Selasa, 16/04/2019, 12:52:44
Kontroversi Film Dilan 1991 dengan Dunia Pendidikan
Oleh: Aizul Istiqomah

MASA dewasa adalah masa dimana semua orang lebih cenderung ke hal-hal yang sifatnya menyenangkan. Setelah berlangsung dari masa anak-anak tentu seseorang menginginkan hal baru untuk dinikmatinya, yaitu dengan menimati masa remaja dengan teman-temannya.

Dalam era milenila ini tak jarang remaja yang tidak menggunakan teknologi. Bahkan mereka malah dimanjakan dengan teknologi. Melupakan kewajibannya sebagai remaja yang berkualitas sehingga mendewakan dirinya terhadap teknologi. Dunia pendidikan bagi masa remaja sudah tidak menjadi hal vital lagi, pasalnya pada era sekarang integritas pendidikan semakin mengalami degradasi disebakan banyak hal yang tidak selaras pengetahuannya dengan dunia pendidikan.

Film Dilan 1991 yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan merupakan sebuah kisah yang diambil dari novel trilogi yang dikarang oleh Pidi Baiq sastrawan ternama di Indonesia. Film Dilan 1991 yang rillis pada bulan Februari membuming dikalangan remaja. Dengan kata-kata manis yang merupakan bumbu dari novel tersebut berhasil menyihir jutaan remaja di indonesia. Sehingga banyak yang meniru gaya Dari dilan tersebut. Tak jarang film yang diperankan sesuai dengan isi dari novel tersebut karena bagaimanapun bahasa tulis dan bahasa lisan memiliki perbedaan dalam realitanya.

Film Dilan 1991 adalah lanjutan dari Dilan 1990 dalam film tersebut mengisahkan sosok anak sekolah SMK yang saling mencintai sehingga dengan cinta muncullah beribu kata-kata manis. Film Dilan ini melanjutkan dari Dilan 1990 dan film inilah proses hubungan saling mencintai  itu terjadi.

Substansi dari UU tentang film ialah bahwa film bisa dijadikan jembatan hiburan asal mengangkat tentang suatu kebudayaan. Artinya sebuah film bukan hanya sekedar tontonan saja, namun ada beberapa  nilai positif dalam kandungannya. Sederhana penulis dalam menanggapi film dilan 1991 dengan dunia pendidikan sangatlah kontroversi, mengapa? Dalam dunia pendidikan tidak diajarakan ketika bermain menggunakan seragam sekolah.

Hal yang kurang baik dalam film Dilan ini ialah ketika pelajar saling jatuh cinta dan menjaga cintanya tidak sesuai dengan norma yang ada. Saling memiliki ataupun jatuh cinta merupakan hasil rasa yang dimilki oleh seorang dewasa. Jatuh cinta tidak ada yang ada larangannya kecuali sudah melakukan hal yang mendekati zina.

Dunia pendidikan pada saat ini sangatlah berantakan, pasalynya banyak terjadi berita-berita kekerasan di dunia pendidikan. Mulai dari cabul, buli, pembunuhan dan masih banyak kekerasan lainnya. Media untuk saat ini memang sangat berpengaruh kepada anak-anak. Terutama film-film yang terkadang dipertontonkan untuk dewasa namun tidak ada larangan untuk anak-anak. Hal ini juga termasuk kekerasan. Kekerasan terhadap psikis anak-anak.

Film dilan 1999 ditolak untuk dipertontonkan saat akan ditayangkan di daerah Pontianak. Menurut mereka film tersebut kurang layak jika dipertontonkan oleh anak-anak. Prihatin terhadap dunia pendidikan memang harus ada di jiwa seseorang. Banyak kekhawatiran yang terjadi saat media menyediakan berbagai hiburan namun tidak dalam sebuah pembelajaran.

Penulis menyarankan agar UU Tentang perfilman diberlakukan kembali. Agar tidak adnya kontroversi film yang ditayangkan dengan penonton. Selain itu juga, ada batasan-batasan umur yang jelas untuk penonton, karena bagaimanapun dunia pendidikan sangatlah sensitif dengan hal-hal yang akan meracuni pikiran para pejuang pendidik atau masyarakat pendidik.selain itu juga ada batasan terhadap film yang disajikan untuk penonton. Melihat baik dan buruknya ketika dipertontonkan.

Indonesia Cerdas!

(Aizul Istiqomah adalah mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita