Minggu, 10/02/2019, 15:15:22
Perayaan Imlek, Susilawan Selalu Rukun Walau Berbeda
LAPORAN JOHARI

Wali kota, Forkompinda, tokoh agama dan tokoh masyarakat saat perayaan Imlek di Gedung Shangrila. (FT: Johari)

PanturaNews (Tegal) – Masyarakat Konghucu Indonesia (Makin)  KotabTegal, menggelar perayaan Imlek di Gedung Shangrila, Jalan Yos Sudarso Kota Tegal, Jawa Tengah, dihadiri Wali Kota Tegal, tokoh masyarakat dan tokoh agama yang tergabung dalam forum komunikasi umat beragama (FKUB), Sabtu 09 Februari 2019 malam. Bertajuk Susilawan selalu rukun, walau berbeda .

Ketua Makin Kota Tegal, Lie Ing Lyong yang biasa disapa Gyong-gyong, mengatakan perayaan Imlek bukan hanya sekadar berpesta pora, tapi dirayakan dengan hikmat. Menurutnya, panitia sengaja mengundang seluruh tokoh lintas agama dalam perayaan imlek 2570 ini, untuk menunjukan bahwa warga Konghucu dan Tionghoa pada umumnya hidup berdampingan dan rukun dengan semua pemeluk agama di Indonesia. “sesuai temanya, Susilawan selalu rukun itu artinya semua tokoh agama harus  rukun, bergandengan tangan tidak gontok-gontokan, tujuannya agar Indonesia ini damai,” tegas Gyong-gyong.

Gyong Gyong berharap, tahun baru imlek 2570 bisa menjadikan momentum untuk hidup lurus dan bisa melatih diri agar menjadi orang sabar, “Baik itu penting, namun lebih penting lagi menjadi orang baik”, tutur Gyong Gyong.

Terkait tahun 2570 Kongzili yang merupakan tahun Babi Tanah, menurutnya bahwa sifat Babi adalah pemalas. Untuk itu ia berharap masyarakat agar harus giat bekerja, jangan malas. “Agar kita sejahtera ya harus bekerja jangan malas-malasan,” ujarynya.

Sementara itu Ushkup Gereja Katholik dari Purwokerto yang sengaja diundang dalam acara tersebut, Mgr. Christophorus Tri Harsono menyampaikan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari beragam agama dan etnis, dan menurutnya ini merupakan anugerah dari Tuhan. Menurut Crhistophorus Tri Harsono kita ciptaan Tuhan yang sama, dan punya hak dan kewajiban yang sama terhadap bangsa dan negara bahkan dunia, dan sudah seharusnya kita bertanggung jawab merawat persatuan dan kesatuan bangsa.

Senada dengan Ushkup Crhistophorus Tri Harsono, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Abuchaer Annur menyampaikan keanekaragaman budaya, suku, agama dan adat istiadat merupakan sebuah kekayaan bangsa, bersatu dalam perbedaan, itulah Indonesia. Menurutnya menjaga persatuan merupakan kewajiban semua warga negara.

Ketua MUI juga menyinggung pelaksanaan Pilpres dan Pileg mendatang, Ia mempersilahlan memilih siapapun pilihan presidennya, namun yang terpenting menurutnya kerukunan harus dijaga, tidak boleh karena berbeda pilihan kemudian berselisih yang berakibat pecahnya persatuan bangsa.

Wali Kota Tegal, M Nursholeh mmengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa ditengah hiruk pikuk kampanye Pemilihan Presiden dan legislatif.

Nursholeh, berharap agar proses kampanye dan pemilu 2019 bisa berjalan dalam suasana amman dan harmonis, jangan sampai kita melakukan hujatan dan membuka aib orang lain di depan umum atau melalui media sosial. Ia mendorong agar dalam membangun demokrasi dilaksanakan dengan saling menghormati.




 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita