Sabtu, 07/09/2019, 07:12:21
Cerita di Balik Viralnya HIV/AIDS di Bumiayu
Oleh: Nikmah Yuliyanti SKM

Ilustrasi

Berita mengenai kasus HIV/AIDS di Kabupaten Brebes beberapa hari terakhir ini viral, hampir semua media sosial terutama di daerah Bumiayu membicarakan hal tersebut. Hal ini muncul karena headline sebuah media lokal yang mengabarkan kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) dengan presentase tertinggi dan Kecamatan Bumiayu menjadi daerah yang paling banyak penderita HIV/AIDS nya.

Berbagai komentar baik yang positif dan negatif bersahutan di dunia maya, yang memprihatinkan justru komentar ini yang semakin membuat stigma negatif kepada penderita HIV/AIDS. Salah seorang relawan bahkan sampai menitikkan air mata membaca komen komen tersebut.

Kenapa? Karena mereka yang berjibaku untuk menemukan penderita agar mau melakukan pemeriksaan, padahal itu bukan hal mudah membawa seseorang dengan perilaku seks penyimpang untuk melakukan pemeriksaan. Relawan merasa kerja mereka selama ini malah justru membuat serba salah, kinerja dalam penemuan penderita malah menjadikan daerah yang dibinanya mendapat pandangan negatif.

Seorang yang mengidap HIV seringkali tidak memperlihatkan gejala awal yang jelas, satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan pemeriksaan laboratorium. Voluntery Counselling and Testing (VCT) atau layanan konseling dan tes HIV sukarela selama ini sudah ada di beberapa Puskesmas.

Tetapi layanan itu tidak akan efektif bila hanya menanti datangnya klien, apalagi bila sudah berhadapan dengan kelompok-kelompok beresiko yang telah memperoleh stigma negatif dari masyarakat. Karena hal tersebut, VCT mobile perlu dilakukan untuk mendekatkan pelayanan. Relawan di Puskesmas Bumiayu bahkan rela mendatangi kelompok tesebut pada malam hari atau hari libur disesuaikan dengan permintaan klien.

Sekarang bukan waktunya berdebat dengan data tapi dengan kerja nyata. Tim Puskesmas Bumiayu selama ini telah melakukan berbagai kegiatan yang mungkin tidak pernah dilakukan oleh institusi kesehatan yang lain.

Untuk menarik kelompok beresiko pada tahun 2016 Puskesmas Bumiayu mengadakan lomba lip sing untuk bisa melakukan pemeriksaan, walaupun resikonya bisa dinilai memberikan legitimasi pada kelompok marginal, tapi dengan kegiatan itu tim bisa melakukan pemeriksaan rutin tiga bulan sekali.

Tahun 2017 dilakukan seminar terbuka tentang Kesehatan Reproduksi untuk pelajar dan mahasiswa yang dihadiri 200-an peserta. Dalam kegiatan itu juga ada layanan VCT, dan ternyata dari kegiatan itu juga ditemukan remaja dengan HIV +. Tahun 2018 membuat inovasi dengan nama “Sahabat pita merah” yang bertujuan untuk mendekatkan kelompok LSL dengan pemeriksaan VCT. Disamping itu juga layanan rutin seperti pendampingan dan kunjungan rumah.

Perlu digaris bawahi bahwa penemuan kasus HIV sangat penting dalam pengendalian penyakit AIDS yang mematikan tersebut. Dari penemuan itu dapat dengan cepat diketahui dan diobati, sehingga bisa memperkecil resiko penularan dan bisa memperbaiki kualitas hidup Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Sehingga Jangan sampai blow up media justru membuat stigma negatif semakin merajalela.

Mau tidak mau HIV/AIDS sudah menjadi masalah kesehatan kita semua, mungkin saja penderitanya ada disekitar kita. Penemuan kasus adalah kunci, dengan dukungan semua pihak kita akan mampu mengatasi masalah tersebut.


Penulis Nikmah Yuliyanti SKM adalah Promkes Puskesmas Bumiayu.


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita