Kamis, 07/02/2019, 12:00:43
Tekuni Sastra Tegalan, Apas Khafasi Kebanjiran Mentas
Laporan Tim PanturaNews

Penyair Apas Khafasi

PanturaNews (Tegal) - Setelah menekuni sastra Tegalan, penyair Apas Khafasi laris manis denga kebanjiran undangan pentas, tidak hanya di dunia pendidikan, melainkan di hajatan mantu pun, undangan berdatangan untuk menyuarakan baca puisi Tegalan.

Seperti yang terjadi Senin, 4 Februari 2019 kemarin, dalam hitungan jam ia beraksi di dua tempat membumbungkan pembacaan puisi tegalan. Pada pukul 11.30 wib, ia beraksi gemladag di Aula SMA Negeri I Slawi, Kabupaten Tegal, dalam acara "Belajar dari Biografi Lanang Setiawan".

Tiga jam berkemas-kemas, meluncur ke rumah wartawan dalam acara mantenan putra Dasuki Raswadi di wilayah Kecamatan Aduwerna, Kabupaten Tegal untuk kembali menggulikan puisi Tegalan.

Menurut Apas Khafasi, pada helat acara di SMA Negeri l Slawi, ia membawakan sajak tegalan karya Lanang Setiawan bertajuk "Tangis Njarem".

"Aku suka sajak-sajak mas Lanang Setiawan karena tema yang dituangkan jarang disentuh para penyair. Sajak Tangis Njarem berkisah tentang kesumat seorang pria teraniaya gegara sambung rapetnya dengan wanita setengah tua namun dirongrong hatinya hingga pada galibnya mengalami duka lara. Mendapat pukulan berat seperti itu si aku lirik dalam sajak tersebut, menaruh kesumat. Puncak kesumat nan membadai, si aku lirik mengincar putri dari bekas pacarnya hingga berbadan dua," ucapnya.

Potongan sajak tersebut kira-kira begini"//Kowen kejem, enyong uga luwih kejem/Kowen gawé lelara/walesané enyong luwih njarem/kowen ora duwé pengrasa/rasané enyong tak matikna//Gemiyen kowen calon bojo saiki calon mertuwa/yén kowen durung ngrasakna njaremé ati/piwalesané enyong ngédap-ngédapi/gèn mati, nyong blèh peduli/kowen téga nyong raja téga!//

Dikatakan Apas, sajak diatas memiliki kandungan isi amat dalam. Mengajarkan bahwa ketika seorang berani bermain api kasmaran, hendaknya sungguh-sungguh, bukan sebaliknya main-main.

"Siapa pun, hendaknya jangan pernah bermain-main dengan api cinta. Ketika sudah memutuskan menjalin percintaan, patuhlah pada apa yang sudah diputuskan jika tidak ingin mendapat balasan duka lara jauh lebih menyakitkan," papar Apas.

Ditambahkan, ketika ia beraksi di acara hajatannya Dasuki Raswadi, dengan iringan orjen tunggal, ia membacakan sajak berjudul "Klayu maring Cah Ayu" karya H. Tambari Gustam. Salah satu petikan sajak tersebut, yakni: //Ah...nyawang wulan bunder/tanggal limalas jawa/kena ngobati ati sing kelara-lara/lara jalaran demen sing ora ditrima...//

Lewat sajak tersebut Apas memaparkan, sajak karya Tambari Gustam itu diambil dari buku antologi puisi "Republik Tegalan" yang dieditor Lanang Setiawan. Diterbitkan Balai Bahasa Jawa Tengah.

"Saya menghadiri hajat mantu Om Dasuki, lantaran dia tetangga desa waktu dia masih berdomisili di Desa Bandasari, Kecamatan Dukuhturi. Ya.... seperti biasanya di tiap ada hajatan, dengan suka rela saya membacakan puisi, idep-idep (hitung-hitung) buat kado kondangan bagi tuan rumah yang sedang menggelar hajatan. Hahaha...." ujar Apas di tengah derai cekikikan pasca aksi baca puisinya.

Seperti diketahui, Apas Khafasi adalah seniman multitalen. Ia biasa bermonolog, baca puisi, main drama, dan banyak mengajar teater pada sekolah-sekolah. Belakangan ia terlibat dalam pembuata film produksi Pemkab Tegal.




 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita