Minggu, 03/02/2019, 14:09:44
Mempertanyakan Efektifitas Kuliah Kerja Nyata
Oleh: Agsta Aris Afifudin

Apakah pengabdian harus identik dengan sikap volunteristik atau sebagai sesuatu karitatif, atau bahkan merupakan sarana untuk memperoleh nilai bagi kepentingan CCP bagi para dosen di perguruan tinggi? Lalu, bagaimana solusi program pengabdian dari perguruan tinggi apakah waktu selama 40 hari efektif? Bagaimana dengan mahasiswa?

Apakah Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang selalu dikaitkan dengan tugas akhir bagi mahasiswa menjelang ujian terakhir yang menentukan bagi kelulusannya di perguruan tinggi atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) dapat disebut sebagai bentuk pengabdian masyarakat yang ideal bagi perguruan tinggi?

Pendidikan tinggi adalah salah satu pilar pembaharuan yang diharapkan dapat membawa perubahan bangsa di masa mendatang. Para lulusan memiliki potensi akademik yang memberikan dasar-dasar pengetahuan yang dapat dikembangkan.

Ideologi asal usul pilar tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat, yang diharapkan tidak terpisah dari masyarakat dalam merealisasi ide, gagasan dan pengetahuan yang direalisasikan kepada masyarakat agar bisa menjadi komunitas produktif, bisa mengatasi permasalahan, dan meningkatkan kesejahteraan. Ada keharusan mengabdi kepada masyarakat yang disejajarkan dengan dua dharma lainnya, yakni pendidikan dan penelitian.

Maju atau mundurnya suatu bangsa, dapat dilihat dari partisipasi dan kualitas pendidikan warganya. Menurut data Kemendikbud tahun 2016/2017 tepatnya di provisinsi jawa tengah, jumlah siswa putus sekolah jenjang Sekolah Dasar (SD) angka statistik menunjukan 2.205 siswa, jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3.673 siswa, jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) 2.618 siswa. Ditambah dengan keadaan jumlah Mahasiswa terdaftar di Indonesia 6.924.511 jiwa. Menurut data yang dirilis oleh www.worldometers.info, hal ini menunjukkan bahwa peranan perguruan tinggi akan menjadi tolakukur yang strategis bagi masyarakatnya. Perguruan tinggi diharapkan tidak saja sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi sekaligus sebagai sarana pelatihan dan pematangan sumber daya manusia yang akan siap memasuki teknostruktur (keadaan) masyarakat industrial dimasa depan.

Apa yang menjadi landasan program pengabdian pada masyarakat?

Sebagai upaya menghilangkan isolasi dunia akademik dari persoalan nyata masyarakat dalam rangka pengembangan teori-teori ilmiah yang bersumber pada realitas faktual. Menjadikan “masyarakat” sebagai “laboratorium” tempat menimba kenyataan masyarakat melalui penelitian yang kontinu, mendalam dan dikelola secara profesional dan bertanggung jawab.

Memahami kenyataan masyarakat untuk kegunaan praktis pengembangan masyarakat di masa depan.

Pengabdian ilmu dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini aktivitas “pembelajaran” masyarakat untuk menjadi peka terhadap berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapinya. Makin banyak kegiatan yang dapat menyadarkan masyarakat terhadap masalah-masalah yang dihadapinya diharapkan dapat membekali masyarakat dengan kemampuan dalam memecahkan persoalan dan menjawab tantangan.

Saling mengambil manfaat, dalam arti perguruan tinggi pun harus belajar dari masyarakat tentang realitas hidup yang serba sederhana, bersahaja, dan dalam banyak hal tidak sinkron dengan apa saja yang diidealisasikan orang dan diteorisasikan oleh para ilmuan sosial sekalipun. Dengan cara ini argonsi ilmiah dapat direduksi. Menurut M. Rusli Karim dalam bukunya “perguruan tinggi dan masyarakat”.

Namun bagaimana jika mahasiswa tidak bisa dijadikan sebagai tolakukur bagi masyarakat. Apakah KKN hanya sebatas ritual yang mengelola program-program yang sifatnya formalitas saja? Seperti memberikan rute jalan, sarasehan, pelatihan membuat kerajinan tangan dan mengadakan bimbel untuk siswa SD dan SMP ataupun kepada masyarakatnya.

Apakah, setelah program KKN selesai tidak ada kegiatan berkelanjutan yang pada akhirnya tidak ada follow up lebih dari mahasiswa agar program tersebut bisa dilakukan sendiri oleh masyarakatnya. Karena pada dasarnya kegiatan yang dilakukan hanya program jangka pendek, tidak ada program jangka panjang.

Bertitik tolak dari asumsi bahwa KKN merupakan manifestasi dari pengabdian pada masyarakat yang dilakukan oleh perguruan tinggi terkandung maksud bahwa KKN tidak dapat dilepaskan dari dua “bumi” tempat ia berpijak Perguruan Tinggi, yakni kampus dan masyarakat.

Kampus sebagai komunitas ilmiah yang eksklusif harus menegaskan citra sebagai masyarakat yang menaruh keprihatinan bagi pengembangan ilmu, bukan semata-mata memberikan pelayanan pendidikan dan pengajarakan bagi para mahasiswa. Pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak kemasyarakatan dapat dipandang sebagai sintesis atau titik temu antara misi ideal dengan dedikasinya kepada masyarakat.

Permasalahan penting yang muncul dilapangan tentang penelitian posisi KKN dalam perkembangan dinamika universitas dan tuntutan masyarakat, dengan memiliki tujuan penting yaitu; mendapatkan informasi tentang efektivitas program KKN dalam kaitannya dengan implementasi kurikulum Universitas, memperoleh informasi macam-macam hambatan yang muncul dalam penyelenggaran program KKN secara terpadu, dan mendapatkan gambaran tentang persepsi para stakeholders tentang implementasi program KKN yang diselenggarakan oleh Universitas. Dikutip dari “www.media.neliti.com”.

Jadi, program KKN memang tidak diarahkan pada peningkatan kemampuan mengajar karena keberadaanya dan tujuannya semula tidak berkaitan langsung dengan para calon guru. Namun demikian, secara umum banyak unsur manfaat yang diperoleh dari KKN yang berkaitan dengan pembentukan sifat-sifat yang mampu meningkatkan para lulusan dalam mengajar.

Beberapa kemampuan tersebut diantaranya kemampuan dalam berhadapan dengan masyarakat, meningkatkan jiwa kepemimpinan dan membantu memcahkan permasalahan masyarakat, serta meningkatkan kepedulian dan kemampuan mahasiswa mempelajari dan mengatasi permasalahan keluarga dan penduduk melalui penyusunan rencana dan pendampingan pada pelaksanakan program yang inovatif dan kreatif melalui penerapan ilmu dan teknologi bersama masyarakat dan lembaga pedesaan lainnya.

(Agsta Aris Afifudin adalah Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita