Minggu, 24/02/2019, 11:49:55
Tri Mulyono: Lanang Bukan Penyair Biasa
Laporan Tim PanturaNews

Dr. Tri Mulyono

PanturaNews (Tegal) - Dari karya-karya Lanang Setiawan, diketahui bahwa dia bukan penyair biasa. Pertama, dia kaya karya. Kedua, dia dekat dengan pejabat. Ketiga, dia jauh dari riuh. Keempat, dia tinggi dengan visi. Semua itu terjadi karena dia bekerja dalam cinta. Membaca karya-karyanya rasanya pantas Lanang Setiawan disebut sebagai Pujangga kota.

Ungkapan tersebut dikatakan Dr. Tri Mulyono, dosen Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Pancasakti Tegal dalam artikelnya berjudul "Dia Bukan Penyair Biasa".

Artikel Tri Mulyono terangkum pada buku biografi "Lanang Setiawan, Penjaga Bahasa dan Pelopor Sastra Tegal" karya Muarif Esage yang saat ini sedang dalam persiapan penerbitan.

Menurut Tri Mulyono, Lanang Setiawan disebut sebagai Pujangga Kota lantaran karya-karyanya mampu menatap masa depan.

"Sebagai seorang seniman, Lanang begitu menjunjung tinggi pesan dan teori yang disampaikan oleh Pujangga besar Jawa masa lalu. Setiap Pujangga atau cendekiawan, yaitu menulis dalam bahasa Jawa, dan terdapat delapan syarat," ujar Pak Tri.

Lebih lanjut dia memaparkan, Ki Ronggowarsito dalam Serat Wirid Hidayat Jati menyebutkan, bahwa untuk menjadi seorang Pujangga, syaratnya ada delapan.

"Yaitu, parama sastra, parama kawi, mardi basa, mardawa lagu, awicara, mandraguna, nawangkridha, dan sambagainya. Dengan memenuhi persayatan itu, seorang sastrawan tidak hanya mampu menyampaikan sesuatu yang telah terjadi, tetapi juga sesuatu yang akan terjadi. Kemampuan seperti itu pernah dimiliki oleh seorang W.S Rendra dan Arswendo Atmowiloti.

Melalui novelnya yang berjudul Perampok (1987) Rendra mengabarkan apa yang akan terjadi pada diri mantan Presiden Soeharto. Dengan noveletnya yang berjudul Opera Pencakar Langit, Arswendo mengabarkan sebuah wacana akan bermunculannya para konglomerat di Indonesia," katanya.

Terkait dengan karya Lanang, Tri Mulyono menyebutkan, bahwa Lanang Setiawan sudah bisa bicara tentang tanda-tanda kejatuhan Walikota Masitha dan kapan saatnya kejatuhannya itu tiba.

"Pada antologi puisi Ndoro Binyak misalnya, Lanang menyuarakan adanya tanda-tanda bakal terjadinya kehancuran pada pemerintahan Kota Tegal yang dimpimpin Walikota Masitha saat itu. Puncak karya dari semua itu adalah sebuah puisi yang fenomenal karena berbicara tentang hari esuk, tentang apa yang bakal terjadi di Kota Tegal, yaitu bakal berakhirnya kekuasaan Sang Walikota,"

Puisi dimaksud, lanjut Tri, yakni puisi yang dimuat dalam buku Ndoro Binyak berjudul "Tarian Jala Sutra".

"Dalam puisi tersebut Lanang menggambarkan situasi naas seorang tokoh pemerintahan di Tegal dengan citraan ngeri. Bagai nonton pementasan sandiwara agung membacanya.

Dalam bait XI dan XII Lanang menulis sebagai berikut://Saklendaban mbak tralap gambar nang mripat/wong wadon setengah kumat/muntah getih kuwat-kuwat/sanalika kahanan gawat/junjungan wisma agung nggletak/usus modol-modol sajenone getihmabrah-mabrah/bengi kuwe ndadak sumebar/warta lelayu/nang kotane enyong kepaten panguwasa angkara//.

Semua itu terjadi pada Malam Selasa, seperti disebutkan pada bait akhir puisi tersebut.//Saiki nyong ngerti/wong wadon sing sawengi dur/nari nang pentas malem Selasa Naas/ora liya wong sing nandang lelara/daning panguwasa//..." paparnya panjang lebar.

Seperti diketahui, kejatuhan Walikota Tegal Masitha terjadi pada hari Selasa, 29 Agustus 2017. Hari Selasa ini persis yang ditulis pada sajak "Tarian Jala Sutra".

"Inilah yang saya sebut mata batin pujangga seorang Lanang Setiawan. Seorang pengarang sejati harus bisa juga melihat dengan terang apa yang bakal terjadi, yang oleh manusia biasa tidak bisa dilihatnya. Dan berita tentang itu bisa dibaca dalam buku karya-karya Lanang Setiawan yang antara lain berjudul Nawu, Tegal Sumbu Pendek, dan Ndoro Binyak," pungkas Tri Mulyono.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita