Sabtu, 02/11/2019, 21:27:41
Belajar Toleransi Dari Lapangan Hijau Camp Nou
Oleh: Dr. Inang Winarso

Penulis saat mengunjungi Stadion Camp Nou Barcelona, Spanyol 1 November 2019.

Rombongan studi banding toleransi dan wawasan kebangsaan yang diikuti oleh tokoh masyarakat dan akademisi yang dikordinir oleh Polri, memasuki Kota Barcelona, Spanyol sudah lewat tengah hari.

Segera setelah menyantap nasi, sayur dan ikan di restoran Cina, bergegas kami menuju pusat peradaban olahraga terpopuler di dunia, yaitu sepakbola di Stadion Camp Nou, markas besar klub sepakbola dengan jumlah penggemar fanatik terbanyak di dunia, FC Barcelona.

Meski diantara rombongan ada yang menjadi fans rival abadi Barcelona yaitu Klub Madrid, namun semua peserta tetap ikut mengunjungi Camp Nou. Tidak ada protes ketika diajak melihat dari luar stadion yang telah melahirkan bintang sepakbola kelas dunia.

Menjelang matahari tergelincir di cakrawala, bus memasuki pelataran Camp Nou. Aroma rumput hijau menyeruak ke rongga dada, meski tak ada pertandingan hari ini, namun sorak sorai teriakan Barcelonistas, julukan bagi supporter Barca, terdengar sayup-sayup Ole-le Ola-la, ser del Barça és el millor que hi ha! (Ole Ola kami dari Barca akan menggilas semua) dari gedung sekretariat fans Barca di sebelah kanan pintu gerbang Camp Nou.

Setelah keliling bagian luar Camp Nou dan memasuki toko resmi milik Barca, mata ini tertuju pada poster besar terpampang di atas Camp Nou. Ada rasa kecewa sedikit. Potret Ousmane Dembele tidak ada disana. Pemain yang direkrut Barca pada paruh pertama musim 2017 dari klub Perancis, belum terpampang potretnya.

Ousmane Dembele melengkapi kembali trisula Barca yang ditinggalkan Neymar. Konfigurasi trisula Barca yang menggetarkan lawan dalam musim musim mendatang adalah trio MSD Messi Suarez Dembele. Kaki musuh akan gemetaran ketika trisula Barca tersebut merumput di setiap pertandingan. Ketajaman Dembele dalam merobek gawang lawan sudah terbukti hebat.

Meskipun kekecewaan masih terselip di hati, namun terobati oleh kebanggaan terhadap Dembele. Dia pemain muda 23 tahun, berkulit hitam, dan wing striker trengginas. Dari deretan kebanggan tersebut yang paling membuat kagum kita semua, adalah dia seorang muslim! Barca telah meruntuhkan sekat-sekat agama ras dan etnis dengan menghadirkan keberagaman dan toleransi dalam sepakbola. Yang diutamakan adalah kejayaan sepakbola dalam persatuan bangsa-bangsa.

Dembele menjadi pemain muslim di Barca yang mengikuti jejak Yaya Toure, Lilian Thuram dan pemain muslim lainnya yang lebih dulu menorehkan tinta emas bagi Barcelona.

Demikianlah peradaban yang harmonis telah dihadirkan di lapangan hijau. Mengapa di lapangan politik, peradaban damai masih belum tercapai. Di politik masih terjadi saling menghina, persekusi, diskriminasi dan keburukan keburukan relasi lainnya. Mengapa tidak belajar dari Klub Barcelona yang mengajarkan kemanusiaan yang hakiki dengan semangat kompetisi yang sportif dan berkualitas?

(Inang Winarso adalah antropolog. Saat ini menjadi peserta study banding toleransi kehidupan sosial dan wawasan kebangsaan ke Maroko dan Spanyol)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita