Minggu, 27/10/2019, 12:09:44
Perempuan Dalam Bingkai Demokrasi
Oleh: Eti Nurul Hikmah

Berbicara tentang perempuan tentunya menjadi topik hangat bukan hanya untuk  lelaki tapi dunia juga, perempuan dengan banyak dianugerahi fisik ataupun hati yang membuat dirinya lebih dari seorang lelaki, lebih dalam artian lebih lembut, lebih tenang, dan lebih tanggap dalam hal mengurusi permasalahn baik dirinya maupun orang lain, mengapa?

Karena para anak seringkali melakukan kelihaian dirinya terhadap ibunya dibandingkan kepada bapaknya, bathin perempuan lebih berkontruksi kepada anaknya.

Perempuan pada zaman dahulu berbeda dengan di zaman sekarang, dahulu perempuan dilecehkan bahkan sejarah mengatakan pada zaman jahiliyah banyak anak perempuan dikubur hidup-hidup, karena kurangnya peran perempuan pada zaman tersebut, sedangkan lelaki sangat berkontribusi dalam zaman tersebut sehingga kaum perempuan hanya menjadi bahan injakan untuk kaum lelaki dan menjadi pemuas bagi kaaum lelaki.

Perempuan di zaman sekarang sudah mampu memberikan kontribusi untuk bangsa, banyak pula perempuan yang sudah mampu mengorbankan segala tenanganya untuk indonesia, seperti Ra Kartini dan Cut Nyak Dien, mereka berjasa dalam bangsa dalam hal membangkitkan semnagt perempuan untuk bangsa.

Demokrasi ialah bentuk pemerintahan dimana hak semua warga negaranya memliki hak setara dalam pengmbilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka, maksudnya bahwa dalam pengambilan keputusan semua warga negaranya memiliki hak dalam menyuarakan pendapatnya tidak membedakan jenis kelamin.

Perempuan Indonesia mampu mengambil keputusan untuk hak nya sebagai seorang perempuan, jangan pernah diam ketika disakiti lelaki, jangan pernah mau dibohongi oleh orang-orang yang hanya mementingkan pribadi dirinya sendiri. Menjadi ksatria adalah sebuah keharusan seorang perempuan karena akan ada saatnya perempuan tidak memiliki perisai sendiri, tapi memerlukan pedang untuk melindungi diri.

Perempuan berasal dari bahasa sanseketa yaitu “Empu” yang berarti tuan. Tuan seringkali digunakan dalam bentuk sebuah kerajaan bahwa para pelayan kerajaan memanggil rajanya dengan sebutan tuan, itulah mengapa bahwa perempuan tidak hanya menjadi pemuas bagi lelaki ataupun figur publik, tapi perempuan adalah raja dimana seorang raja mampu mengambil keputusan dengan suaranya sendiri agar rakyat mampu percaya terhadap rajanya sendiri.

Berbeda jika kita mengartikan kata “wanita” yang menurut bahasa jawa yaitu “ wani di tata” maksudnya, seorang perempuan itu harus terhadap dirnya tunduk patuh terhadap suami, bahkan perempuan sendiri sampai lupa terhadap empat peran untuk dirinya yaitu, sebagai anak dari orang tuanya, sebagai ibu dari anaknya, sebagai istri dari suami, dan sebagai tokoh masyarakat. Seringkali hanya yang mereka lupa ataupun tidak mengerti adalah sebagai tokoh masyarakat, bahwa perempuan sangatlah dibutuhkan dalam masyarakat.

Kementerian pemberdayaan Perempuan dan Anak Republik Indonesia yaitu Yohana berpesan agar kaum perempuan  harus menduduki posisi pengambil keputusan  jika suaranya ingin didengar, dan sekarang waktunya suara perempuan didengar kata beliau saat hari perempuan nasional yaitu pada jum’at, 8 maret 2018.

Pesan ibu menteri Yohana mengingatkan kepada sejarah Marsinah seorang perempuan berasal dari desa Nglundo, sukomoro yang menyuarakan suaranya demi untuk menaikkan upah buruh waktu itu, karena Marsinah merasakan bagaimana saat itu pemerintah menyempitkan lahan pertanian dan mengurangi upah untuk para buruh tani, dengan keberanian yang kuatbahwa marsinah yakin meski nyawa menjadi taruhannya, namun apalah arti sebuah kekuasaan jika memang buruk tetap disejahterakan, namun ketika marsinah berhasil untuk menyuarakan suaranya dia menghilang selama tiga hari dan ditemukan di hutan dengan kedaan tak bernyawa tpatnya di dusun Jegong, kecamatan Wilangan, Nganjuk pada tanggal 08 Mei 1993.

Ada yang mengatakan kematian Marsinah karena di perkosa, namun ada juga yang mengatakan bahwa kematian tersebut karena sebuah penculikan waktu zamannya soeharto, dengan alasan Marsinah berani menyuarakan hak-hak rakyatnya kepada pemerintah saat itu.

Peristiwa tersebut paling tidak mrenunjukan bagaimana negara, pengusaha dan militer berkongkalikong untuk merampas kesejahteraan rakyat kecil dan bagaimana rentannya posisi perempuan dalam perjuangan pembebasan rakyat dari penindasan.

Suatu pesan untuk kaum perempuan bahwasannya tidak ada perbedaan antara hak suara dalam menyuarakkan kebenaran, namanya kejahatan harus dituntas dan kebenaran harus ditegakkan, hingga sekarang tokoh Marsinah mampu menjadi inspirator bagi para perempuan, dengan semangat juang yang tinggi dan tidak kalah dengan laki-laki.

Jangan hanya berdiam diri untuk menghiasi diri jika hanya akan menimbulkan fitnah untuk negeri, jangan hanya duduk manis dalam sebuah kursi, namun bangkitlah menjadi inspirasi untuk negeri, selamatkan perempuan yang masih merasakan penindasan. Karena suara perempuan adalah suara bangsa pula.

(Eti Nurul Hikmah adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita