Sabtu, 13/07/2019, 09:06:19
Pendidikan Ternodai Nafsu
Oleh: Yeyen Yuniar

Al insanu hayawanu natiq - Dalam al-kitab mantiq manusia merupakan hewan yang berpikir. Perbedaan terdapat hanya manusia mempunyai akal untuk berpikir sedangkan hewan didominasi oleh nafsu. Manusia dengan kesadaranyya tentu mampu membedakan mana yang baik untuk dilakukan dan mana yabg buruk untuk ditinggalkan. Secara sadar manusia akan peka dengan hal-hal yang positif untuk dirinya. Namun, bagaimana dengan mereka yang masih menggunakan nafsu dalam bertindak?

Sebenarnya kelebihan berpikir dari manusia adalah ketika terdapat masalah tentu dengan sendirinya dia mampu menyelesaikannya. Permasahalan nafsu dan berpikir adalah satu dalam kesatuan yang berbeda. Setiap manusia memliki nafsu sama juga seperti hewan berbedanya nafsu manusia tidak hanya dalam tataran nafsu ingin makan, minum atau sebagainya. Nafsu manusia lebih luas nafsu kekuasaan, nafsu untuk kebutuhan dirinya dan nafs sesaat sedangkan hayawan nafsu terfokus pada keberlangsungan hidup.

Menyikapi hal demikian. Dunia pendidikan digegerkan dengan seorang guru yang mencabuli siswanya. Kasus tersebut bukan hanya seklai melainkan berkali-kali. Noda-noda dalam pendidikan semakin mengental sehingga susah untuk mengatasinya. Pengajar membutuhkan suatu ajaran norma buan hanya materi saja, meski semua guru sudah pasti tahu menahu tentang norma namun sola kemauna haruslah dibimbing.

Sebagian besar kekerasan anak juga terjadi dalam bentuk kekerasan seksual. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, terdapat 2.509 laporan pada 2011, 59 persen di antaranya adalah kekerasan seksual. Sementara pada 2012, terdapat 2.637 laporan, 62 persen di antaranya adalah kekerasan seksual.

Pada data diatas tahun 2012 sudah mengalami banyak kejadian kekerasan seksula terhadap seorang siswa. Sudah sangat memungkinkan untuk tahun tahun ini ada peningkatan terhada kekerasan yang terjadi. Dari beberapa kasus yang terjadi sangat memilukan kaum pendidik namun belum terdidik. Belum mampu menahan nafsunya sendiri. Yang disadari oleh pengajar yang melakukan hal tersebut bahwa dengan mengajar bisa cuci mata atau melihat perempuan-perempuan cantik. Objek dari kekerasan yang terjadi adalah perempuan. Mereka menjadikan tubuh perempuan sebagai alam pemuas nafsu sehingga mindset yang terbangun adalah bahwa perempuan itu lemah.

Kualitas pendidikan semakin menurun dengan banyaknya kejadian seperti itu. Meskipun yang melakukan adalah atas nama guru namun guru adalah keluarga pendidik yang ketika satu tersakiti tersakiti semuanya. Dunia pendidikan ibarat satu pohon saat dahan yang jatuh maka terkuranglah batang yang ada dalam pohon. Sudah seharusnya ada pemberhentian hal-hal tersebut ataupun tidak terlalu di pubilikasikan. Bentuk penyadaran memang sudah ada, namun sebuah kemauna harus diringi dengan bimbingan yang terus menerus agar kemauan dan kesadaran selaras.

(Yeyen Yuniar adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unversitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita