Minggu, 01/09/2019, 22:20:42
Revitalisasi Mahasiswa Sebagai Katalisator
Oleh: Siti Zulaeka

Mahasiswa adalah pahlawan seperti zaman Soekarno,Hatta, Syahrir, dan lainlain di e ra kemerdekaan. Harapan agar mahasiswa memiliki karakter heroik dan progresif jadi yang dibutuhkan untuk konteks sekarang di zaman persaingan antar negara-bangsa, adalah karakter produktif dan kreatif agar menjadi generasi yang mampu menambah tenaga produksi yang dibutuhkan, untuk mengatasi ketertinggalan dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), lebih jauh dari itu juga masih diperlukan jiwa kritis dari intelektual dan kaum intelektual itu terhadap dominasi kekuasaan yang sering memanipulasi dan menindas masyarakat.

Kemunduran kesadaran mahasiswa yang tercermin dari gaya hidup mahasiswa, watak dan tindakkannya sekarang ini adalah bagian dari epos sejarah yang tetap akan bisa berubah. Serangan ideologi neoliberalisme memang semakin masif, tetapi pada saat yang sama krisis yang ditimbulkannya cukup parah. Pada saat mahasiswa terkurung dalam budaya bisu, sekarang ini rakyat justru melawan di mana-mana dengan berbagai macam tindakan dan perspektif atau ekspresinya, buruh, tani dan kaum miskin perkotaan lebih radikal dalam tindakannya.

Proses belajar diperguruan tinggi sangat diharapkan out put yang baik demi bangsa kedepannya, jika proses ini di jalankan dengan terdapat hal-hal yang diluar semestinya yang condong tidak mencerminkan wajah keilmiahan maka akan didapati pula hasil lulusan perguruan tinggi akan menampilkan lulusan-lulusan yang tidak diharapkan. Maka dari itu yang perlu diperhatikan dengan seksama adalah proses.

Pencarian intelektual muda diharap sesuai dengan methode yang baik, merujuk dari pemikir Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam bukunya yang berjudul Epistemologi Dalam Perspektif Ibn Qayyim Al-jawziyyah menurutnya yang dimaksud dengan ilmu manusia adalah kemampuan untuk menyingkap haikat sesuatu dan menjelaskan tingkatannya. Ilmu dalam perspektifnya memiliki korelasi dengan amal perbuatan atau aktivitas seseorang.

Apa bila yang ditetapkan didalam jiwa itu sesuai dengan hakikat realias, maka itulah ilmu yang benar dan valid. Dari perspektif Ibn Qayyim Al-jawziyyah ilmu pengentahuan adalah integrasi antara yang diketahui (objek) dan yang mengetahui (subjek) dalam implementasinnya ilmu itu dalam realitas kehidupan.

Melihat penjelasan semacam itu maka artinya bahwa mahasiswa yang berlaku di perguruan tinggi harus ada tindakan riil di kehidupan nyata demi memenuhi tugas sebagai kaum intelektual yang berperan dalam memejukan bangsa dan negara.

Bukan hanya sekedar menitik beratkan prioritasnya dalam ambisi mengejar angka (IPK), semata karena tolak ukur kaum intelektual sejatinya mampu berimplikasi sekitarnya.

Paradigma mahasiswa yang dengan sederhana mengartikan bahwa tugasnya hanya datang kekampus, absensi, tanpa membawa semangat menggali potensi keilmuan, harus segera diluruskan dan dibereskan kembali, guna menjaga marwah sebagai tonggak bangsa serta proses yang dilalui dengan semngat keilmuan dalam rangka menuntaskan kebodohan serta serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur.

Mahasiswa dituntut untuk menjadi sebuah pembaharuan untuk bangsa dan negaranya. Daerah sebagai miniatu bangsa harus mampu ditaklukan oleh mahasiswa. Nyatanya dengan berbagai kondisi saat ini mahasiswa semakin melemah untuk berperan dalam pembangunan daerah. Mahasiswa mampu menjadi sebuah penggerak untuk masyarakat dalam menanam darah perjuangannya di daerah sendiri.

Mahasiswa era sekarang lebih menikmati pada teknolologi untuk bahan senang-senang saja bukan untuk ilmu pengertahuan. Salah kaprah hingga menjamjur sampai sekarang. Era revolusi industri digunakan sebagai jembatan yang sangat mudah menciptakan atau melakukan pembaharuan di daerah atau tempat tinggal sendiri.

Proses yang dilakukan bukan hanya menghasilkan nilai angka saja, namun menghasilkan sebuah sejarah dan karya yang tidak akan mati sebagai bentuk tanggung jawab menjadi mahasiswa. Sebagai katalisator ini sebagai pembaharu untuk daerah sendiri. Seperti halnya pemekaran kabupaten, pemekaran kecamatan atau menjadi tokoh masyarakat seorang mahassiwa mejadi motor penggerak untuk masyarakat awam.

(Siti Zulaeka adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita