Minggu, 21/04/2019, 10:14:41
Merindukan Perempuan Revolusioner Bangsa: Kartini
Oleh: Siti Zulaeka

Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879, ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario sosroningrat yang merupakan bupati jepara saat itu. Sementara ibunya bernama M.A Ngasirah yang juga merupakan keturunan dari tokoh agama di jepara yang dosegani saat itu, Kyai H. Madirono.

Karena terlahir sebagai anak bupati, tentu hidup kartini tercukupi secara material. Kartini bahkna menyelesaikan sekolah dio ELS (Europose Lagere School), yang padahal pada masa itu anak-anak seusia Kartini tidak bisa bersekolah, namun tak sempat umur yang tua Kartini meninggal dunia, saat itu Kartini sedang melahirkan anak pertamanya di umur 24 tahun tepatnya pada 17 september 1904.

Setelah kartini meninggal, barulah pemikiran-pemikiran kartini tentang perempuan di Indonesia mulai banyak menjadi pembicaraan. J.H.  Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai menteri kebudayaan, agama dan kerajinan hindia belanda mulai mengumpulkan surat-surat yang pernah ditulis oleh R.A Kartini ketika ia aktif melakukan korespondensi dengan teman-teman yang berada di Eropa.

Akhirnya disusunlah buku yang awalnya berjudul “Door Duisternis tot Licht” yang kemudian diterjemahkan dengan judul “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” yang terbit pada tahun 1991. Namun buku tersebut lebih dikenal dengan judul “ Habis Gekap Terbitlah Terang” dalam buku tersebut Kartini juga menulis tentang bagiaman seharusnya perempuan, perempuan bukan hanya menjadi pembantu dalam sebuah rumah tangga, namun perempuan harus cerdas karena perempuan akan menajdi ibu bagi anak-anaknya dan menjadi istri dari suaminya, benar-benar perjuangan Kartini terhadap emansipasi wanita, dari buku tersebut berdirilah sebuah sekolahan di semarang, yang hanya menerima murid perempuan saja.

Revolusi industri 4.0 atau biasa disebut dengan era digitalisasi. Tentu ada kaitannya dengan sosok Kartini. Pada era sekarang semua pelayanan menggunakan digital ataupun teknologi. Hal ini memnag sangat memengaruhi pada pribadi setiap manusia. Dalam era digitalisasi adakah sosok Kartini yang telah memperjuangkan hak-hak perempuan? Memberikan kehidupan yang lebih layak untuk perempuan ataukah perempuan hanya sibuk terhadap dirinya sendiri?

Pertanyaan tersebut merupakan sebuah pernytaaan juga, bahwa dalam rovulusi industri 4.0 sangat langka perempuan yang seperti sosok Kartini. Perempuan pada era digitalisasi sangat menikmati teknologi bahkan tidak memanfaatkan telnologi yang ada. Sehrausnya era digitlisasi ini sebagai ujian terhadap para perempuan apakah dengan se,uanya serba teknologi akan melenakan atau menambah sebuah ilmu pengetahuan.

Era digitalisasi ini banyak membawa perubahan bagi kaum perempuan. Sanggul seperti sosok kartini perlahan telah hilang. Budaya memakai baju dengan menutup auratpun hanya minoritas saja. Kecanggihan teknologi membawa arus perubahan yang begitu melesat. Kaum perempuan lebih dominan dengan mencontoh budaya barat. bahkan sekarang sedang demam-demamnya artis korea mendominasi para kaum perempuan di Indonesia.

Begitulah era digital masuk dengan kecanggihan. Sosok kartini mulai hilang beberapa perempuan saja yang mencintai budayanya sendiri. Minoritas perempuan yang peduli terhadap umat dan bangsa. Bahkan sudah jarang sekali perempuan yang memperjuangkan hak-haknya sendiri.

Kecantikan Revolusi Industri 4.0 dan Perempuan

Imam AL-Ghazali mengemukakan, “Jadilah perempuan yang menginspirasi, bukan perempuan yang suka dipuji, bukan pula wanita yang menebar sensasi, dan bukan pula perempuan yang sibuk mempercantik diri”.

Kenyataanya digenerasi milenial ini sangat bertolak belakang dengan penyampaian dari Imam Al-Ghazali, generasi milenial lebih mementingkan diri sendiri dengan mempercantik diri agar dipuji dan mampu menyeb arkan sensasi, kata kunci pertama adalah cantik.

Persepsi cantik sendiri dibentuk oleh industri kecantikan agar produk mereka laku di pasaran. Bagi  orang indonesia cantik adalah orang yang berkulit putih, hidung yang mancung, bibir yang seksi, bentuk wajah yang sempurna, tinggi semampai dan berambut lurus.

Dengan perspektif seperti itu maka produk-produk pemutih berjamuran beredar di pasaran, kadang konsumen mengabaikan keamanan produk itu sendiri berbahaya atau tidak. Selain itu dalam media massa juga sering terjadi penculikan atau penipuan di karenakan alat teknologi yang canggih dengan bisa mengubah wajah perempuan menjadi cantik.

Pergeseran ini banyak dipengaruhi oleh keberadaan arus globalisasi dan juga media masa yang membuat menjamunya budaya konsumerisme. Cantik merupakan sifat relatif karena ,cantik itu merupakan sebuah sifat yang tentu dari  pendapat satu orang dan lainnya sangat berbeda. Tidak harus yang berkulit putih, bertubuh langsing dengan tinggi semampai yang dinamai cantik, namun cantik akhlaknya, cantik perkataannya, dan sebagainya.

Sangat disayangkan seorang perempuan hanya mempersibuk untuk kecantikan dirinya, yang padahal sebenarnya buat konsumen para industri-industri kecantikan, generasi milenial ini seharusnya menjadi bekal para perempuan bahwa perempuan tidak bisa dibohongi dengan adanya produk-produk dari industri kecantikan yang segala pembuatannya menggunakan alat teknologi, dalam generasi milenial ini perempuan harus mampu menjaga diri sendiri agar tidak adanya kasus-kasus, seperti kekerasan pada perempuan, dan lainnya.

(Siti Zulaeka adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita