebagian negatif dari apa yang menjadi berita. Berita pendidikan seringkali diwarnai dengan banyaknya kasus yang tidak senonoh sekali. Tidak selaras pendidikan yang ada. Sehingga mindset setiap orang kepada pendidikan tentu sangat negatif.

Saat ini yang sedang terjadi pendidikan sama halnya dengan perusahaan yang menjanjikan bisnis-bisni dengan berlimpahan uang. Siswa-siswa bukan  dididik dengan sesuai tujuan pendidikan indonesia, namun lebih kepada dijadikan teman atau hanya sekadar pemenuh keuangan.

Kasus-kasus yang terjadi saat ini, bukan lagi keoada kekerasan yang ada. Kasus kekerasan dan pencabulan sudah menjadi jambalan bagi dunia pendidikan, sehingga tidak asing lagi kasus tersebut. Sampai pada guru Pegawai Negeri Sipil yang masuk juga dalam kasus pencabulan tehadap anak didiknya.

Pemerintah tidak lagi memebrikan jaminan kesejahteraan dan kesehatan kepada pendidikan, yang ada dalam pemikiran hanyalah rakyat akan sejahtera jika dengan uang. Nyatanya jika dianalisis saat ini, semakin banyak uang yang dikeluarkan akan semakin banyak permsalahan yang didapatkan.

Permasalahan yang terjadi diatas merupakan sebuah permasalahan yang saat ini sedang dihadapi. Penamaan sekolah swasta dan negeri menjadi kecendrungan terhadap sekolah tersebut. Banyak yang mengatakan sekolah negeri, semua biaya dari pemerintah namun masih mengandalkan uang orang tua untuk pembayaran gedung dan lain sebagainya. Berbeda dengan sekolah swasta uang pembayarannya masih mengandalkan biaya sekolah, biaya pemerintah hanya ketika mendapatkan bantuan saja.

 Perekonomian di indoensia memang tidak bisa disama ratakan. Sudah seharusnya hal demikian disadari oleh para pejabat negara. Sehingga adanya keadilan untuk sekolah swasta dan negeri, dengan biaya yang tidak memiskinkan warga negara.

Indoensia adalah negara yang sejahtera dengan berbagai kekayaan yang telah dimiliki. Harta kekayaan indonesia jika dirawat dengan baik, tentu tidak adanya kesengsaran yang terjadi untu masyarakat. Memang sudah seharusnya masyarakat indonesia sadar akan perjuangan pahlawan yang telah guur, sehingga kita mampu menjaga harta kekayaan indonesia dan tidak lagi mengeluh akan arti keadilan.

(Astri adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita