Kamis, 28/02/2019, 08:18:24
Berebut Suara Milenial
Oleh: Hana Raihanah Mumtazah

Suhu politik menjelang pilpres semakin hari kian memanas, ini bisa dilihat dari beberapa indikator diantaranya masifnya pemberitaan ihwal Pilpres. Hampir setiap hari semua media cetak dan media elektronik tidak pernah ketinggalan untuk menayangkan pernak-pernik pesta demokrasi lima tahunan yaitu pemilihan presiden.

Ada yang menarik pada kontestasi pemilihan umum tahun ini yaitu suara generasi milenial atau pemilih pemula diyakini sangat menentukan dalam pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden dan wakil presiden 2019. Generasi milenila memiliki sifat kreatif, percaya diri, ingin tampil beda dan tidak ingin menjadi obyek politik. Generasi milenial bukan tipe yang mudah diatur dan memiliki prinsip dalam mengekspresikan dirinya.

Karakteristik yang melekat pada generasi milienial adalah intensnya mereka dengan media sosial. Arus informasi yang begitu deras di era digital ini begitu mudah mereka dapatkan dengan hadirnya teknologi dan platform media sosial. Pola komunikasi yang dibangun oleh generasi milenial sangat unik, persuatif dan partisipatif. Semangat yang dimiliki oleh generasi milenial harus diapresiasi karena mereka dapat merangkul berbagai macam latar belakang konstituen, ras dan agama.

Politik inklusif menjadi kunci strategi dan taktik dalam berpolitik, demokrasi dan pemilihan yang menggembirakan. Menurut data KPU jumlah pemilih milenial mencapai 70-80 juta dari sekitar 193 juta pemilih, jumlah ini mencapai 35-40 persen yang memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu. Kelompok milenial harus aktif berpartisipasi dalam proses demokrasi maupun pemilihan yang mendidik dan berkualitas.

Generasi muda adalah kelompok yang dinilai paling peduli terhadap berbagai isu politik (Harris, 2013). Penelitian yang dilakukan EACEA (2013) terhadap generasi muda di tujuh negara Eropa menghasilkan kesimpulan bahwa generasi muda mampu mengemukakan preferensi dan minat mereka terhadap politik. Sebagian dari mereka bahkan lebih aktif dari kebanyakan generasi yang lebih tua. Mereka juga menginginkan agar pandangan mereka lebih bisa didengar. Generasi muda adalah kelompok yang dinilai paling peduli terhadap berbagai isu politik (Harris, 2013).

Dari fakta tersebut, tak heran jika pemilih dari generasi milenial menjadi incaran oleh calon legislatif maupun calon presiden dan calon wakil presiden dalam memenangkan hajatnya. Instrumen yang paling mendasar digunakan oleh kandidat legislatif dan calon presiden serta calon wakil presiden adalah dengan menggunakan sosisal media untuk menggiring opini politik generasi milenial, karena begitu eratnya sosial media dengan generasi milenial. Yang menarik dari pemilihan presiden tahun 2019 ini adalah pemberitaan dan perbincangan capres Jokowi lebih mendominasi dibandingkan pasangannya cawapres K.H Maruf Amin. Sementara di satu sisi lagi, pemberitaan dan perbincangan cawapres Sandiaga Uno lebih mendominasi dibandingkan capres Prabowo Subianto.

Kekuatan media sosial sangat mempengaruhi opini publik dan opini politik serta yang tak kalah penting adalah mempengaruhi pilihan politik kaum milenial. Keberhasilan mendongkraknya pasangan capres dan cawapres yaitu dengan memainkan peran sosial media sebagai alat untuk mengkampanyakan pasangan capres dan cawapres secara elegan dan santun, dengan begitu simpati kaum milenialpun akan muncul dengan sendirinya.

Generasi milenial sangat diperhitungkan pada tahun politik sekarang ini, dan pada akhirnya para politisi menyadari pentingnya peran media sosial sebagai alat untuk memperoleh kemenangan pada pemilu. Disamping itu, generasi milenial diharapkan mampu membawa dinamika politik yang sehat, dinamis serta humanis. Tahun 2019 merupakan momentum politik yang membutuhkan peran generasi milenial yang cakap media, pro aktif, kreatif dan inspiratif.
Langkah-langkah strategis generasi milenial dalam mengisi pesta demokrasi dapat dilakukan dengan beragam cara, misalnya mendorong gerakan anti golput atau kampanye hastag yang positif demi pemilu yang berkualitas dan menjadi pemilih yang berdaulat.

* Penulis adalah mahasiswa jurusan Akuntansi di Universitas Peradaban Bumiayu (UPB).


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita