Senin, 11/03/2019, 14:01:16
Milenial Berdaya dan Berbudaya
Oleh: Wahyu Syaefulloh

Jauh hari Mochtar Lubis dalam bukunya yang berjudul Manusia Indonesia membuat stereotip tentang manusia Indonesia menjadi enam sifat, yaitu: Petama, munafik atau hipokrit, dalam bukunya menjelaskan lebih menonjolkan dan sikap ABS (Asal Bos Senang), mungkin bahasa yang sering kita dengar seperti menggadaikan idealisme demi kepentingan dan kepuasan pribadinya. Kedua, enggan dan bertanggung jawab atas perbuatanya. Ketiga, bersikap dan berperilaku feodal (orang yang berilmu akan merasa bijak, orang yang merasa berilmu akan menginjak). Keempat, artistik, berbakat seni. Kelima, percaya takhayul. Keenam, lemah watak atau karakternya.

Mochtar Lubis terinspirasi untuk mengklasifikasikan manusia Indonesia berkat pengalaman, observasi dan ini menjadi paradigma beliau yang menjadi stereotip sebagai bahan refleksi kita semua, karena stereotip tidak seluruhnya benar, dan tidak pula seluruhnya salah.
Pemikiran-pemikiran yang datang dari seorang Mochtar Lubis, bisa menjadi salah satu alat kontemplasi kita semua untuk menjadi manusia Indonesia yang lebih berdaya dan berbudaya, pemikirinya memberikan gambaran terkait tentang pranata-pranata budaya khusunya generasi penerus (milenial) yang digadang-gadang untuk menjadi pewaris peradaban kedepan.

Lebih tegas Kluckhohn dalam bukunya Koentjaraningrat membabar pranata budaya mengenai kegiatan-kegiatan manusia menjadi lima. Yaitu: 1. Masalah hakekat dari hidup manusia (Hidup itu buruk tetapi manusia berikhtiar supaya hidup itu menjadi baik) , 2. Masalah hakekat dari karya manusia (Karya Itu untuk menambah karya) 3. Masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu (Orientasi kemasa depan) 4. Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya ( Manusia Berhasrat menguasai alam ) 5. Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya (Individualisme menilai tinggi usaha atas kekuatan sendidri).

Dari lima masalah yang diframing oleh Klockhohn mengisyaratkan hubungan vertikal dan horizontal, hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama.

Ada sebuah prestasi yang diberikan pendahulu-pendahulu terhadap generasi penerus (kaum muda), diduga bisa membawa perubahan peradaban yang lebih baik. Dengan kekuatan analisa dan kekuatan gerakanya bisa membentuk peradaban yang lebih maju, lihat saja gerakan yang dihimpun menjadi Boedi Utomo. Gerakan ini mengedepankan budi untuk membuat pranata-pranata sosial yang lebih berkeadilan. Terlepas dari itu semua merupakan dominasi proses untuk perubahan, karena puncak dari proses adalah membentuk peradaban yang lebih maju dan berkeadilan.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Koentjoroningrat ada delapan pranata-pranata kebudayaan dalam kehidupan manusia, diantaranya: (a). Domestik Institusion, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan kekerabatan, seperti pernikahan, perkawanan, poligami, perceraian dan sebagainya. (b). Economic institusion, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk pencarian hidup, memproduksi, dan menimbun serta mendistribusikan harta dan benda. Seperti pertanian, perternakan, pemburuan, feodalisme, koperasi penjualan dan sebagainya. (c). Educational Institusions, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan penerangan dan pendidikan manusia supaya menjadi anggota masyarakat yang berguna, seperti pengasuhan kanak-kanak, pendidikan rakyat, pendidikan keagamaan, pers, gerakan literasi dan sebagainya. (d). Scientific Institutions, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam kegiatan ilmiah, seperti metode ilmiah, penelitian dan pendidikan ilmiah (rasionalisasi) dan sebagainya (e). Aesthetic and recreational institutions , bertujuan kebutuhan manusia menyatakan rasa keindahanya dan untuk rekreasi, seperti seni rupa, seni suara, seni gerak, seni drama, seni kesusteraan, wisata dan sebagainya. (f). Religious Institucsions , kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau dengan alam ghaib, seperti, Masjid, Gereja, doa, kenduri, ilmu gaib dan sebagainya. (g). Political Institution, bertujuan memenuhi kebutuhan untuk mengatur kehidupan berkelompok secara besar-besaran dan bernegara. seperti , pemerintahan, demokrasi, kehakiman, kepartaian , dan sebagainya. (h). Somatic Institustions, untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah dari manusia, seperti pemeliharaan kesehatan, pemeliharaan kecantikan, kedokteran dan sebagainya.

Dan akhirnya kita mencoba membaca fenomena-fenomena yang muncul, asumsi-asumsi ini seperti kurang tindak-tanduk, tepo saliro, tenggang rasa, individualisme, gotong-royong dan sebagainya itu mengantarkan pada taraf kebahagiaan, pada abad 21 permaslahan ekonomi (economic Institusions) menjadi permasalahan fundamental dalam mencapai kebahagiaan, dalam hal ini ada beberapa pesan dari sesepuh yang bergiat dalam dunia kecendikiawanan untuk mengingat kebahagiaan, pesan-pesan yang di abadikan dalam tulisan seperti kata-kata bapak pendidikan Ki Hadjar Dewantara,“Luwih becik mikul dawet rengeng-rengeng, tinimbang numpak mobil mrebes mili utawa nangis nggriyeng (lebih baik hidup sederhana, namun bahagia, dari pada mewah-mewahan tapi menderita).

Dan datang dari cendikiawan serta seorang budayawan Drs. Atmo Tan Sidik dalam bukunya “Dikendangi Wong Edan Aja Njoged”. “Pancen melase anak maring wong tuwa, gedene mung seupa. tapi melase wong tua maring anak gedene sekelapa” (Kasih anak terhadap orang tua besarnya sebiji nasi, dan kasih orang tua terhadap anak besarnya satu buah kelapa).

* Penulis adalah mahasiswa jurusan Manajemen di Universitas Peradaban Bumiayu (UPB).


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita