Rabu, 29/05/2019, 13:16:21
Menenun Kebahagiaan Perspektif Imam Al-Ghazali
Oleh: Firda Umami

Cara pandang seseorang sangat menentukan kualitas hidup, karena dari cara pandang ini seseorang akan membentuk persepsi tentang bentuk diluar dirinya. Contoh, masyarakat yang begitu yakin dan minat terhadap produk luar negeri dari pada produk dalam negeri, dengan itu maka keyakinan dan minat terbentuk begitu kuat sehingga persepsi akan mendominasi alam pikiran masyarakat.

Dengan begitu masyarakat cepat menyimpulkan bahwa produk luar negeri sudah terjamin kualitas produknya sehingga menyingkirkan produk-produk dalam negeri yang justru sering didapati kualitas yang sama bahkan tak jarang ditemui kualitas produk dalam negeri jauh lebih bagus.

Maka dari itu yang perlu dibenahi adalah mulai dari membudayakan untuk mencintai serta menaruh simpati terhadap produk dalam negeri dan membiasakan akal-pikiran bekerja secara optimal dan diimbangi dengan hati nurani. Dengan melakukan hal seperti ini menjadi bentuk usaha yang dapat menghasilkan kejernihan kesimpulan dan keputusan yang akan diambil baik dalam bidang ekonomi, politik dan sosial.

Ilmu adalah kunci segala sesuatu

Manusia pada dasarnya punya keinginan untuk tahu, karena manusia datang kedunia ini dengan serba tidak mengetahui segala sesuatu, tingkat kesenangan itu pada dasarnya ada dua yakni, kepuasan dan kebahagiaan, semakin bertambah banyak yang dapat diketahui bertambah pula tingkat kepuasan dan bertambah mendalam rasa kebahagiaan. Itulah sebabnya menurut Imam Al-Ghazali orang yang lebih luas ilmu pengetahuannya, lebih merasa bahagia dari yang kurang pengetahuan. 

Dalam hal ini imam Al-Ghazali menjawab puncak kebahagiaan dan kepuasan tertinggi adalah Ma’rifatullah yakni mengetahui Tuhan. Karena itu Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa,

“Puncak segala keindahan, kepuasan dan kebahagiaan adalah mengetahui pokok pangkal segala kejadian, pokok pangkal segala keindahan, itulah Allah, yang tidak ada diatas itu lagi”, di dalam buku karya Hamka (Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya).

Kebahagiaan perspektif Imam Al-Ghazali

Teori kebahagiaan yang dikemukakan Imam Al-Ghazali, didasarkan pada semacam analisa psikologis dan menekankan bahwa setiap bentuk pengetahuan itu asalnya bersumber dari semacam kelezatan atau kebahagiaan, menurut Imam Al-Ghazali, jalan menuju kebahagiaan itu adalah ilmu serta amal.

“Seandainya anda memandang kearah ilmu, anda niscaya melihatnya bagaikan begitu lezat, sehingga ilmu itu dipelajari karena manfaatnya, adapun niscaya mendapatkan sebagai sarana menuju akhirat serta kebahagiaannya, dan juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.

Namun hal ini mustahil tercapai kecuali dengan ilmu tersebut, dan yang paling tinggi peringkatnya sebagai hak umat manusia adalah kebahagiaan abadi sementara yang paling baik adalah dari sana ilmu tersebut adalah amal, yang mengantarnya kepada kebahagiaan terebut, dan kebahagiaan tersebut mustahil tercapai kecuali dengan ilmu cara beramal, jadi asal kebahagiaan di dunia dan akhirat itu sebenarnya ilmu”

(Kehidupan Sufistik Versi Al-Ghazali, Dr. H. Ridjaluddin FN., M.Ag.)

Imam Al-Ghazali juga mengatakan bahwa kelezatan sesuatu itu hendaklah harus selaras dengan tabi’atnya, sebab tabi’at setiap sesuatu adalah apa yang diciptakan baginya. Adapun kelezatan khusus kalbu adalah pengenalan terhadap Allah, dan kalbu memang diciptakan untuk mengenal-Nya, kelezatan itu sendiri adalah buah pengetahuan.

Sebab seandainya seseorang mengetahui sesuatu, yang sebelumnya tidak diketahui niscaya ia menjadi gembira. 

(Firda Umami Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita