Senin, 02/09/2019, 19:06:11
November, Bakal Digelar Kongres Sastra Tegalan
Laporan Tim PanturaNews

Suasana Temu Budaya di Lembah Agro membahas diadakanya kongres sastra tegalan (Foto: Dok)

PanturaNews (Tegal) - Para pemangku Sastra Tegalan yang tergabung dalam Komunitas Sastrawan Tegalan, menggelar temu budaya di Lembah Agro, Desa Karangjambu, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Minggu 1 September 2019.

Acara tersebut mengagendakan Kongres Sastra Tegalan. Menghadirkan 4 pembicara yakni Dr. Maufur, Drs. Atmo Tan Sidik, Tambari Gustam, dan Dina Nurmalisa Sabrawi, kandikdat dotor Universitas Indonesia (UI).

Pembahasan Kongres Sastra Tegalan cukup penting, senyampang tonggak perjalanan Sastra Tegalan sudah sampai seperempat abad. Hal tersebut disampaikan Tambari Gustam, pegiat Sastra Tegalan saat memulai pemaparan diskusi Temu Budaya, di padepokan Lembah Agro milik mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal, Mashuri Dahlan.

Menurut Tambari Gustam, perjalanan Sastra Tegalan sudah mencapai seperempat abad. Oleh karena itu, Kongres Sastra Tegalan perlu digelar.

“Perjalanan Sastra Tegalan sudah cukup panjang. Dilalui dengan berdarah-darah sejak tahun 1994 dimotori seniman Lanang Setiawan melahirkan sajak-sajak terjemahan Tegalan dari sajak-sajak WS. Rendra dan Chairil Anwar. Gerakan ini menjadi tonggak sejarah lahirnya Sastra Tegalan hingga saat ini mewabah di bumi Tegal,” ujarnya.

Dengan bukti kongrit ini, katanya lebih lanjut, tidak ada alasan untuk tidak menggelar Kongres Sastra Tegalan. “Karena apa? Buku-buku Sastra Tegalan sudah banyak diterbitkan baik puisi, cerpen, novel, drama, artikel, naskah drama, wangsalan, skenario film, juga tembang-tembang Tegalan. Kaum intelektual dan akademisi tak sedikit melakukan penelitian dan mempelajari teks-teks Sastra Tegalan,” tegasnya yang kerap menyelenggarakan lomba baca puisi Tegalan.

Senada dengannya, Atmo Tan Sidik, penerima Anugerah Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, selaku pelestari pengembangan budaya Tegalan tahun 2014 juga mengungkapkan, untuk kesinambungan dengan generasi muda, Kongres Sastra Tegalan harus digelar.

“Dalam suasana tahun baru Islam 1414 hijriah, mari kita mulai lebih jujur terhadap silsilah dalam merunut sejarah Sastra Tegalan. Kita harus dengan bening obyektif ketika berada dalam tarikan teks dan konteks. Terkait pendidikan karakter bangsa, mari kita upayakan pelestarian dan pengembangan bahasa Sastra Tegalan. Untuk kesinambungan dengan generasi muda,” katanya.

Sementara itu Dina Nurmalisa Sabrawi, mahasiswa program studi doktor Ilmu Susastra Universitas Indonesia, yang juga dosen Univesitas Pekalongan mengusulkan, hendaknya ketika nanti digelar Kongres Sastra Tegalan, tidak cuma membahas konsep tapi juga ada digelar pertunjukan seni dan sastra khas Tegalan.

“Jadi nggak cuma membahas konsep tapi juga pentas,” katanya.

Lebih jauh Dina memaparkan, Indonesia membangun identitas budaya melalui teks-teks sastra. Tegal, sebagai bagian dari budaya Jawa,  dianggap sebagai bahasa kasar dan digunakan sebagai bahan lelucon. Untuk itu, katanya, Kongres Sastra Tegalan harus diwujudkan untuk membentuk identitas dengan gerakan Sastra Tegalan.

“Menurut metode kualitatif Manuel Castells untuk pembentukkan identitas ada empat fase, yaitu fase ide awal, kinekerja, keterlibatan, dan pengakuan. Keempat fase ini menunjukkan bagaimana identitas Tegal dibangun melalui resistance identity sebagai dasar untuk membentuk project indentity agar mendapatkan legitimizing identity. Menulis teks sastra menggunakan bahasa Tegalan adalah bentuk resistensi terhadap upaya pemarginalan bahasa oleh pusat budaya.”

Kata Dina, dengan Kongres Sastra Tegalan menunjukkan bagaimana masyarakat Tegal membangun identitas lokalnya melalui teks sastra. Jadi Tegal memiliki identitas lokal yang ditunjukkan melalui teks sastra. Di antaranya penandanya adalah buku Roa dan buku kumpulan puisi Tegalan ‘Republik Tegalan’.

“Saya tidak setuju jika ciri estetika puisi Tegalanan itu kekasaran bahasanya. Nanti saya tunjukkan estetika puisi Tegalan hasil temuan saya,” tegasnya.

Dr. Maufur menambahkan, setuju dengan gagasan yang dilambungkan oleh Lanang Setiawan untuk segera menggelar Kongres Sastra Tegalan.

“Kami setuju dengan gagasan ini. Dengan perjalanan gerakan Sastra Tegalan yang sudah mencapai 25 tahun, gagasan tersebut harus diwujudkan. Persoalannya kapan agenda ini digelar,” katanya.

Untuk ini Atmo Tan Sidik dan Dwi Ery Santoso mengusulkan, alangkah baiknya Kongres Sastra Tegalan digelar pada tanggal 26 Nopember. Alasannya karena tanggal dan bulan itu adalah Hari Lahirnya Sastra Tegalan.

Hadir dalam acara tersebut, Endhy Kepanjen, Mashuri Dahlan, Dinhaz Yussac, Dhimas Riyanto, Wawan Setiawan, Dr. Maufur, Dr. Rika dari Universitas Indonesia, Lanang Setiawan, Tambari Gustam, Atmo Tan Sidik, Saunan Rasyid, Mohammad Ayyub dan sejumlah seniman dan akademisi.




 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita