Kamis, 07/02/2019, 07:24:45
Pendidikan Tinggi dan Relevansi Pembangunan
Oleh: Wahyu Syaefulloh *

Pendidikan menjadi topik yang sering di perbicangkan di semua kalangan. Pendidikan diyakini menjadi salah satu pendorong pembangunan untuk mempercepat perubahan ke arah yang lebih baik.

Membaca pendidikan yang dipercayai mampu berbicara banyak dalam pembangunan, perlu kiranya pembedahan dan pemahaman secara seksama, karena pendidikan memiliki sistem nilai yang diatur oleh pihak pemangku kekuasaan, memiliki lembaga yang tidak lain untuk membuat kebijakan , dan yang terakhir memiliki tenaga pendidik yang sesuai dengan kriteria pembangunan.

Aspek-aspek pendidikan ini berdampak terhadap mentalitas pelajar baik siswa maupun mahasiswa dilihat dari sisi penalaran, bakat minat, estetika (yang berhubungan dengan budaya) dan spiritualitas. Perkembangan ini seharusnya yang menjadi pendangan penyelenggara pendidikan, tidak lain dalam pendidikan tinggi, karena pendidikan tinggi menjadi puncak legalitas dari proses pendidikan yang melahirkan sarjana-sarjana yang sudah selesei dalam disiplin ilmu.

Perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia memiliki lima kriteria yang menjadi acuan, bahwa pendidikan tinggi mampu membangun mentalitas dan iklim kampus yang lebih baik. Pertama kualitas SDM, seperti jumlah dosen yang menempuh pendidikan S3 dan jumlah guru besar dalam intitusi tersebut. Kedua kualitas kelembagaan yang bertumpuan pada akreditasi intitusi dan program studi, jumlah kerja sama perguruan tinggi dan lainnya. Ketiga kualitas kegiatan mahasiswa yang mencakup kinerja kemahasiswaan. Keempat kualitas penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilihat dari kinerja penelitian dan kinerja pengabdian masyarakat. Kelima kualitas inovasi yang mencakup kinerja inovasi.

Salah satu sumber merangkum ada 10 perguruan tinggi teratas dari ke lima indikator perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia pada tahun 2018 mencatatkan nama Universitas Indonesia (UI) menjadi yang paling unggul di antara kampus lain disusul oleh Institute teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), Institute Pertanian Bogor (IPB), Institute Teknologi Sepuluh November, Universitas Airlangga, Universitas Pajajaran, Universitas Lampung, Universitas Diponegoro, dan Universitas Sebelas Maret, ( Sumber Ranking Universitas terbaik Versi Ayo kuliah.id).

Catatan sejarah dalam buku Soe Hok Gie, pertama kali perguruan tinggi yang didirikan di Indonesia yaitu THS, dengan jumlah 28 mahasiswa , dan hanya enam pribumi yang menjadi mahasiswa, 1924 berdiri pendidikan tinggi di Jakarta yang berfokus pada ahli hukum, tiga tahun kemudian berdiri perguruan tinggi untuk calon-calon dokter.

Dampak dari pemunculan perguruan tinggi ini nampaknya memiliki peranan penting dalam aspek pembanguanan yang akhirnya menyebabkan runtuhnya struktur masyarakat jajahan. Pada 28 Oktober menjadi sejarah pemuda-pemudi mampu meletakan dasar persatuan yang menjadi ilham bagi seluruh rakyat yang berbahasa, berbangsa dan bertanah air satu tanah air Indonesia.

Dengan banyak berdirinya perguruan tinggi di tahun 1968, jumlah mahasiswa mengalami peningkatan mencapai 117.964 mahasiswa, ini tentu merupakan prestasi tersendiri bagi pendidikan tinggi kala itu, dengan jumlah mahasiswa yang tidak terlalu banyak namun mampu menciptakan pemikir-pemikir yang berdampak besar terhadap pembangunan, memunculkan negarawan-negarawan, memunculkan pendidik yang memiliki orientasi pada pengabdian. Jika dikoreksi mungkin secara fasilitas, teknologi bahkan referensi lebih mudah diakses dalam era sekarang dibandingkan dengan tahun tersebut.

Tahun 2017 Kemenristekdikti mencatat sekitar tujuh juta jumlah mahasiswa yang aktif, dari sekitar 3.276 perguruan tinggi di Indonesia. Artinya perkembangan perguruan tinggi patut diapresiasi namun ada hal yang mendasar dalam hal ini. Yaitu pembangunan peserta didik, dengan jumlah di bawah 200.000 mahasiswa perguruan tinggi mampu menciptakan pelopor-pelopor kemerdekaan dan pelopor Intelektualitas.

David Hume mengatakan, bahwa kebiasaan akan membentuk karakter, begitu juga mahasiswa jika mendapatkan lingkungan kuliah yang lebih akademis, demokratis dan humanis akan membentuk mentalitas yang berorientasi pada pembangunan. Seperti kata-kata Buya Hamka bahwa puncak pendidikan adalah spiritualitas, ada nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan. Namun nampaknya “tidak banyak dosen menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan soal kemanusiaan, tetapi lebih banyak dosen menuntut mahasiswa menyeleseikan soal tugas dan ujian".


*Penulis adalah mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu (UPB).

(Tulisan dalam kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya, bukan tanggung jawab Redaksi Panturanews)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita