Kamis, 17/10/2019, 08:41:56
Surutnya Moral Dunia Pendidikan
Oleh: Annisa Fitriana

Pendidikan merupakan wadah bagi kaum yang tidak pernah lepas dari kata lelah. Pendidikan menjadi sebuah bangunan untuk mentransfer sebuah pengetahuan dari yang tidak tahu untuk mereka yang belum tahu. Dalam pendidikan semua sudah diatur sistematikanyan.

Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia  Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Setelah memasuki tahun 2000 teknologi sudah mumpuni untuk dipakai. Pendidikan semakin naik derajatnya, berebda dengan zaman dahulu saat seorang perempuan dituntut untuk tidak bersekolah, karena akhir dari perempuan yaitu kasur, sumur dan dapur. Pendidikan menjadi hal yang vital dalam seorang hidup di dunia. Pendidikan bukan hanya berlangsung dalam sekolah saja, mereka yang bersekolah itulah yang dinamakan pendidikan, namun realitanya tidak seperti itu.

Kehidupan tidak selalu subjektif, kehidupan itu objektif banyak sudut pandang sesuai dengan individu memaknainya. Dalam sebuah keluarga ketika kita dididik agar tetap menegakkan kebenaran dan menjauhi hal-hal yang berbau kejahatan itu juga bisa disebut pendidikan.

Indonesia dengan begitu keindahan yang ada, pulau yang jernih airnya, gunung-gunung yang menjulang tinggi dan pohon-pohon yang begitu menawan dengan daunnya yang masih segar. Negara yang begitu banyak jumlah penduduknya, semkain rapuh saja semangatnya. Indonesia dengan berbagai kelebihan yang ada seharusnya mampu menghapuskan segala sesuatu yang hampir cacat secara keseluruhan. Sistem pendidikan di Indonesia yaitu menggunakan sistem kurikulum yang hingga saat ini sudah mengalami 10 kali perubahan kurikulum.saat ini kurikulum yang terpakai adalah kurikulum 2013 biasa disebut kurtilas.

Kecacatan dalam dunia pendidikan di Indonesia ialah bahwa kit hanya menerapkan sistem yang ada di luar negeri lantas diterpakan di Indonesia, jauh dari kata Inovasi. Sangat besar harapan di era indstri 4.0 ini pemuda adalah generasi emas, dimana segala sesuatunya masih terbilang sangat kuat dan dilahirkan dengan keadaan normal. Normal dalam artian tidak mengalami transmigrasi perpindahan dari zaman jahiliyah ke zaman sekarang. Namun semua tidak sedemikian mudah, generasi emas berubah menjadi berkarat karena pengaruhnya keadaan.

Melihat zaman sekarang sangat memprihatinkan. Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan tentu sangat sedih jika hidup di zaman sekarang. Pendidikan semakin tiada harganya, pendidikan hanya sebuah ajang untuk menghilangkan gengsi. Pendidikan sudah tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa namun membodohkan dengan mensukseskan karena uang. Suap menyuap bukan hanya ditataran politik saja, namun dunia pendidikan pernah mengalaminya.

Seharusnya output dalam dunia pendidikan ialah mamu berkontribusi untuk bangsanya, nyatanya semua kembali kepada egosentris seseorang tersebut. Tidak bisa dipungkiri juga, jika saat ini gedung-gedung menjulang tinggi nmun, semkain rendah dimata manusia, khususnya gedung sekolah.

Teknologi memang sangat berpengaruh terhadap diri seseorang. Media sosial sekarang sudah lebih dari satu. Saat ini dalam bermedia di Indonesia tidak menggunakan batasan umur. Pasalnya sering ditemukan di media sosial facebook anak-anak sekolah dasar sudah menggunakan kata-kata yang seharusnya dipakai oleh orang dewasa. Anak-anak semakin liar dalam bermedia sehingga mereka merasa bahwa dengan media, mereka menjadi bahagia ketimbang di sekolah yang hanya membuat batin semakin tertekan. Ada sebuah kecacatan dalam pendidikan. Masyrakat sekolah seharusnya memperhatikan dengan jeli para murid ketika di sekolah dan harus memberikan sebuah ajaran yang mencerminkan bahwa mereka lahir dari dunia pendidikan.

Media sosila yang sangat mudah untuk berkomunikasi dengan saudara-saudara se Indonesia ialah Facebook, bahkan seseorang yang belum kenla menjadi kenal. Namun yang terjadi dalam dunia media sosila ialah anak-anak yang belum umur terlibat dalam menikmatinya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.

Tulisan-tulisan anak zaman sekarang merupakan suatu ambisi ataupun sebuah kegundahan perasaan mereka karena dunia nyata terlalu sepi untuk mereka. Hal tersebut menimbulkan sebuah kekeruhan dalam dunia pendidikan, seolah anak-anak yang bersekolah seperti tidak menerima pendidikan oleh guru.

Fenomena pendidikan semakin memburuk, dengan banyaknya media sosial yang dilegal oleh pemerintah. Harapannya ada sebuah ketegasan bahwa anak-anak dibawah umur untuk tidak memegang telepon pintar, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk bagaimana mendidik anaknya agar tidak terlena dengan hal-hal yang menyebabkan semangat belajar menurun, sama halnya dengan guru harus mempunyai metode-metode kreatif agat anak tidak merasakan bosan ketika belajar dan lebih banyak bermain bersama teman-temannya. Karena bagaimanapun dunia facebook sangatlah luas sehingga anak-anak kurang mampu mengontrol terhadap dirinya.

Salam Pendidik!!

Indonesia Cerdas!!

(Annisa Fitriana adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita