Senin, 05/08/2019, 07:58:48
Perempuan Pelopor Peradaban Bangsa
Oleh: Siti Zulaeka

“Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuannya bobrok maka negaranya bobrok. Apabila perempuannya baik maka baik pula negaranya”

Diawali dengan mencuatnya tokoh perempuan dari partai politik, merupakan sudah tidak asing di abad ke-20 ini, karena abad 20 memberikan banyak peluang kemungkinan-kemungkinan, salah satunya pasar bebas dimana semua masyarakat mampu memanjakan diri dengan teknologi. Misal, online shop, gober, deliveri order dan masih banyak alat canggih lainnya.

Kita kenal dengan presiden Republik Indonesia tahun 2000-2004 yaitu ibu megawati Soekarno, yang merupakan sosok perempuan yang mampu menjadi pemimpin bagi negara, dengan latar belakang tersebut lahirlah pemikiran-pemikiran dari partai politik untuk memunculkan tokoh perempuan, selain itu dalam jajaran kabinet-kabinet negara terdapat beberpa bidang yang diduduki oleh perempuan. Seperti, Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keungan Indonesia), Mari Elka Pangestu (menteri Perdagangan Indonesia), Siti Fadilah (Menteri Kesehatan Indonesia), Khafifah Indar Parawan (Politisi), Idza Priyanti (Bupati Brebes), dan masih banyak tokoh perempuan yang mempunyai hasrat menjadi pemimpin.

Dengan lahirnya para tokoh-tokoh perempuan tak jauh dari sejarah Raden Ajeng Kartini, atau akrab  disapa ibukita Kartini, beliau merupakan tokoh pahlawan nasional yang namanya masih harum semerbak hingga saat ini, dengan jiwa antusiasme mereka terhadap sosok Kartini setiap tahunnya Indonesia memperingati tanggal 21 April sebagai hari kelahiran Kartini, peringatan ini dilakukan dengan berbagai acara yang berbeda disetiap daerah. Ada yang membuat kaenaval, atau fashion show baju daerah,  mengadakan lomba-lomba lain yang berkaitan dengan semangat juang Kartini. Sudah sangat perlu sebagai perempuan harus mengerti tentang sejarah ibu kartini yang telah menyelamtatkan perempuan dari adat yang mungkin akan merendahkan martabat seorang perempuan.

Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879, ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario sosroningrat yang merupakan bupati jepara saat itu. Sementara ibunya bernama M.A Ngasirah yang juga merupakan keturunan dari tokoh agama di jepara yang dosegani saat itu, Kyai H. Madirono. Karena terlahir sebagai anak bupati, tentu hidup kartini tercukupi secara material. Kartini bahkna menyelesaikan sekolah dio ELS (Europose Lagere School), yang padahal pada masa itu anak-anak seusia Kartini tidak bisa bersekolah, namun tak sempat umur yang tua Kartini meninggal dunia, saat itu Kartini sedang melahirkan anak pertamanya di umur 24 tahun tepatnya pada 17 september 1904.

Setelah kartini meninggal, barulah pemikiran-pemikiran kartini tentang perempuan di Indonesia mulai banyak menjadi pembicaraan. J.H.  Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai menteri kebudayaan, agama dan kerajinan hindia belanda mulai mengumpulkan surat-surat yang pernah ditulis oleh R.A Kartini ketika ia aktif melakukan korespondensi dengan teman-teman yang berada di Eropa. Akhirnya disusunlah buku yang awalnya berjudul “Door Duisternis tot Licht” yang kemudian diterjemahkan dengan judul “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” yang terbit pada tahun 1991. Namun buku tersebut lebih dikenal dengan judul “ Habis Gekap Terbitlah Terang” dalam buku tersebut Kartini juga menulis tentang bagiaman seharusnya perempuan, perempuan bukan hanya menjadi pembantu dalam sebuah rumah tangga, namun perempuan harus cerdas karena perempuan akan menajdi ibu bagi anak-anaknya dan menjadi istri dari suaminya, benar-benar perjuangan Kartini terhadap emansipasi wanita, dari buku tersebut berdirilah sebuah sekolahan di semarang, yang hanya menerima murid perempuan saja.

Sejarah kartini sangat digandrungi perempuan Indonesia. Dengan bekal membawa sebuah perubahan Sosok Kartini mampu memberikan sebuah peradaban bangi perempuan. Tidak ada yang memberikan sebuah pembatas antara perempuan dan laki-laki selain jenis kelamin. Sudah seharusnya kasus kekerasan mengurangi terhadap perempuan mengurangi. Perempuan bukan lagi sebagai pemuas nafsu apalagi sebagai objek yang sangat menguntungkan. Bahkan dalam agama mengatur begitu rapihnya kisah perempuan untuk dimuliakan.

Potret perjuangan seorang perempuan merupakan sebuah potret yang terjadi di Indonesia. Jika saja banyak yang mengatakan ulah seorang korupsi karena tekanan dari seorang perempuan itu adalah hal yang salah namun dibenarkan. Bagaimana sosok Kartini memberikan sebuah ruang untuk perempuan. Menjadi Indonesia lebih makmur serta sentosa. Bahkan dalam agama islam sangat memuliakan seorang perempuan. Dengan mengartikan surga sebagai bentuk kenikmatan paling dahsyat di akhirat namun direlevansikan dengan telapak kakin seorang ibu yang berada di bawah sendiri. Selain itu pada jiwa perempuna merupakan lahir sebuah peradaban baru. Peraban untuk menyongsong bangsa. Perempuan mempunyai rahim yang tidak dimiliki seorang laki-laki. Hal inilah pantas bagi perempuan menjadi sebuah pelopor peradaban bangsa.

(Siti Zulaeka adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita