Minggu, 03/11/2019, 12:00:17
Kita Jangan Gampang Mengkafirkan Orang Lain
Oleh: H. Tambari Gustam

Penulis saat berada di salah satu sudut jalanan kota Barcelona, Spanyol.

Rombongan Study Banding Wawasan Kebangsaan dan Toleransi Kehidupan Sosial di Maroko dan Spanyol, menurut  Ketua Asosiasi Antropologi Indonesia, Dr. Inang Winarso, bahwa kegiatan study banding selama sepekan ini harus ada bukti nyata. Perjalanan study banding selama di Casablanca, Maroko, Afrika Selatan juga di Granada dan Barcelona, Spanyol, Eropa banyak mendapatkan pengalaman.

Penulis sependapat dengan apa yang dikatakan Dr. Inang Winarso yang sehari-harinya  kerja jadi konsultan di Dirjen Kebudayaan, setelah 20 peserta study banding yang masing-masing mewakili dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai daerah di Indonesia, perlu untuk menyampaikan kepada masyarakat luas.

Para peserta agar mensosialisasikan tentang sisi baik dari Negara yang sudah di kunjungi seperti di Maroko. Kerukunan umat beragama dan pengembangan agama Islam wajib ditiru. Penyebaran Islam disana menggunakan pendekatan kearifan lokal, bukan cara paksa apalagi cara peperangan semacam penaklukan dari jajahan.

“Beruntunglah umat Islam yang ada di Indonesia, meskipun Indonesia bukan negara Islam tapi pola masyarakatnya berkehidupan dengan pola islami.”

Berbeda pada saat kunjungan ke Spanyol, Islam disana yang sempat berjaya selama hampir delapan ratus tahun lamanya, namun saat ini justru penganut agama Islam terkikis. Pemeluk Islam di Spanyol tinggal sepuluh persen.

Senada dengan Inang Winarso, salah satu peserta dari Pengasuh Pondok Pesantren Gus asal Tangerang, Imron menyampaikan bahwa keberlanjutan dari program study banding ini, adalah ikut terus menerus mensosialisasikan kehidupan yang berorientasi pada kearifan lokal.

Menurut Imron, yaitu pengenalan Islam yang tidak gampang mengkafirkan orang lain. Apalagi di era serba digital, hampir semua masyarakat sangat gampang mengakses internet, sehingga sistim pengajaran di pondok pesantren harus diisi dengan pengajaran kurikum yang berbasis kebangsaan.

Benar apa yang dikatakan Imron, penulispun sependapat bahwa kita jangan gampang mengkafirkan orang lain. Karena itulah, penyampaian wawasan kebangsaan kepada masyarakat harus menggunakan pendekatan dengan kearifan lokal.

Rombongan yang dipandu Jesica dan Mr Joni, setelah seharian penuh mendatangi tempat-tempat bersejarah di seputar kota Barcelona, Spanyol, termasuk mengunjungi bangunan Gereja yang sudah dibangun sejak seratus tahun lebih.

Tapi proses pembangunannya sampai sekarang belum selesai. Bangunan gereja Katolik Roma terbesar berarsitek modernis dengan perancang arsitek Antony Gaudi, diperkirakan akan selesai di tahun 2026, bahkan decorationsnya sampai tahun 2032.

Setelah seharian perserta study banding mengunjungi beberapa tempat, pada Sabtu 02 November 2019, di malam terakhir ini pemandu mengarahkan rombongan ke restoran asli Bercelona, Cordobes. Kami berakhir pekan sambil menikmati tarian The Tablo.

(Tambari Gustam adalah tokoh masyarakat nelayan, seniman dan budayawan. Tinggal di Muarareja, Kota Tegal, Jawa Tengah. Saat ini menjadi peserta study banding toleransi kehidupan sosial dan wawasan kebangsaan ke Maroko dan Spanyol)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita