Minggu, 06/10/2019, 08:42:01
Demokrasi Dalam Tinjaun Islam
Oleh: Khowas Rizqi Nur Awaliyah

POLEMIK yang sedang terjadi di negeri ini ialah tentang demokrasi. September mencetak sejarah yang tidak pernah terlupa untuk masyarakat Indonesia. Persengketaan anatara para elit politik semakin terlihat jelas dalam pandangan masyarakat, sebenarnya sedang terkena penyakit apakah bangsa Indonesia ini? Sehingga banyak pamflet yang bertuliskan Demokrasi Dikebiri. Reformasi di korupsi dan lain sebagainya.

Mahasiswa seluruh Indoensia semakin terlihat taringnya saat demokrasi tidak lagi ada dalam genggaman bangsa indoensia. Selain dalam hal ini seharusnya dalam demokrasi menyampaiakn pendapat secara terbuka adalah yang wajar, tidak lagi harus dipidana. Seringkali hal demikian yang menjadi boomerang bagi peemrintah dan masyarakat. Tahun ini transformasi pemerintah dari tahun 2015 meskipun untuk presiden sama, namun alur dalam membangun bangsa indoensia harus lebih progresif dan mandiri. Terutama mementingkan kesejahteraan rakyat. Jika boleh dikatakan pemerintah adalah tempat layanan dari rakyat, sedangkan rakyat adalah raja bagi pemerintah.

Setelah pemerintah baru yang dipilih oleh rakyat, pemerintah harus menjalankan kekuasaannya atas nama rakyat untuk kepentingan rakyat serta pengawasannya juga dilakukan oleh rakyat, karena sejatinya demokrasi adalah suatu pemerintahan yang dibentuk dari rakyat (government of people), oleh rakyat (government by people) dan untuk rakyat (government for people).

Dalam Islam ada titik temu antara nilai-nilai Islam dan demokrasi seperti yang di tegaskan oleh tokoh Islam yakni Yusuf Al-qardhawi seorang ulama terkemuka, beliau memberikan analogi bahwa substansi demokrasi mempunyai persamaan dengan nilai-nilai dalam islam;

“Pemelihan umum untuk memilih pemimpin itu seperti pemilihan seorang imam untuk memimpin shalat berjamaah oleh para makmum, tentu saja mereka tidak akan memilih pemimpin yang tidak mereka sukai apalagi menyimpang dari kekuasaan yang diberikan”.

Demokrasi dan Islam sama mencita-citakan nilai luhur seperti kebebasan, kejujuran, keadilan, toleransi dan saling menghormati satu sama lain, dalam Islam terdapat istilah syura (musyawarah) yang secara tegas dinyatakan dalam Q.S Asysyura ayat 38 dan Q.S Ali-imran ayat 159. Hadis nabi juga mengenal adanya ijma (kosensus masyarakat) sebagai dasar membuat keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat, sehingga keputusan yang diambil tidak merugikan masyarakat.

Perwujudan demokrasi melalui pemilu sejalan dengan falsafah bangsa Indonesia yakni demokrasi pancasila “keadilan atau kekuasaan berada di tangan rakyat yang bersumber kepribadian dan falsafah hidup bangsa indonesia”, dasar dari demokrasi Pancasila adalah kedaulatan rakyat seperti tercantum dalam undang-undang dasar 1945 pasal 1 ayat 2 yakni “kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh majelis permusyawaratan rakyat”.

Melihat konsep yang diterapkan pada masa awal pemerintahan Islam sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, menerapkan musyawarah dan mufakat seperti Abu Bakar yang diangkat menjadi khalifah melalui proses baiat yang disepakati oleh ahl sunnah sebagai sebuah system yang dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan semua sahabat, serta yang dilakukan pada proses peralihan kepemimpinan dari Abu Bakr ke Umar juga melalui proses istikhlaf, penunjukan kepala pengganti sesudahnya. Praktik yang diimplementasikan menjelaskan bahwa yang perlu digaris bawahi dalam proses pengangkatan adalah semangat kebaikan rakyat bersama.

Rasulallah SAW secara implicit menyebutkan bahwa pemimpin harus dipilih sesuai dengan keinginan rakyat, beliau bersabda “sebaik-baiknya pemimpin kalian adalah mereka yang kamu cintai dan mereka mencintaimu, mereka yang kalian hubungkan silaturrahimnya dan mereka juga menghubungkan silaturrahimnya kepada kalian” (H.R Muslim). Tentunya, pemimpin yang memiliki motivasi bersih serta sikap yang peduli rakyat dan juga yang dengan ikhlas mengabdikan dirinya untuk rakyat.

Cita-cita peningkatan kesejahteraan sangat penting, Islam menjelasakan bahwa setiap manusia adalah khalifah (wakil pengganti) Allah SWT diatas bumi yang berkewajiban memakmurkan, mereformasi serta membangun peradaban yang berkesejahteraan diatasnya. Kemaslahatan rakyat adalah kesejahteraan baik secara material ekonomik serta mental spiritual, dalam rangka mencapai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (Negeri yang baik yang dilimpahi ampunan tuhan).

(Khoas Rizqi Nur Awaliyah adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indoensia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita