Sabtu, 30/03/2019, 13:34:23
Eksistensi Peran dan Fungsi Mahasiswa Masa Kini
Oleh: Desti Viana

Mereka yang berpendidikan tinggi dan mampu berpikir ilmiah, namun jiwa korsa yang tinggi membuat mereka terjerat pada taraf mengiyakan begitu saja. Dan menyebabkan tidak mampu memfungsikan alat pikirnya untuk menganalisa secara ilmiah yang berujung pada ketumpulan analisis serta ketumpulan berpikir.

Fanatisme untuk tidak suka terhadap golongan tertentu terkadang membuat mereka sangat tumpul untuk menganalisa bahkan ketumpulan berpikir atau bahkan mereka sengaja memal-fungsikan alat pikirnya. Yang lebih parah alat pikir mereka benar-benar tidak berfungsi dengan menganggap golongan yang tidak segolongan dengan mereka semuanya salah, mereka lebih lebih terlihat seperti binatang bahkan lebih rendah dari binatang karena insting pun tidak termunculkan, hanya mengandalkan nafsu.

Jiwa korsa sebenarnya baik untuk diterapkan, dengan catatan tiap-tiap dari mereka mampu merasakan, membaca kondisi yang ada dan dapat memfungsikan alat pikirnya untuk menganalisa apa yang dirasa dan dibacanya sehingga mampu mengeneralisasi dengan baik dan tepat.

Korsaisme yang didasari fanatisme yang terorganisir serta mal-fungsi alat pikir bermuara pada ketololan berjamaah sehingga dirinya menjadi orang paling tertolol diantara orang-orang tertolol dengan ketertololannya sendiri (SP, 2019).

Ya… Itulah sekelumit conflict of interest yang banyak terjadi dikalangan kaum yang sedang menempuh pendidikan tinggi sebut saja Mereka si para Mahasiswa. Mahasiswa sekarang lebih mementingkan kekuasaan/jabatan kampus dengan cara-cara yang tidak demokratis dan tidak seksi lagi ketimbang menjalankan peran dan fungsi kebermanfaatan mahasiswa serta turut andil dalam mewujudkan tri dharma perguruan tinggi.

Bagaimana tidak, ini mungkin perwujudan dari mencontek elit politik negeri ini yang saling melempar ujaran kebencian, sudah menjadi hal biasa yang dipertontonkan kepada publik melalui berbagai media dewasa ini demi mendapatkan gembong suara kemenangan dalam kontestasi Pemilu Serentak 2019. Menyandang gelar sebagai mahasiswa seharusnya mempunyai pengaruh gerakan perubahan melalui kemampuan/ketajaman analisis yang tepat.

Untuk dapat mempertajam analisis, tentunya mahasiswa harus sadar posisinya dalam menempatkan diri baik di masyarakat kampus ataupun di masyarakat pada umumnya. Mereka harusnya memanfaatkan masyarkat kampus sebagai laboratorium sosial (tentunya dengan bereksperimen secara ilmiah dan idealism tinggi). Sembari bereksperimen di laboratorium mereka harus berbaur dan membangun pergerakan ikut andil dalam memecahkan permasalahan/kesenjangan yang ada di masyarakat melalui analisis yang mereka di pelajari di laboratorium tentunya. Atau bahkan mereka mengedukasi masyarakat sehingga masyarakat mampu menganalisa permasalahan yang ada serta mampu memecahkannya.

Pergerakan Mahasiswa di Era Teknologi

Di era teknologi sekarang ini seolah kita dibuat pada titik puncak kenyamanan, yang kiranya kurang produktif secara pergerakan mahasiswa. Mahasiswa dininabobokan dengan gadget-gadgetnya, mahasiswa lebih mementingkan kehidupan hedonis dan pragmatism lagi-lagi menjauh dari tanggungjawab kepada rakyat. Mahasiswa lebih mementingkan kesenangannya bersama gadget dan game onlinenya. Bahkan di tengah beredarnya berita hoax di medsos tidak jarang mereka lebih kepada pengonsumsi sekaligus pengedar hoax, yang tentunya ironis mahasiswa seharusnya lebih jeli dalam menganalisa pemberitaan tidak jelas.

Bila kita boleh membandingkan mahasiswa dan pergeraknnya dalam catatan sejarah mempunyai peranan amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover terjadinya perubahan pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian peristiwa penggulingan, antara lain: Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Soekarno di Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998, yang notabene tidak berpihak kepada rakyat.

Dari peristiwa tersebut tentunya dapat terlihat nyata mahasiswa dalam pergeraknnya, lantas bagaimana dengan pergerakan mahasiswa dewasa ini?. Tentunya agar tidak dikatakan tumpul analisis sebagai mahasiswa, arah/arah pergerakan mahasiswa untuk menyuarakan pendapatnya tidak melulu harus turun ke jalan untuk aksi-aksi demonstrasi (sesekali sangat pelu).

Memanfaatkan teknologi masa kini tentunya menjadi terobosan baru untuk menyuarakan pendapatnya. Ketimbang medsos dibanjiri dengan pemberitaan hoax atau pemberitaan sampah langkah lebih indah jika dibanjiri dengan ide/gagasan mahasiswa melalui tulisan. Mengambil perkataan dari pengamat politik Rocky Gerung “menulis adalah upaya kita untuk memperkenalkan diri kepada publik melalui gagasan yang ditulisnya”. Kepiawaian mahasiswa dalam menulis sangat dibutuhkan dimasa sekarang. Melalui tulisan merupakan salah satu konversi eksistensi dalam pergerakan mahasiswa di Era Teknologi, dimana akses internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.

Revitalisasi Budaya Nongkrong Mahasiwa

Nongkrong atau kumpul-kumpul mahasiswa yang semakin ramai, namun bukan untuk berdiskusi intelektual. Kebanyakan nongkrong mereka disibukan dengan gadget masing-masing (game online), menggosip atau menceritakan kejelekan pemerintah/elit kampus tanpa disertai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Sadarlah wahai mahasiswa (yang katanya gandrung akan keadilan!) game memang perlu bahkan sangat perlu apalagi untuk merefresh otak setelah perkuliahan, tapi ditegaskan tidak untuk menjadi candu ataupun budaya. Menceritakan/ mengkritik pemerintah itu lebih-lebih sangat perlu dan penting sebagai evaluasi atau kontrol terhadap pemerintah apalagi dari hasil tersebut dibuat bahan diskusi, dikaji secara mendalam disetai bukti yang valid menjadi sebuah naskah akademik.

Penulis adalah masiswa di Universitas Peradaban Bumiayu (UPB)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita