Jumat, 21/06/2019, 21:08:01
Mengolah Sampah Menjadi Berkah
Oleh: Meli Triyani

Kebiasaan seseorang akan membuat orang terpengaruh di dalamnya. Seperti itulah menurut psikologi yang menilai manusia. Manusia sering kali terbiasa dengan hal biasa dilakukannya. Cara yang paling ampuh yaitu dengan mencegahnya atau perlahan-perlahan untuk tidak melakukan hal kebiasaan tersebut. Kebiasaan disini ialah kebiasaan membuang sampah sembarangan serta kebiasaan boros mengkonsumsi plastik sehingga menjadi pegunungan yang tak berfaedah atau tak ada manfaatnya.

Indonesia merupakan peringkat ke dua penghasil sampah plastik setelah tiongkok. Hal ini yang seharusnya menjadi keprihatinan masyarakat setempat. Sudah seharusnya ada tindakan untuk mengurangi jumlah plastik yang terbuang. Satu tahun tumpukan sampah plastik sampai dengan 10, 5 juta. Bahkan tanah yang sehatusnya layak dihuni masyarakat yang kurang mampu, sekarang menjadi hunian sampah berserakan. 65 hektar atau setara dengan 60 kali lapangan sepak bola telah habis dimakan sampah plastik yang disebabkan oleh ulang tangan manusia sendiri.

Tahun 2016 tanggal 21 bulan februari pemerintah menegaskan untuk sampah berbayar. Hal ini ditujukkan untuk mengurangi jumlah sampah yang sudah ada di Indonesia. Namun kenyataan yang yang terjadi bukanlah demikian. Dengan harga yang minimal masyarakat tetap mampu untuk membayar plastik dibandingkan membawa keranjang sendiri dari rumah.

Hal seperti ini tidak dapat dipungkiri bahwa kesadaran masyarakat akan sampah memang sangat minim. Namun, berbeda dengan masyarakat pedesaan yang ketika melihat banyak sampah plastik berserakan mereka langsung membajaranya jika tidak berguna, jika masih bisa digunakan mereka akan mengolah untuk menjadi benda dan menghasilkan uang.

Saat ini tidak sedikit masyarakat yang mengolah sampah menjadi uang meski tanpa ukur tangan dari pemerintah atau penyuluhan. Hal ini kesadaran dari mereka terkait melihat risihnya sampah yang sangat berserakan. Bahkan ada pabrik yang mengolah sampah kertas untuk dijadikan benda dan dijual.

Selain itu pula di Banyumas sosok perempuan mampu mengahsilkan uang satu harinya kitaran satu juta dengan mengolah sampah untuk menjadi benda. Seperti bungkus ale-ale digunakan untuk membuat bunga. Aqua-aqua bekas digunakan untuk membuat kursi yang yang terbuat dari plastik. Hal ini sangat luar biasa dan bermanfaat untuk dijadikan uang.

Plastik dari jajanan ataupun dari makanan beliau olah menjadi tas kecil dan ukuran besar. Sehingga beliau mempunyai toko yang peralatannya terbuat dari bahan-bahan bekas. Mudah bukan? Untuk mengolah plastik menjadi bermanfaat dibandingkan menjadi sampah hingga menyebabkan banjir itu malah menyebabkan kematian terhadap diuri sendiri.

Selain itu Hadist nabi sudah memberikan Intruksi bahwa “ Kebersihan sebagian dari Iman” hal ini menunjukkan bahwa umat agama islam memang mencintai kebersihan. Seharusnya hadist ini menjadi pedoman bagi warga Indonesia yang mayoritas beragama islam. Harapannya untuk lahan yang begitu besar dan dihuni oleh sampah alangkah lebih baiknya jika didirikan sebuah lembaga pendidikan ataupun rumah-rumah khusu pemulung sehingga mereka memilki tempat tinggal dan berpenghasilan dengan megolah sampah.

Perubahan untuk Indonesia memang harus sudah ada sejak dahulu. Jikalau salah satu pabrik mengeluarkan plastik sebagai benda untuk membawa barang dan seharusnya pula pabrik tersbut memberikan sebuah solusi agar plastik mampu diolah lagi sehingga menjadi simbiosis mutualisme atau sama-sama menguntungkan bukan merugikan satu pihak.

Mengadakan kegiatan penyuluhan terkait dengan penguranagn jumlah sampah dan menyediakan lapangan kerja untuk mengolah sampah menjadi benda yang menghasilkan uang, sehingga sampah-sampah yang ada hanya daun yang gugud dari pohonnya bukan sampah yang dibuat oleh tangan manusia sendiri.

(Meli Triyani adalah Mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita