Jumat, 17/05/2019, 14:18:01
Puasa dan Matematika
Oleh: Meli Triyani

Puasa dalam bulan Ramadan adalah kewajiban yang harus dipenuni oleh umat islam diseluruh dunia, Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 183 “Hai orangorang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Pahala yang dilipat sepuluh gandakan oleh Allah adalah kenikmatan yang begitu istimewanya, perhitungan dalam ilmu matematika dikatakan kita beribadah puasa satu bulan penuh yaitu tiga puluh hari. Maka ketika dikalikan dengan sepuluh akan dihasilkan angka tigaratus hari, dan ketika ditambah enam hari berpuasa dalam bulan syawal yaitu sesudah bulan ramadan akan dihasilkan angka enampuluh hari.

Jika dijumlahkan berpuasa dalam bulan ramdhan dan enam hari di bulan syawal, akan dihasilkan angka tigaratus enampuluh hari. Dalam riwayat dijelaskan bahwa orang yang berpusa dalam bulan Ramadan dan enam hari dalam dibulan syawal itu dianggap berpuasa satu tahun penuh.

Dalam hitungan menuturt ilmu matematika juga ditemukan hasil tigaratus enampuluh hari, karena dalam satu tahun terdapat  angnka yang sama. Jelaslah bahwa memang betul bulan ramadhan adalah bulan penuh magfiroh dan keistimewaan terkait dengan penjelasan dalam kitab Al-Qur’an dan Hadits nabi Muhammad SAW.

Ibadah puasa Dalam Kehidupan

Kata ibadah merupakan ungkapan yang menyeluruh, meliputi segala pekerjaan yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wata’ala, baik perkataan atau perbuatan yang lahir ataupun yang bathin.

Ibadah secara fungsional adalah menumbuhkembangkan nilai-nilai ketauhidan dan mengokohkannya dalam jiwa, atau dalam beberapa kitab tafsir dibahasakan bahwa seseorang hamba yang dengan jiwa raganya beribadah laksana kebun. Dan semakin banyak mendapat siraman melalui ibadah, maka yang bersangkutan semakin subur yang selanjutnya nilai-nilai ketauhidan akan tumbuh dan berkembang semakin baik.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa tujuan utama diciptakan-nya manusia di dunia ini, adalah untuk beribadah kepada Allah: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. al-Zariyat ayat 56)

Kewajiban beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala akan menjadikan manusia memiliki kesadaran yang utuh dalam menjalankan kehidupan ini. Mereka akan sadar akan statusnya di hadapan Allah Subhanahu wata’ala dan mereka juga akan tahu bagaimana bersikap yang baik terhadap sesama makhluk.

Seseorang yang disibukkan dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tak akan sempat berbuat yang aneh-aneh serta mubazir. Mereka tak akan menjadi seorang yang kejam, korup dan egois, tapi sebaliknya mereka adalah pengamal kebajikan, kebenaran, keadilan serta belas kasih hadap sesama manusia. Hanya dengan taat dan patuh kepada AllahSubhanahu wata’ala sajalah akan bisa terwujud suatu masyarakat yang teratur, selaras dan dinamis.

Kebenaran akan terwujud dengan nyata, tak ada lagi kepalsuan dan kepurapuraan. Taka akan ada penyelewengan dan pengerusakan. Dengan inilah baru akan terasa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Semoga dalam menjalankan ibadah puasa kita dapat konsisten dalam menjalankannya, sehingga kita mendapat magfiroh serta pahala yang di janjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Amin.

(Meli Triyani adalah Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita