Senin, 04/11/2019, 09:27:08
Gus Najih Adalah Sosok Santri yang Cendekia
Oleh: H. Tambari Gustam

Najih Arromadoni saat berada di bandara Barcelona, Spanyol.

Muhammad Najih Arromadoni yang akrab disapa Gus Najih ini, penampilannya santun, sehingga membuat orang lain tidak sungkan untuk bertegur sapa. Dia adalah lulusan dari Universitas Damaskus, Suriah. Saat ini aktif dalam ikut serta memberi kontribusi pemikiran terhadap upaya pencegahan timbulnya Islam garis keras.

Sudah beberapa kali Gus Najih ikut program study banding ke beberapa negara, baik ke kawasan Timur Tengah maupun Eropa. Bagi masyarakat pesisir daerah Tegal, Brebes dan sekitarnya, nama Gus Najih sebenarnya sudah tidak asing lagi. Dia adalah keponakan dari Almarhum KH Abdul Karim, pengasuh pondok pesantren di Sengon,  Tanjung, Kabupaten Brebes.

Saat pertama kali penulis bertemu dengan Gus Najeh, waktu itu ikut pada program study banding ke Uyghur, China. Penampilannya yang sederhana dan familier, sehingga mudah berbagai ilmu.

Pertemuan berikutnya dengan penulis, saat dia satu rombongan dalam Study Banding Wawasan Kebangsaan dan Toleransi Kehidupan Sosial ke Casablanca, Maroko, Afrika Selatan dan di Granada serta Barcelona, Spanyol, Eropa.

Dari pengalamannya nyantri di kawasan Timur Tengah, Gus Najih hafal betul terhadap upaya pencegahan terhadap aliran Islam yang keras. lalu bagaimana agar Islam di Indonesia bisa terus berkembang dengan cara pendakatan budaya lokal.

Dalam kolom pandangan yang dibuat Gus Najih, alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus dan Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami) ini, menulis; Radikalisme: Antara Suriah dan Indonesia.

Krisis politik dan kemanusiaan yang bermula sejak 2011 telah meluluhlantakkan banyak negara Timur Tengah, seperti Libya, Tunisia, Yaman, dan Suriah. Gerakan propaganda kelompok radikal yang mengatasnamakan revolusi (thaurah) ini, sudah berkepanjangan dan gagal memenuhi janji-janji manisnya, berupa keadilan dan kesejahteraan.

Pola-pola yang sama ketika kelompok radikal menghancurkan Suriah, sedang disalin untuk menghancurkan negara kita. Bedanya Suriah sudah merasakan penyesalan dan ingin rekonsiliasi, merambah jalan panjang membangun kembali negara mereka.

Sedangkan, kita baru saja memulai. Jika kita tidak berusaha keras menghadang upaya mereka, maka arah jalan Indonesia menjadi Suriah kedua hanya persoalan waktu. Semoga itu tidak pernah terjadi.

Dari pandangan dan ulasanya itulah, penulis berpendapat bahwa M. Najih Arromadoni adalah sosok santri yang cendekia. Selama perjalanan Study Banding Wawasan Kebangsaan dan Toleransi Kehidupan Sosial ke Maroko dan Spanyol, ia banyak berdiskusi dan membagi wawasan kepada peserta lainnya.

 

(Tambari Gustam adalah tokoh masyarakat nelayan, seniman dan budayawan. Tinggal di Muarareja, Kota Tegal, Jawa Tengah. Dia adalah peserta study banding toleransi kehidupan sosial dan wawasan kebangsaan ke Maroko dan Spanyol)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita