Senin, 02/09/2019, 09:18:57
Santri Tani Milenial
Oleh: Siti Zulaeka

Tinta emas sejarah mencatat kaum santri selalu tampil memberi sumbangsih dan mencurahkan darma baktinya bagi eksistensi negara dan Bangsa, baik pada periode prakolonial, zaman kolonial, era kemerdekaan, Orde Baru, dan reformasi. Banyak penelitian dan buku sejarah ‘merekam’ semua ini. Dan menjadi sebuah fakta sejarah bahwa santri senantiasa memberikan sumbangan maha penting dan berharga bagi masyarakat bangsa, bukan hanya dalam pembentukan karakter positif nan luhur bagi individu-individu anak bangsa, melainkan juga bagi utuhnya sistem Negara Bangsa dengan seluruh pilarnya.

Santri sebagai out put pesantren terbukti tidak hanya mempunyai intelektualitas yang tinggi, tapi juga sosok yang memiliki kecerdasan spiritual di atas rata-rata. Santri hidup dan digembleng tentang arti solidaritas, tenggang rasa, dan kebersamaan, memperoleh piwulang integral dari soal moral sampai keterampilan hidup (life skill). Santri diajari soal keduniaan sampai keakhiratan. Inilah karakter pendidikan pesantren yang komunal, integral, dan futuristik.

Santri dididik untuk berpandangan jauh ke depan tentang bagaimana membangun masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai Islam universal, seperti keadilan, kesejahteraan, kemajuan, kearifan, kesetaraan, kebahagiaan, dan kerjasama dalam membangun kebaikan dan meminimalisir hal-hal negatif.

Santri harus siap kembali ke masyarakat, berproses ditengah-tengah masyarakat, membimbing dan mengajarkan agama, membangun perekonomian rakyat kecil, mengembangkan kualitas pendidikan, memberikan keteladan moral dan dedikasi, serta aktif melakukan kaderisasi demi menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Seseorang tidak memperoleh predikat ‘muslim yang baik’ karena ia tidak pernah memikirkan masa depan Islam. Sedangkan santri yang kurang sempurna dalam menjalankan ajaran agama dianggap sebagai ‘muslim yang baik’, karena ia memikirkan masa depan Islam.

Sebagai mahluk sosial dalam komunitas berbangsa, santri dituntut memberikan manfaat kepada orang lain dalam kerangka ibadah sosial. Sebagai pembangun bumi (imaratul ardhi), santri harus mampu mengelola, mengembangkan, dan melestarikan sumber daya alam. Santri harus menjadi pelopor gerakan hijau (go green) dan mengejawantahkan fikih lingkungan (fiqh biah) yang mereka pelajari.

Pendek kata, di pesantren, santri dididik soal: karakter (character), rasa ingin tahu (curiosity), kreativitas (creativity), ilmu dakwah/komunikasi (communication), berpikir kritis (critical thinking), bekerjasama (collaboration), tanggung jawab kultural dan sosial (cultural and social responsibility), penyesuian diri (adaptibility), melek media dan digital (digital and media literacy), penyelesain masalah dan membuat keputusan (decision making and problem solving), sehingga melahirkan pribadi-pribadi beretika luhur (strong ethic), terpercaya dan bertanggung jawab (dependability and responsibility), berakhlak mulia (possesing a positive attitude), lentur (adaptibility), jujur dan berintegritas (honesty and integrity), memiliki motivasi untuk tumbuh dan belajar (motivated to grow and learn), tangguh dan percaya diri (strong self and confidence).

Melihat globalisasi yang terjadi, saat ini merupakan bukan  zaman milenial lagi merupakan revolusi  industri 4.0 dimana semua menggunakan teknologi dalam keberlangsungan hidupnya. Kondisi para pemudapun sudah tidak melihat lagi hal-hal yang bersifat manual. Mayoritas lebih tertarik dengan hal-hal yang bersifat teknologi. Terkadang banyak yang menggunakannya dengan baik dan tidak sedikit pula yang menggunakannya untuk hal-hal yang negatif. Hal ini menjadi keprihatinan bagi manusia yang sadar akan hidupnya.

Hal tersebut tentu sangat mempengaruhi pertanian di Indonesia, karena orang yang bertani seringkali orang yang sudah lanjut usia, tenaga pun tidak sekuat orang muda. Orang yang tua semakin tua sedangkan yang muda enggan untuk menilik lahan pertanian. Kontribusi untuk pertanian sangat tidak diperhatikan, mereka hanya menikmati penghasilan dari para petani.

Santri dengan keterbatasan waktu yang dimilki untuk mengaji bagaimana untuk memerdekakn diri sendiri melalui pekerjaan. 24 jam hanya diperuntukkan mengharap barokah pak ky saja. Santri tani milenial merupakan sebuah gagasan yang di tuturkan oleh wakil presiden tahun sekarang yaitu K.H Ma’ruf Amin. Program tersebut mendidik para santri meskipun sudah zaman milenial namun tetep mempertahankaan pekerjaan halal yang menjadi harta bangsa indonesia yaitu “Petani”. Seorang santri yang sudah memcapai angka 10 tahun di pondok akan diberikan lapangan pekerjaan untuk mengurus sawah ataupun ladang dari pengasuh pondok tersebut.

Dalam hal ini menjadi santri bukanlah suatu kepasrahan untuk tidak bekerja sama sekali. Justru menjadi santri adalah langkah awal untuk membuka pintu dunia dan akhirat. Dalam dunia santri tidak pernah fokus hanya kepada satu dimensi kehidupan saja, namun akhirat lebih diperioritaskan.

Hal demikian juga berhubungan dengan mengapa pertanian sebagai bentuk lapangan untuk para santri? Karean pekerjaan yang halal serta tidak diminati banyak orang namun menguntungkan untuk negara bahkan membantu ekonomi para masyarakat daerah. Sebab itu, santri diartikan sebagai tiga matahari dimana untuk menyinari bumi, menyinari, agama dan menyinari bangsa.

Hidup Santri!

(Siti Zulaeka adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita