Selasa, 05/11/2019, 00:28:08
Penerbangan Terakhir Dari Maroko-Spanyol-Jakarta
Oleh: H. Tambari Gustam

Penulis bersama pramugari asal Bosnia, Irinea yang muslimah saat naik pesawat Qatar Air Ways, Senin 04 November 2019.

Udara pagi di Hotel Melia Sky, Kota Barcelona, Spanyol masih terasa dingin. Hempasan angin kencang tiba-tiba menyeruak, seolah menampar-nampak rombongan peserta Study Banding Wawasan Kebangsaan dan Toleransi Kehidupan Sosial ke Maroko dan Spanyol. Dua puluh peserta masing-masing mewakili dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai daerah di Indonesia.

Tak terasa waktu begitu singkat, meski perjalanan sangat melelahkan, namun agenda jadwal kepulangan akhirnya tiba juga. Diantara pesrta study banding, ternyata penulis bertemu dengan Dr. Inang Winarso, antropolog asal Tegal yang tinggal di Bandung. 

Dr. Inang mewakil konsultan kebudayaan dari Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan Nasional. Dari beragam asal daerah, ada juga analis dan pengamat militer Simon asal Jakarta. Termasuk Cak Nanto asal Madura, dan Dr. Najib Burhan dari LIPI. Penulis adalah bagian keterwakilan asal Tegal.

Rupanya sengaja study banding kali ini, mendatangi Negara di Afrika dan Eropa, dengan sangat berbeda latar belakangnya. Maroko meski mayoritas beragama Islam,  tapi toleransi kehidupan beragama bagi penduduknya sangatlah tinggi.

Di Maroko agama terbesar setelah Islam adalah Nasrani, baru Agama Yahudi yang juga bagian dari keberagaman umat beragama. Meski yang dianut umat mayoritas bermazab Maliki, tapi negara Maroko masih menghargai dan melindungi umat minoritas lainnya.

Karena itu jejak Islam masih berkembang dan maju pesat di Maroko, terbukti dengan dibangunnya masjid Raja Hasan dua. Mesjid yang nampak sangat megah dan sebagai masjid terbesar ke tiga setelah masjidil Haram di Mekah, dan Masjid Nabawi di Madinah.

Masjid termegah di Maroko bukan hanya untuk beribadah saja, tapi oleh negara Masjid Raja Hasan dua dibuka untuk kunjungan wisata. Ssaat penulis dan rombongan memasuki masjid, nampak juga turis asing yang ikut antri ingin menyaksikan dari dekat ornamen- ornamen arsitur gaya Preancis. Ornamen menghiasi dinding-dinding dan pilar-pilar masjid.

Namun sangat berbeda jika dibandingkan dengan perkembangan Islam di Spanyol,  justru umat Islam di Spanyol sangat tertindas. Padahal Islam pernah berjaya selama delapan ratus tahun lamanya. 

Menurut keterangan yang disampaikan Dr Najib Burhan, bahwa Islam mulai diperbolehkan membangun masjid di Spanyol baru pada tahun 1986. Yang awalnya sempat berjaya di jaman Bani Umayah, karena kepentingan politik dan kekuasaan, perkembangan agama Islam mengalami kemunduran, sampai masyarakat Spanyol yang beragama Islam diusir dari negaranya.

Itulah perbedaan perkembangan Islam di Maroko dengan kondisi terkini umat beragama dengan Islam yang ada di spanyol.

Senada dengan komentar Dr Najib Burhan, Gus Najeh selaku Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami), menyebutkan perbedaan yang sangat mencolok adalah cara pendekatan dalam misi penyebaran agama di dua negara tersebut. 

Jika di Maroko masih dengan pendekatan kearifan lokal, bukan pendekatan radikalisme, sehingga nilai-nilai budaya lokal  masih dipakai untuk tetap terjaganya ajaran Islam yang bermakna kedaerahan. Masyarakat Maroko sangat akrab dengan tradisi-tradisi yang Islami. 

Jika di Indonesia penyebarannya dengan pola radikalisme, bisa diprediksi akan mengalami penolakan demi penolakan. Bahkan generasi yang akan datang justru gampang mengkafirkan dan membid'ahkan sesama umat Islam. Dampak terburuknya Islam akan mengalami kemunduran.

Tak terasa perjalan study Banding telah berakhir. Penulis masih saja merasakan udara dingin. Kini dalam perjalan dari Maroko, Spanyol, Jakarta diatas pesawat Qatar Air Ways, penulis mencoba mengingat-ingat fakta-fakta apa saja yang sempat rombongan kunjungi. 

Yang jelas, selama mengikuti perjalan study banding wawasan kebangsaan dan kehidupan sosial di Maroko dan Spanyol, banyak peristiwa yang sulit dilupakan. Apalagi saat penulis melihat langsung bangunan kejaayan umat Islam. Ada bangunan masjid yang berubah fungsi menjadi tempat peribadatan agama lain. 

Penulis merasa sedih dan prihatin. Jadi jika kerukunan umat beragama di Indonesia tidak dijaga, dimungkinkan akan mengalami perang saudara dengan mengatas namakan agama sebagai pemicu perpecahan dan kesatuan.

Para peserta study banding kelelahan di dalam pesawat, bahkan ada yang tertidur pulas menikmati 16 jam penerbangan. Seharian penuh, melintasi penerbangan domestik menuju Bandara Innasional Qatar.

(Tambari Gustam adalah tokoh masyarakat nelayan, seniman dan budayawan. Tinggal di Muarareja, Kota Tegal, Jawa Tengah. Tambari Gustam menjadi peserta study banding toleransi kehidupan sosial dan wawasan kebangsaan ke Maroko dan Spanyol)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita