Rabu, 06/03/2019, 05:41:38
Menciptakan Pola Asuh Anak yang Menggembirakan
Oleh: Ade Irmanus Sholeh

Fase tumbuh kembang anak adalah fase yang sangat menentukan karakter dan sikap serta mentalnya. Anak adalah aset yang paling berharga dalam sebuah keluarga. Anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepada orangtua harus dijaga serta mendapatkan kualitas pendidikan yang baik. Kebutuhan anak dalam hal pendidikan wajib terpenuhi, karena maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari partisipasi warganya dalam hal pendidikan.

Keluarga, dalam hal ini adalah orangtua memiliki tanggung jawab moral yang sangat berat atas kualitas pendidikan anaknya. Peran keluarga menjadi titik awal dalam tumbuh kembang dan kualitas anak. Orangtua harus mempunyai quality control yang baik terhadap anaknya. Banyak dari orangtua yang minim dalam hal monitoring terhadap anaknya, mereka terlalu sibuk dengan setumpuk pekerjaannya dan mempercayakan sepenuhnya kepada pihak sekolah.

Orangtua mengetahui sikap dan hasil belajar anaknya ketika di akhir semester guru membagikan lembar hasil belajar siswa, itupun tidak komprehensif. Perlu adanya komunikasi yang intens antara orangtua dan guru di sekolah. Pendidikan yang diberikan orangtua kepada anaknya merupakan skala prioritas. Lingkungan keluarga merupakan pondasi utama dalam proses tumbuh kembang anak.

Program pendidikan keluarga meliputi seluruh kewajiban hidup beragama yang dimulai dari aqidah, ibadah, dan akhlak. Pendidikan ini diberitahukan dan dicontohkan oleh orangtua maupun dengan proses imitasi, sugesti, dan transformasi yang tidak sengaja diajarkan oleh orangtua itu sendiri kepada anggota yang lainnya. Untuk menjaga kemungkinan adanya kesalahan didik, maka orangtua berkewajiban mempelajari, memahami, dan mengamalkan terlebih dahulu secara baik dan sesuai dengan ketentuan.

Lingkungan sosial yang memiliki pengaruh terhadap terbentuknya pribadi anggota keluarga, dalam hal ini si buah hati, namun yang paling menentukan atas terbentuknya si buah hati adalah prinsip-prinsip yang teguh dalam membentuk keluarga yang ideal. Perlu adanya sinergitas antara keluarga dan masyarakat di dalam membina anggota-anggota keluarga yang merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri. Norma-norma sosial perlu dibuat guna mencegah perilaku amoral dan jauh dari nilai-nilai aqidah.

Keluarga harus menjadi tempat ternyaman anak dalam proses tumbuh kembangnya. Pola komunikasi yang ditampilkan adalah dialogis, bukan ceramah, karena dengan pola komunikasi dialogis si anak merasa dilibatkan dan tidak merasa tertekan. Orangtua harus mengajarkan anaknya untuk selalu berpartisipasi dalam setiap obrolan, karena psikologi anak masih labil, orangtua harus pandai-pandai dalam mengatur ritme komunikasi yang baik.

Mendidik anak harus sesuai zamannya, ini dirasa penting karena seting sosial orangtua dengan anak sangat berbeda jauh dan ketika dipaksakan mendidik anak sesuai dengan zaman orantuanya, maka yang muncul adalah rasa tertekan dan tidak merasa nyaman di rumah. Ciptakan suasana harmonis dan humoris serta kekinian yang tetap berpegang teguh pada nilai dan norma agama kepada anak.

Orangtua harus bisa menjadi partner bagi anak-anaknya supaya terjalin ikatan emosional yang sangat kuat dan memiliki rasa tanggung jawab yang penuh antara hak dan kewajiban anak terhadap orangtua serta hak dan kewajiban orangtua kepada anak-anaknya. Peran dan fungsi keluarga yang pertama adalah memberikan edukasi, sikap dan keterampilan terhadap anak-ankanya.

Kedua, pemimpin keluarga yang harus mengatur anggota keluarganya dengan cara yang baik, misalkan ketika orangtua menyuruh anaknya untuk tidak membuang sampah sembarangan, maka orangtua harus menyediakan tempat sampah dan menampilkan contoh akibat ketika membuang sampah sembarangan, dalam proses ini anak diajak untuk mengksplorasi cara berpikirnya.

Ketiga, memberikan contoh tipe keluarga ideal untuk diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Keempat, keluarga bertanggung jawab atas terwujudnya tumbuh kembang anak dalam lingkungan masyarakat.
Apabila dilihat dari segi kewajibannya, orangtua sebagai pemimpin keluarga mempunyai kewajiban untuk mengeinternalisasi sendi-sendi spiritual (keagamaan).

Ajarkan kepada anak bahwa nilai-nilai keagamaan sangat penting untuk kehidupan. Berikan contoh yang baik dalam kehidupan beragama, misalkan ketika sudah memasuki waktu sholat, gunakanlah pendekatan dengan bahasa persuasif (ajakan) bukan menggunakan bahasa untuk menyuruh. Setiap anak diharapkan mau meniru keteladanan yang telah dilakukan orangtuanya.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah keluarga harus menyiapkan orang-orang yang akan dijadikan model untuk dicontohkan kepada anaknya. Orangtua harus mempunyai rencana yang matang bagi masa depan anaknya.

*Penulis adalah mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu (UPB)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita